Saya duduk disisi kapal menuju Kota Lewoleba, Lembata NTT, iya disisi yang tidak terkena cahaya matahari langsung. Duduk disalah satu badan kapal yang memang biasa digunakan penumpang ketika kursi yang disediakan sudah penuh. Tepat disamping nahkoda, sambil menselonjorkan kaki dan bermodalkan majalah saku terbitan bulan lalu.
Dia hanya bermodal sekeranjang cemilan yang mungkin tidak kau temukan di Circle K atau Seven Eleven…biskuit gabin dan sekelasnya, botol air mineral buatan lokal, dan beberapa bungkus manisan katanya. Lebih mirip buah anggur berwarna ungu, tapi bisa jadi cemilan masa kecil saya yg saya petik dipohon tetangga, orang Makassar menyebutnya “coppeng” tdk tahu apa bahasa ilmiahnya.
Dia seorang anak berumur kisaran 8 tahun. Hari ini hari sekolah, dia tidak seperti anak sekolahan. Entah putus sekolah karena biaya, masalah lazim di negara ini. Saya mulai menebak-nebak sosoknya. Dia anak yang baik. Rambutnya yang rapih setelah sisiran dengan bantuan minyak kelapa hasil mandi pagi di sungai tadi.
Yang aku renungkan kala ini, banyak anak-anak yg berada dalam keberuntungan masih mampu bersekolah. Dibiayai dari penghasilan orang tua, disekolahkan di institusi ternama. Apakah masih pantas seseorang anak sekolahan mengeluh hanya karena tidak diberikan kesempatan oleh orangtua walau hanya untuk mengisi weekend dengan menonton di bioskop atau sekadar kongkow-kongkow di cafe…yang kesemuanya lebih mirip budaya borju.
Cukup atau tidaknya biaya kehidupan itu, dari cara kita menyikapi tentang hidup dengan bijak. Tulisan ini, dari sebuah keluhan hati saya ketika SMS itu berdatangan…kau mungkin belum bisa mengerti maksud saya.
dari Kapal Kayu Sinar Lembata III di Selat Solor
- Publish from hamBerry, powered by Telkom Indonesia -
July 19, 2010












