post Category: Travelogue — ilhamhimawan @ 12:57 am — post Comments (0)

Kami menemukan penginapan disekitaran Jln. Komber Pol. Duryat. Oke, untuk mengisi waktu luang, mari kita berkunjung ke Museum & Café House of Sampoerna (HoS) di Jl. Rajawali di area Taman Sampoerna. Menuju lokasi ini bisa ditempuh sekitar 12 menit dari Plaza Tunjungan. Saya memilih taxi Orenz sebagai kendaraan kesana. Tertarik karena pelayanannya & warnanya yang ciamik.

Melalui Tugu Pahlawan, Jembatan Merah dan memasuki Jalan Rajawali hingga menuju Taman Sampoerna. Daerah ini merupakan “Surabaya Lama”. Dengan jarak 500 m menuju Museum, kami disuguhkan dinding bangunan tua di bagian pinggir jalan bermotif lukisan tembok, Saya belum bisa mengatakan ini graffity. Bangunan ini dibangun sejak jaman Kolonial Belanja di tahun 1862. Awalnya merupakan panti asuhan putra, kemudian dibeli oleh Liem Seeng Tee. Beliau lah pendiri perusahaan Sampoerna. Tibalah kami dihalaman HoS yang berada tepat di depan kantor Telkom Kebalen.

Kompleks bangunan HoS terdiri dari auditorium sentral yang luas yang kini menjadi museum. Di bagian sayap timur dimanfaatkan sebagai café dan galeri seni. Bangunan sayap bagian barat tetap dimanfaatkan sebagai rumah kediaman keluarga.

Saya bukanlah penikmat rokok, tapi ketika memasuki ruangan museum ini saya jadi nikmat menghirup bau tembakau. Sampoerna bertumpu pada usaha berbahan baku tembakau & cengkeh yang merupakan produsen rokok kretek tertua di Indonesia sejak tahun 1913 & memiliki pangsa pasar terbesar ke-5 di dunia.

Nah, begitu memasuki bangunan museum di lantai satu ini, terdapat 3 bagian ruangan. Ruangan pertama adalah museum yang memamerkan jenis-jenis tembakau & cengkeh yang dikemas dalam kotak besar mirip karung terbuat dari anyaman bambu, sepeda ontel, ditengah ruangan diisi dengan kolam ikan koi yang melingkari pot bunga, foto pendiri perusahaan Sampoerna dan juga kliping artikel yang pernah dimuat di Star Weekly tanggal 23 Agustus 1956 atau dua minggu setelah wafatnya Liem Seeng Tee.

Sebelum memasuki bagian kedua di ruangan museum lantai 1 ini, lihatlah logo sampoerna yang terpajang di bagian atas pintu hall. Bertuliskan “Anggarda Paramita” yang berarti “Menuju Kesempurnaan” dengan Sembilan bintang yang melingkupi bagian atasnya, lupa maksud ke-sembilan bintang.

Dibagian kedua ini dipamerkan lukisan para pendiri Sampoerna, proses pembuatan rokok yang dikemas dalam lukisan dan foto jaman dahulu hingga modern saat ini.

Saya menyukai lukisan bagian ini, sangat menarik perhatian saya.

Ada pula deretan kotak korek api yang dipamerkan dalam lemari kaca. Kotak korek api yang beraneka warna ini dikumpulkan oleh seorang anak laki-laki Belanda yang pernah tinggal di Indonesia sebelum tahun 1945. Ia pulang ke Belanda bersama keluarganya setelah Indonesia merdeka. Koleksi ini sangat langka dan bernilai karena hamper semua barang hancur dimasa perang.

Nah, sekarang dibagian ketiga ruangan museum dilantai 1. Kita disuguhkan dengan adanya tumpukan alat penelitian, alat ukur berupa timbangan, dll yang di simpan dalam lemari tua & dipajang sebuah meja.

Masihkah kau mengingat foto seperti gambar dibawah ini. Saya sendiri teringat, ketika suatu malam di Kota Makassar. Kala itu, tidaklah begitu ramai seperti sekarang, depan rumahku masih berupa sawah yang sekarang jadi Mall Panakukkang. Saya masih duduk dibangku SD kelas 2. Di beberapa malam seusai makan bersama dirumah. Bapakku mengajak saya berjalan di sekitaran lingkungan rumah untuk mengunjungi pedagang kaki lima seperti ini. Walaupun, bapakku hanya sekadar membeli beberapa batang rokok sambil ngobrol dengan kenalannya disana. Saya sendiri hanya bisa memandang bahwa masa itu indah. Saya hanya tertarik dibelikan cemilan berupa pisang ambon yang dijual 100 rupiah perbuahnya yang digantung dibagian depan warung. Beda yah dengan sekarang. Tapi masa itu indah untuk dikenang.

Ada ratusan ribu outlet semi permanen di pinggir jalan yang ada di Indonesia. Mereka menjual rokok dan berbagai macam produk lainnya dari permen, sampai sandal jepit. Rombongan seperti ini juga menjual rokoknya secara batangan. Oh iya, kedai kecil ini selain sebagai tempat berjualan, kadang pula ada yang menjadikannya tempat tinggal.

Ada pula dipamerkan motor bekas ini. Motor ini bermerek Jawa 250 - Pérak, model tahun 1946, dua langkah, satu silinder, dan 248 cc buatan ex-Cekoslowakia. Perusahaan yang memproduksinya adalah Jawa, didirikan oleh seorang insiyur Ceko bernama Frantisek Janeéek. Ia membeli lisensi untuk memproduksi sepeda motor dari sebuah perusahaan Jerman bernama Wanderer dan dari perpaduan huruf awal nama-nama mereka. JAneéek WAnderer.

Nama modelnya “Pérak” (atau “Per” dalam Bahasa Indonesia). Diberikan nama tersebut karena suspensi belakangnya yang menggunakan per. Model ini memenangkan Medali Emas di Paris Motor Salon tahun 1946.

post Category: Travelogue — ilhamhimawan @ 12:35 am — post Comments (0)

Upssss…salah ambil gelas berisi frozen cappuccino miliknya Dedy *pura-pura lupa, tapi serius kali ini lupa, percaya deh* (doh)

Kami mengobrol dalam satu sofa, duduk berdampingan, membuat sebuah artikel sederhana bukan bagian dari postingan blog jalan-jalan ini. Saking keasikannya, eh salah ambil segelas flozen cappuccino itu. Memang sebelumnya saya sudah bilang “Ded…hampir habis nih” punyaku maksudnya. Atau mungkin karena Solaria @ Ngurah Rai Denpasar rame gila…padat sekali disiang itu. Sepertinya kami harus berpindah tempat deh, sudah 2 jam mangkal disini, & konsentrasi kami terganggu.

Tidak biasanya saya hanya dihadapkan dengan berseliwerannya tampang turis yang bergimbal, Denpasar pun begitu. Entah saya yang salah lihat karena bayangan tayangan film avatar semalam sehingga terbawa kedunia nyata ataukah baru saja ada konsen P.O.D (Payable On Death). Serius mereka selalu ada dan lewat dihadapan saya. Seperti kebetulan begitu.

Saya mulai pusing & keringat dingin. Saya yakin ini efek kurang tidur semalam. Efeknya, malas ngobrol, duduk tidak sempurna lagi…inilah keadaanku.

*upload fotonya menyusul, ada yang kacau*

Sepanjang perjalanan saya tertidur nyenyak hingga pendaratan yang tidak biasanya dari Maskapai Merpati NA. Terjadi gesekan ban dengan landasan pacu  yang cukup mengguncang, tidak biasanya kami rasakan, karena MNA lah menjadi maskapai favorit didaerah timur. Apalagi seorang pramugari menginformasikan suhu di Kota Surabaya 33 derajat C, namun diluar cuaca sedang hujan disebagian kota. Wah informasi yang mana  ini? Cuaca 33 derajat C terjawab ketika saya mulai berbaur di bagian luar Bandara, berjubel warga yang hilir mudik. Cuaca memang memanas, karena semua sedang memancarkan kalor, tapi cuaca di luar ruangan tetap metal *mendung total*

post Category: Intermezo, The Moment, Travelogue — ilhamhimawan @ 11:17 am — post Comments (0)

Bolehkan saya bercerita….*silahkan*

Sama seperti kesan-kesan orang yang melakukan perjalanan hidup yang panjang. Sangatlah bisa dikatakan bahagia ketika menginjakkan kaki di suatu kota tertentu yang belum kita datangi sebelumnya. Inilah rute penjalanan panjang itu, ketika saya diberikan kesempatan menuju Kota Balikpapan.

Weekend saya terabaikan dengan rentetan pekerjaan. Tapi syukurlah berjalan dengan aman, walaupun mengharuskan saya berada di kantor sampai jam 1.30 WITA, tapi-nya lagi saya belum sempat packing, cucian masih menggantung dimana-mana, masih lembab pula. Misi saya menyelesaikan dulu semua packing-an sebelum tidur, khawatir telat bangun karena check-in di jam 6 pagi.

Oh yah, sebelum tidur pikiran ini melayang membayangkan keberadaan saya di Kota itu, pakaian saya, kegiatan yang saya lakukan. Inilah yang sering terlintas di benak, ketika akan berkunjung ke suatu lokasi. Menurut filosofi Bugis bahwa “Sebelum kita berada di suatu tempat, harusnya kita sudah membayangkan  bahwa kita akan berada disana”. Maksudnya membayangkan kita akan tiba di lokasi tersebut dalam keadaan baik-baik saja & diberi keselamatan dalam perjalanan.

Terdengar ketukan pintu keras dipagi buta dari ‘buah tangan’ seorang Ibu yang juga tetangga kami.

Ham, bangun….katanya mau dibangunkan” teriak Ibu itu. Segala mimpi yang telah terajut sirna sudah.

Cuaca Maumere pagi ini cerah, laiknya keceriaan kami. Saya menggunakan kata Kami, Saya tidak sendirian. Ada Dedy sebagai pendamping *halahhh*. Penerbangan kami yang pertama adalah Maumere menuju Bandara Tambolaka di Waikabubak, Sumba Barat di Pulau Sumba, masih digugusan kepulauan di NTT.

Kami memanfaatkan perjalanan pagi ini sebagai bagian istirahat untuk tidur, kami kurang tidur semalam. Lebih parah sih Dedy, tidurnya jam 3 karena alasan yang menurut saya tidak penting, karena nonton.

Merpati Nusantara Airlines ketika keberangkatan kedua dari Waikabubak menuju Denpasar, jumlah penumpang berjubel, banyak turis, *Ada event kah?*. Bahkan banyak juga yang berambut gimbal yang dikepang satu. Sesaat memperhatikan turis bergimbal itu, saya sama Dedy saling tatapan. “Ded, banyak Omaticaya yah atau vokalisnya POD”. *Omaticaya adalah warga disebuah klan dari film Avatar yang semalam juga kami tonton sambil stanby bekerja, & P.O.D (Payable on Dead) adalah group band rock*

*Tampang sumringah, mendapatkan gratisan akses internet*

Tujuan kami dipesawat awalnya tidur, Dedy sih yang dah tidur sebelumnya telah terkantuk-kantuk berlebihan. Saya berusaha tidur saja, tapi selalu terabaikan dengan pramugari yang hilir mudik. Tutup mata saja. Terdengar obrolan menarik dibangku tepat dibelakang kami. Seorang pemuda bertato yang tidak mau diragukan keaslian tato-nya yang memang tampak seperti temporary bersama Seorang Ibu berkaos merah Fotografer.Net. Sepanjang penerbangan menuju Denpasar, mereka banyak ngobrol tentang keyakinan, kapal pesiar, tanggung jawab seorang anak terhadap adik bungsunya. Kalau saya menceritakannya terlalu panjang. Lah…kok saya nguping? Tanpa nguping pun terdengar kok.

Cukup sekian dulu, karena kami lapar. Bolehlah kami nge-brunch di Solaria…sampai ke cerita berikutnya. :D

post Category: The Moment, Travelogue, Viva Flores — ilhamhimawan @ 11:33 pm — post Comments (7)

Sambungan  dari postingan Ikutan ‘berbagi’ ala Radio Gomezone Ende [part 2]

*eh…ada tawaran tumpangan gratis menuju Maumere. Saya menyebutnya ini tiba-tiba. Waktu yang dibutuhkan menempuh jarak dari Ende - Maumere kurang lebih 4 jam. Tumpangan kali ini ekslusif dan nyaman full music…Postingan ini sempat terhambat hingga tanggal ini & saya terserang bakteri Staphylococcus aureus yang menghadiahkan saya bisul cantik. Cantik posisinya, disela-sela lubang sandal saya, jadi masih bisa beralaskan kaki. Tapi yang namanya bisul, betapa sialnya saya. Mari baca cerita lanjutannya…*

Jam tangan saya sudah menunjukkan pukul 17.00 lebih, kami pun meninggalkan Panti Asuhan Naungan Kasih dan menuju ke Panti Asuhan & juga Pondok Pesantren Wali Songo yang berlokasi di kaki Gunung Meja, Ende.

Jalan berbatu, tidak rata, berpasir, tanpa aspal, berdebu. Itulah rute penjalanan kami menuju PA/Ponpes Wali Songo.

Ketika memasuki jalur halaman, melintas dihadapan mobil yang kami tumpangi, seorang perempuan berjilbab & bercadar biru tua yang tampak lusuh sambil membawa gerobak berisi batu memasuki halaman tanpa beralaskan kaki. Saya dan Tuteh tiba-tiba tidak bisa berkata apa-apa seketika itu, padahal sepanjang perjalanan kami bercengkerama tentang daerah tersebut. Panti Asuhan sekaligus Pondok Pesantren ini dibangun di atas tanah hasil kerukan setengah bagian bukit, dengan swadaya, mereka membangun Pondok Pesantren tersebut, bahkan karena sulitnya akses ke lokasi membuat mobil-mobil tangki yang berisi air bersih enggan ‘menyapa’ lokasi ini. Lokasi ini mendapatkan air dari membeli air dari mobil tangki air bersih. Sekarang sumber air masih ada yang jauh…

(more…)

post Category: The Moment, Travelogue, Viva Flores — ilhamhimawan @ 10:27 am — post Comments (4)

Sambungan  dari postingan Ikutan ‘berbagi’ ala Radio Gomezone Ende [part 1]

Inilah cerita hari-H-nya. Siang setelah kami mengantar telur itu, tibalah di lokasi GZ. Teman-teman banyak yang sudah berkumpul, kami pun mengangkut barang sumbangan yang berupa beberapa karung beras, pakaian bekas, buku bekas, mie instan, dll. Berkali-kali Tuteh selalu memperingatkan saya untuk tidak mengangkut apapun ke mobil box. Yang namanya partisipan yah…ikutanlah mengangkut beras, walaupun Tuteh tetap tidak setuju…Tuteh alasannya apa?

Tepat jam 2 saya pulang dulu ganti kostum, sekalian maksi…oh yah dress code-nya merah, gaun merah atau kaos merah yah?. Terpilihlah kaos merah yang tidak biasanya saya bawa ketika Perjalanan dinas, Kaos merah bertuliskan “Speak loud, blog now” kaos hadiah British Council Blog Competition.

Kami pun berkumpul di Studio 2 GZ ketika jam menunjukkan pukul 16.00 WITA. Hadirlah teman-teman broadcaster-nya sekalian member FC ada Tuteh, Shinta, Milano, Etchon, Oscar, Pedro, dll dan pendengar setia GZ ber-kostum merah menyilaukan di sore hari.  Saya  pun memutuskan menjadi bagian dokumentasi saja…

Tujuan pertama kami adalah Panti Asuhan Anak “Naungan Kasih” St. Elizabeth Jl. Eltari, Ende. Kemudian menuju ke Panti Asuhan/Pondok Pesantren Wali Songo di Kaki Gunung Meja, Ende.

Kami menempuh hanya 5 menit menuju lokasi PA “Naungan Kasih” dari Jl. Sudirman 28 Ende (Studio GZ), tidak sulit dijangkau.

Kami disambut sesosok bocah perempuan, wajah tanpa senyuman, berkepang dua walau rambutnya ikal, pakaian tampak lusuh, hanya bisa diam menatap kami sambil sesekali dia menggigit jari-jemarinya. Pedro, teman kami. Sangat terharu ketika berpapasan dengan anak ini, bahkan sempat mengabadikan foto bersamanya. Dialah salah seorang anak yatim-piatu penghuni Panti Asuhan Naungan Kasih.

(more…)

post Category: The Moment, Viva Flores — ilhamhimawan @ 9:15 am — post Comments (2)

*terakhir nge-post di blog ini 57 hari yang lalu* too long…di-posting 6 hari setelah hari-H. Sepulang dari penelusuran setiap meter jalur Kota Ende ke Kota Bajawa, Flores. Petualangan memandangi setiap lekuk tebing & jembatan terasa laiknya Taman Safari, banyak hewan peliharaan yang berkeliaran bebas & membuat saya kadang tertawa. Saya pun terserang bakteri Stafilococcus Aureus yang meng’hadiah’kan saya sebuah bisul cantik…aghhhh

Tak kusangka, tak kuduga, tak kukira. Senin itu saya diperintahkan ke Ende untuk sebuah tugas, tidak biasanya persiapanku sangat cepat & saya anggap matang, siap diangkat dari oven…this is it…Perjalanan menuju Ende yang tidak terduga. Sms dari Tuteh berdesakan masuk di Inbox…oke…oke…ada event di Ende bersama Radio Gomezone Ende di 99.7 FM, singkatnya disebut GZ (walau kadang saya bisa aksesnya di 99.6 FM hihihihi *geser neng…*). Event-nya dilaksanakan tanggal 13 Februari kemarin, diberi label “Berbagi Kasih bersama Radio Gomezone”.

Yang namanya kegiatan sosial, saya sangat senang ikut terlibat. Dua hari sebelum acara, Saya diundang ke Studio GZ. Teman-teman banyak berkumpul, bersenda gurau sambil tangannya tak henti membungkus kado, dan coklat. Tetap seru, walau dapat pemadam bergilir dan hanya dibantu dari sinar senter. *Sabar…bulan depan tidak ada lagi PEMADAMAN BERGILIR dari PLN, yang ada MENYALA BERGILIR -silahkan ketawa, seperlunya *

Hari-H, berarti hari libur. Saya berkunjung ke rumah Tuteh, dengan bermodal Nastar & roti secukupnya untuk modal nge-brunch. Berkaos hitam bertuliskan “Indonesia, know it, love it” , bercelana pendek, berjalan kaki karena jarak rumahnya masih sangat dekat. Jika ketemu Tuteh, kami banyak bahan cerita dan Saya juga dikenalankan dengan sesosok guru SMA yang nge-kost di rumah Tuteh, biasa disapa Tuteh dengan panggilan Guru. Bercerita banyak hal tentang pendidikan di sekolahnya, bahkan beliau diancam dipukuli oleh seorang murid yang sangat ‘bebal’ dan benci dengan guru ini. Murid jaman sekarang sangat belagu, tak tahu sopan santun.

Siang itu, jam 1 tepatnya. Saya ajak Tuteh & Rolan (pria yang juga nge-kost di Rumahnya) berjalan kaki menuju studio GZ yang sangat dekat, tapi saya bebani Tuteh dengan beberapa rak telur (lol), padahal saya sudah memohon, biar saya yang bawa telur itu, tetap ditolak. Entah doa apa yang dilantunkannnya dalam hati, begitu keluar lorong ada kenalannya seorang sopir ‘taxi’ yang mengangkut kami ke GZ…ohhh beruntung sekali Tuteh.

*kok…postingan ini jadi semakin panjang…tak kusadari, dibagi saja deh agar tidak bosan membacanya yah*

post Category: Change — ilhamhimawan @ 10:15 pm — post Comments (9)

Oke, tanggal 31 Januari 2010 akan datang, Komunitas Blogger Flobamora-NTT a.k.a Flobamora Community genap menjalani kisahnya selama 1 tahun. Kalau diibaratkan anak bayi, yah masih belajar merangkak dan berbicara dimasa pertumbuhan ini. Begitu pun kami, masih proses perkembangan. Bedanya komunitas kami, karena merangkum blogger se-Nusa Tenggara Timur, tidak berpusat di satu kota, tapi merangkul setiap blogger di pelosok NTT. Luar biasa yah :D

Mohon maaf sebelumnya, selain hibernasi di blog ini juga terkena pula imbas ke website Flobamora Community. Harap maklum kawan. Saya berharap satu tahun ini, ada perubahan. Saya berharap website Flobamora Communty dapat nuansa bening…ihhh nuansa baru dengan ku-upgrade-nya CMS Joomla kami. Belakangan kami terserang spam baik di comment maupun email. Membasminya membutuhkan waktu yang konsisten, tapi saya tidak memilikinya. Untuk benar-benar merasakan perubahannya, nantikan di acara ultah FC yah :D

Langkah pertama, mari kita migrasi dari Joomla versi 1.0.x ke versi 1.5.x

Saya tidak langsung mengubah website utama Flobamora Community. BAHAYA…kalau salah langkah bisa celaka 12. Saran saya, cuci tanganmu, tarik nafas, gunakan sistem lokal. Utak-atik dulu di localhost, kalau sempurna baru deh database-nya di upload ke website utama

Saya hanya bahas cara migrasinya loh… (more…)

post Category: kompetisi — ilhamhimawan @ 10:33 pm — post Comments (3)

Tulisan ini, diikut sertakan dalam Holcim : Healthy House Challenge Category : Rumah yang Sehat dan Nyaman. Mohon dukungannya yah, dengan ikutan voting atau berkomentar. Terimakasih loh!

Pulang berlibur di masa hari raya tahun sebelumnya, saya merasa kurang nyaman dengan kondisi rumah orangtua saya. Rumah kami adalah peninggalan budaya. Kami masih menempati rumah bernuasa adat Bugis di jaman modern yang letaknya di perkotaan. Kami ingin terus mempertahankan nuansa budaya kami. Rumah kami rumah panggung yang sedikit dimodifikasi. Kalau dahulu, banyak kalangan memanfaatkan ruangan bagian bawah rumah panggung sebagai tempat peristirahatan, kandang, ruangan menenun kain, dsb.

Rumah kami ini mulai disesuaikan dengan modernisasi, namun tidak mengurangi esensi eksotisme budaya. Ruangan bawah kami manfaatkan sebagai ruangan dengan lantai dasar berbahan batu. Namun kendalanya adalah tampak sempit dengan ketinggian plafon sekitar 2.5 meter. Ventilasi yang cukup, belum memberikan kami cukup kenyamanan, ruangan terasa panas sehingga masih diperlukan penggunaan kipas angin serta pencahayaan kurang optimal pada penggunaan lampu SL  dengan fitting tempel di plafon, seperti rumah-rumah pada umumnya.

Apalah gunanya bagi saya, ketika memiliki pengetahuan tentang sesuatu yang baik, jika tidak dimanfaatkan untuk kehidupan sehari-hari

Ketika dihadapkan pada kondisi rumah dengan tinggi ruangan terkesan rendah. Penggunaan lampu jenis fitting tempel pada atap akan memberikan kesan ruangan sempit.

Suatu ketika saya berjalan-jalan disebuah pusat perbelanjaan alat rumah tangga. Saya tertarik memanfaatkan jenis lampu langit-langit (ceiling lamp) yang tampak rata dengan atap bangunan. Dimensi yang digunakan melebar sehingga mampu memberikan pencahayan maksimal dengan bentuknya yang bulat dan rata dengan kondisi plafon. Instalasinya pun sangat mudah. Dari segi harga terjangkau dengan dukungan kualitas terbaik dari design yang efisien tempat.

Sejak saya menggunakan Lampu langit-langit (ceiling lamp) tersebut. Rumah kami terkesan tinggi dengan nuansa baru disaat hari raya, penggunaan arus catuan lampu semakin hemat, jenis lampu bisa bertahan lebih lama dan semakin menguatkan kesan eksotis rumah adat, serta semakin membuat kami betah sekeluarga berkumpul diruangan tersebut. Rumah adat kami pun terasa semakin nyaman.

post Category: The Moment — ilhamhimawan @ 4:02 pm — post Comments (4)

post Category: Intermezo — ilhamhimawan @ 11:14 pm — post Comments (0)

Saya telah menontonnya, 10 September 2009 di HBO Signature. FIlm ini diadaptasi dari buku karangan Jon Krakauer yang berjudul sama, dibintangi oleh Emile Hirsch sebagai McCandless . Film ini menceritakan mengenai kisah nyata dari Chris McCandless dibesarkan di Annandale, Virginia. Setelah lulus pada tahun 1990 dari Emory University, McCandless berhenti berkomunikasi dengan keluarganya, menyerahkan tabungannya sekitar $ 25,000 untuk Oxfam dan mulai melakukan perjalanan, kemudian meninggalkan mobilnya dan membakar semua uang di dompet. Christ melakukan perjalanannya demi sebuah kebebasan dari hiruk pikuk keluarga yang tidak harmonis. Christ mengganti namanya dengan Alexander Supertramp untuk menghilangkan jejaknya.


Ia melakukan perjalanan dan bermimpi untuk menuju Alaska. Ia telah merasakan kebebasan itu, dan yakin bahwa inilah sebuah kebagiaan. Chris meninggal di usia 24 tahun diperjalanannya lebih dari 100 hari, disebuah bus rongsok di daerah padang gurun Alaska, akibat kesalahan makan makanan kentang liar yang beracun yang berakibat penyempitan pembuluh vena dan berefek mual serta gangguan pencernaan. Disinilah akhir hidupnya mencari kebahagiaannya sendiri.

Happiness is real when shared