Metroseksual vs Uberseksual
Pria metroseksual menempatkan penampilan diri sebagai hal terpenting bagi mereka. Sementara bagi pria uberseksual, kualitas dan integritas diri berada pada prioritas terpenting. Mampupkah uberseksual menghadang laju metroseksual yang telanjur mewabah? Siang itu, seorang pria dengan tas kerja Alfred Dunhill di tangan tampak tergesa memasuki sebuah salon kecantikan di bilangan Senayan. Sekitar satu jam berselang, ia meninggalkan tempat itu setelah creambath, facial, manicure, dan pedicure. Pria itu tampak lebih segar di balik Kenzo dan Hugo Boss yang membungkus tubuhnya. Aroma parfum Bvlgari merebak dari tubuhnya.Pemandangan semacam itu bukanlah sebuah hal yang asing. Pergi ke salon untuk perawatan tubuh dan memoles penampilan diri dengan aksesori bermerek tak hanya meniadi milik kaum Hawa.Pria yang dulunya identik dengan penampilan yang berkesan urakan dan tak mampu mengatur diri, perlahan mulai terkikis.Dalam beberapa tahun belakangan, para pria di dunia mulai berpikir dan bertindak dengan lebih menonjolkan aspek feminin pada dirinya. Tren yang dikenal dengan istilah metroseksual ini bagai gelombang pasang yang melanda dunia. Di berbagai belahan dunia, muncul para pria pesolek ini.Seiring dengan itu, perhatian kaum Hawa terhadap pria seperti ini pun meningkat. Dan, seperti bensin tersulut api, kaum Adam pun seperti berlomba-lomba menjadi pria metroseksual. Penampilan telah menjadi suatu hal yang penting dan mutlak bagi pria metroseksual. Tak peduli uang yang harus mereka keluarkan.Seperti wanita umumnya, pria metroseksual menjadikan penampilan yang prima sebagai obsesi mereka. Tanpa rasa risih, mereka masuk ke salon; memasang kawat gigi, sampai operasi plastik agar penampilannya terlihat prima.Meski terkesan kewanita-wanitaan, pria meteroseksual bukanlah pria homoseksual. Mereka adalah para pria sejati yang memiliki keluarga yang bahagia. Mereka sebenarnya adalah para pria “narsistik”, yang mengagumi dirinya sendiri. Mereka pun akan sangat tersanjung jika lingkungan sosialnya membicarakan hal-hal yang baik tentang dirinya.Hasil survei Euro RSCG, yang mencoba memantau perilaku pria di Inggris dan Amerika untuk penampilan fisik mereka, menunjukkan bahwa 89 persen responden mengaku harus merias dan mempercantik penampilan diri adalah hal penting bagi mereka. Sejumlah 49 persen di antaranya tak keberatan jika laki-laki harus melakukan facial dan pedicure/manicure.Salah satu sebab munculnya tren ini adalah realitas bahwa semakin banyak wanita yang bekerja. Munculnya para wanita yang bekerja membuat prig harus bisa tampil seimbang dengan para wanita yang secara alami tampil rapi dan terawat. Dan pilihannya adalah mengikuti pola perawatan tubuh dan wajah seperti yang dilakukan oleh para wanita.
KEUNGGULAN adalah segalanya. Kalimat itu menjadi semacam simbol baru di kalangan pria saat ini. Pada awal tahun ini, muncul semacam kesadaran di kalangan pria bahwa ukuran penilaian tak hanya melulu soal penampilan fisik. Dan kesadaran ini adalah sebuah kesadaran kolektif, sehingga menjadi sebuah tren baru dalam kehidupan kaum Adam. Penampilan fisik hanya menjadi prioritas kesekian bagi kelompok kaum Adam ini. Bagi mereka, hal terpenting adalah keunggulan kualitas. Marian Salzman, penulis buku The Future Man, menilai saat ini kaum pria lebih memilih untuk tampil atraktif, dinamis, dan antusias. “Mereka percaya diri, maskulin, bergaya, dan sangat teguh pendirian pada kualitas yang bisa dikompromikan dalam setiap bidang kehidupan,” ujarnya, menjelaskan.Gaya pria seperti ini dianggap akan menjadi tren baru setelah era metroseksual yang mendominasi gaya pria beberapa tahun terakhir. Uberseksual adalah nama yang diberikan untuk tren baru ini. Uber diambil dari kosa kata jerman yang beracti “di atas” atau “superior”. Sedangkan sexus berarti “gender”. Pria uberseksual adalah pria yang menggunakan aspek positif maskulinitas, seperti kepercayaan diri, kepemimpinan, dan kepedulian terhadap orang lain dalam kehidupannya. Pria uberseksual sangat peduli pada nilai dan prinsip hidup. Pria jenis ini lebih memilih untuk memperkaya ilmu dan wawasannya di sela-sela waktu kosong yang ia miliki. Meski baru mulai dikenal pada awal tahun ini, diyakini tren ini akan segera menggantikan metroseksual. Munculnya tren ini tentunya memberi dampak yang tidak kecil di beberapa aspek kehidupan.Dampak yang paling jelas adalah semakin ketatnya persaingan di bidang pemasaran produk pria yang kehilangan sebagian market-nya. Pihak produsen tentu tak ingin kehilangan pasar yang telah cukup mapan dengan tren metroseksual. Pasar tentu akan terus dipengaruhi agar produk pria tetap bisa laku dijual. Perang opini tentu tak lama lagi akan ramai. Pembentukan opini publik akan sangat menentukan apakah uberseksual mampu menghalangi laju metroseksual.Salah satu faktor yang cukup menentukan adalah para wanita. Bagaimanapun, pandangan para wanita turut menentukan pilihan pria. Harus diakui, sejak munculnya tren metroseksual, wanita cenderung memilih pria jenis ini. Opini wanita terhadap uberseksual, meski kecil, akan menentukan eksistensi tren baru ini.Namun, faktor dominan yang akan menentukan tetap pada pria. Menarik untuk melihat apakah pria lebih memilih untuk menghabiskan waktunya dengan berdandan di salon dan mengikuti gaya rambut terkini, ataukah membaca buku dan terlibat dalam kegiatan sosial. Anda pilih yang mana?
Perbedaan UBERSEKSUAL dan METROSEKSUAL
Gairah
- Uberseksual lebih bergairah pada masalah bisnis, politik dan dunia
- Metroseksual lebih bergairah pada masalah diri sendiri serta penamplan dan gaya rambut mereka.
Gender
- Uberseksual sangat menghormati wanita, tapi memilih pria sebagai sahabat terbaiknya.
- Metroseksual selalu ingin didekati wanita dan berada di antara mereka.
Sumber inspirasi
- Uberseksual mengikuti pengalaman dan sebab musabab serta alasan-alasan.
- Metroseksual terinspirasi oleh berbagai produk dan penampilan model-model terkenal.
Prioritas
- Uberseksual sangat peduli pada masalah di lingkungan sekitarnya.
- Metroseksual peduli pada masalah berapa kalori yang diserapnya setiap hari.
Tingkat emosi
- Uberseksual secara emosional selalu terbuka dan tersedia.
- Metroseksual secara emosi kosong.
Uang
- Uberseksual menginvestasikan uangnya untuk strategi bisnis selanjutnya.
- Metroseksual menginvestasikan uang untuk perawatan kulitnya.
Obsesi
- Uberseksual terobsesi pada kualitas dan integritas.
- Metroseksual terobesesi pada masalah dandanannya.
(Sumber: Koran Tempo)
Dua Ikon Lelaki itu duduk di bawah poster Gone with the Wind, di salah satu gerai kosmetik. Sang istri duduk di sebalahnya. Mereka berbicara dan tersenyum di depan kamera yang menyoroti. Mereka menjajakan produk perawatan wajah. Dan orang beramai-ramai antre untuk membeli produk tersebut karena pria yang duduk sambil tersenyum itu adalah David Beckham. Pemandangan di Tokyo Beauty Centre Jepang tersebut memang membuat orang geleng-geleng kepala. Agak sulit dimengerti bahwa pria kelahiran 2 Mei 1975 itu dibayar US$ 2,5 juta hanya untuk tersenyum di depan kamera. tapi itulah yang terjadi. Beckham, pesebakbola Inggris itu, telah menjadi ikon metroseksual dunia. Beckham digemari tak hanya karena umpan-umpan akuratnya di lapangan, tapi juga karena gaya rambut, pakaian yang dikenakan, parfum yang membaui tubuhnya, hingga mobil yang dipakainya kemana-mana. Inilah yang membuat dia digilai oleh sebagian besar wanita di dunia. Lain Beckham, lain pula Paul Hewson. Vokalis grup musik U2 yang lebih dikenal dengan nama Bono ini boleh dikatakan telah menjadi ikon pria uberseksual. Bono menghabiskan waktunya untuk kegiatan memerangi kemiskinan dan kelaparan di Afrika. Aktivitas yang membuatnya sering masuk nominasi penerima Nobel Perdamaian. Meski memiliki jadwal tur yang padat bersama U2, Bono tak lupa mengampanyekan perdamaian dunia. Ia juga menjadi salah seorang yagn berada di balik gerakan penghapusan utang negara-negara miskin. Seperti Beckham, Bono pun melakukannya sebagai upaya untuk mendapatkan pengakuan atas eksistensi diri. Keduanya juga menjadi contoh bagi pria di dunia. Dan sekali lagi pertanyaan itu datang menggelitik, pilih mana: Beckham atau Bono? Menjadi pria metroseksual atau uberseksual?
Sumber: Majalah Manly















Saya mah memilih jadi Pria Moderat, artinya ga saklek harus memilih salah satunya….
Lagian saya juga bingung kalo saya lebih cocok ke arah mana….
Gimana kalo karakternya Uberseksual tapi penampilannya Metroseksual….kan keren tuh…luar keren dalam keren….
Saya mah memilih jadi Pria Moderat, artinya ga saklek harus memilih salah satunya….
Lagian saya juga bingung kalo saya lebih cocok ke arah mana….
Gimana kalo karakternya Uberseksual tapi penampilannya Metroseksual….kan keren tuh…luar keren dalam keren….