post Category: Change — ilhamhimawan @ 9:31 pm — post

Hari ini aku sangat sibuk, pindahan rumah kontrakan, sedangkan saya hanya dibantu seorang rekan kantor…saat sedang packing, dirumah lama aku kedatangan Pak Joko yang dulunya saya kenal dari rekan kantor saya, beliau pelatih Tenis saya yang pertama, dan juga dosen fakultas ekonomi di salah satu universitas di Maumere, dari namanya sudah ketahuan asli Jawa…Kebetulan Kita sedang bertukar antenna TV cable, mumpung pindahan rumah sekalian saja ikut dibongkar…

Disela-sela kesibukan itu, beliau bersenda gurau, sambil membubuhi nasihat…

Joko        : “Ham, kok kerja sendiri?, teman-teman kamu mana?”

Aku         : “Gak pak, saya ditemani om Ben, oh mereka perjalanan dinas”

Joko        : “Terus yang lain mana?”

Aku         : “Oh, inikan hari libur pak, saya yakin mereka beristirahat, saya ndak berani ganggu, lagian kalau dipaksakan, entar jadi tidak ikhlas”

Joko        : “Tapi Ham, kalau namanya teman, keadaan apapun itu, Kita harus membantu”

Aku         : “Yah tidak apa-apalah pak, toh berdua saja, sudah cukup”

Sambil terus bersenda gurau, waktu semakin senja, Kami telah selesai mengangkut barang-barang, sekalian saja saya menawarkan bantuan angkut antenna tsb, dengan mobil kantor yang saya pinjam.

Sesampai di rumah baru, tiba-tiba hujan turun, saya sarankan beliau duduk sejenak diteras rumah, sampai hujan agak reda, duduk di kursi rotan, tidak lupa saya membuat beberapa cangkir teh, ditemani sekaleng biskuit yang saya beli tadi siang. Lahirlah obrolah hangat dihujan malam itu…kurang lebih seperti ini….

Joko        : “Ham, ingat gak waktu antar Pak Okta kebandara kemarin, banyak kan yang merasa sedih, begitu Ham, kalau kita punya banyak kenalan, kamu harus belajar dari beliau, cara bersosialisasi”

Joko        : “Kita itu mahluk sosial, sangat membutuhkan bantuan orang lain, jika ada apa-apa yang menimpamu, siapa lagi yang bisa membatu selain tetangga orang terdekat”

Aku         : “Oohhh…iya pak” (sambil terus memperhatikan penjelasan beliau)

Joko        : “Kamu itu masih muda, harus punya banyak kenalan, jangan terlalu milih-milih teman, tua-muda sama saja, tapi saya yakin kamu bisa”

Aku         : “Kok tahu pak, aku bisa…”

Joko        : “Iyalah…aku ini sudah tua, banyak pengalaman yang sudah saya jalani, banyak karakter orang yang saya kenali, belajar tentang kehidupan itu, tidak mudah, tidak didapatkan di bangku sekolah, apalagi di buku-buku, dan Saya tahu karakter kamu, dan latihan saja saya sudah tahu, saya membandingkan dengan teman-temanmu juga”

Hujan masih berlangsung, tapi obrolan kami semakin menghangatkan suasana, obrolan kami berlanjut dengan membandingkan karakter orang yang kita kenali bersama, menceritakan pengalaman jikalau kita punya banyak teman. Positif negative dalam bergaul, bagaimana cara memimpin orang lain, bagaimana cara bisa sukses di pekerjaan, sampai semua bahasan mengenai investasi…wah obrolan yang saya senangi…

Salah satu hal yang beliau ceritakan mengenai, bagaimana beliau berkenalan dengan preman…disimak yah…sepenggal kisah Pak Joko…

Aku         : “Pak, bukannya kalau kita bergaul di lingkungan preman, kita juga akan lahir di masyarakat seperti seorang preman? Betul gak pak?”

Joko        : “Ham, manusia itu punya nalar, yang berhubungan dengan kepercayaan yang mereka yakini, ada hati nurani, Jika kamu dalam keluarga agama baik, begitu di lingkungan preman kamu diajak ke hal yang negative, saya yakin hati nurani kamu terjadi konflik, karena menurut kepercayaan kamu, hal tersebut tidak pantas, Apakah kamu akan mengikut ke jalan negative juga?”

Aku         : “Iya…yah|

Joko        : “Ham, preman itu juga memiliki perasaan, ingat pesanku, jika kamu berbuat baik, berarti kamu berbuat baik untuk dirimu, saya ada kisah perkenalan dengan preman”

Aku         : “Cerita dunk pak…kayaknya seru!”

Joko        : “Waktu kuliah dulu, saya sedang mengendarai motor dijalanan, eh tiba-tiba dari arah lain ada pencopet yang dikejar-kejar warga, nah liat seperti itu, saya jadi kasihan juga, makanya saya tolong dia, dengan meminjamkan dia motorku, terus suruh lari pakai motor itu saja”

Aku         : “Tapi pak, gak takut motornya tidak dikembalikan”

Joko        : “Saya tidak memikirkan hal itu, yang jelas saya menolong orang dulu…Seminggu kemudian pencopet itu mengembalikan motor, dengan berterimakasih serta menyerahkan uang…Saya bilang sama dia…tidak semua bantuan harus dibalas dengan uang…Si pencopet bilang : sambil berterimakasih, dia bilang uang itu sebagai pengganti ojek selama motor dipinjam…tapi saya tidak terima uangnya, asal motor saya masih baik, akhirnya saya berteman, dan saya dikenalkan dengan ‘bos’ mereka…Bosnya itu kaya, anak kuliahan kedokteran di Malang”

Aku         : “Lah…dia kan sudah kaya, ngapain jadi ‘bos’ pencopet?”

Joko        : “Dia bilang, mereka itu harus ada yang mengkoordinir, dengan ilmunya, dia mengajar pencopet itu berbagi area operasi, jika ada yang melanggar di denda, jadi tidak mencopet secara bodoh”

Aku         : “Wew…busyet…terus pak…”

Joko        : “Nah, suatu saat teman kuliah saya kehilangan dompet, padahal untuk bayar uang ujian, jika gak ikut ujian bisa mengulang setahun lagi…Dia sampai nangis…Makanya saya minta bantuan ke kenalan saya, si bos pencopet”…Saya bilang…”Bos, saya bisa minta tolong kah? Saya ada teman kuliah yang hilang dompet”…tidak lama kemudian, Si pencopet menelpon temannya, menanyakan siapa yang operasi di daerah teman saya kecopetan…Setelah menelpon, dia bilang, biar besok malam, dompetnya diantarkan.

“Besoknya, diantar juga dompetnya, terus ditanya…benar ini dompet temanmu?…dalam hati saya sudah tahu, tapi saya bilang…”Saya coba tanyakan dia dulu”…Si Pencopet ngmong lagi “Kalau betul, silahkan diambil, tapi kalau keliru, kembalikan lagi”…Saya berterimakasih ke mereka…

Akhirnya hujan reda, waktu menunjukkan pukul 20.30 WITA, beliau berpesan lagi, carilah teman-temanmu sebanyak mungkin, karena kemungkinan mereka yang menunjang karirmu, mempengaruhi jalan hidupmu, jangan pernah mengharapkan imbalan apapun dari pertemanan, apalagi sebuah materi…bersosialisasi secara ikhlas…dan…beliau berpamitan pulang, dan saya mengantarkannya, walau rumah kami hanya berbeda beberapa blok Perumnas…Katanya, kapan-kapan lagi kita melanjutkan ceritanya, karena tidak cukup hanya beberapa jam…

Itulah salah satu motivator yang saya kenali di kehidupan saya…Semoga ini membantu saya bisa sukses, dan bisa semakin ‘fight’ tinggal di daerah ini…Its TIME 2 CHANGE….

1 person has left a comment

#1

wew…crita nya seru
cm…sbner nya tindakan pak joko membantu si pencopet, tndakan terpuji ga ya…???? jwb sendiri deh dlm hati…

stiap orang psti pnya cara masing2 untuk bersosialisasi..
tp kadang kita plih2 temen cm krna apa yg cm bisa di lihat dngn mta..padahal hati nya ga sllu sm dngn tampilan luar ssorang loh..

kartika wrote on July 20, 2009 - 1:12 pm
You can leave a response, or trackback from your own site.

Write Your Comment

Comment Guidelines: Basic XHTML is allowed (a href, strong, em, code). All line breaks and paragraphs will be generated automatically.

You should have a name, right? 
Your email address, I promised I won't tell it to anyone. 
If you have a web site or blog, you can type the URL right here. 
This is where you type your comments. 
Remember my information for the next time I visit.
 
CommentLuv Enabled