Ada atau tiada rasa dalam jiwa
Rindu akan memanggilMu, karena setiap jiwa telah bersumpah setia hanyalah kepadaMu
Bila Cinta ada di dalam jiwa, wangi bunga dunia tanpa nestapa, segala yang dirasa hanyalah Dia
Hati kan memuja hanya padaNya
Ketika cinta memanggil… gemetar tubuhku
Ketika cinta memanggil… hangatnya nafasku
Ketika cinta memanggil… menderu sang embun
Ketika cinta memanggil ….
Rindu…Rindu…Kamu… memanggil-manggil namaMu….
(“Ketika Cinta” by OPICK, Album : Cahaya Cinta)
Lagu ini pertama kali terdengar begitu melihat salah satu iklan di tivi, bersamaan itu saya sedang menonton “Ensiklopedia Islam” tentang Indahnya Sholat di MetroTV. Program kegemaran saya di Ramadhan ini selain “Tafsir Al-Mishbah” & “Sambil Buka Yuk”.
Sebelumnya saya bersyukur, bahwa masih dipertemukan dengan Ramadhan yang mulia ini, jauh hari sebelumnya rasa rindu ini hadir, entah karena banyak dosa yang menggeluti, ingin segera bermohon ampun, ingin segera memperbaiki diri lebih baik dari sebelumnya.
Bulan Ramadhan ini terasa berbeda. Sahur tahun lalu lebih banyak di rumah kontrakan. 3 tahun Ramadhan tidak bisa berpuasa pertama dengan keluarga di Makassar. Tahun ini Sahur dan berbuka puasa di kantin sederhana di dekat kantor. Rumah ketujuh. Ku anggap sebagai rumah sendiri. Setiap pukul 14.30 kurang lebih, telepon rumah, ponsel, dan jam weker berdering bersamaan. Sahutan dari telepon adalah panggilan Sahur Si Dedy. Teman yang setia bangunkan ku disaat sahur. *Insya Allah dapat pahala Ded* . Sejam berikut, biasanya Saya menunda sejenak, memusatkan semua konsentrasi untuk bangkit, berbusana koko dengan setelan kadang sarung atau celana panjang, membuka pagar dengan perlahan. Saya berharap tidak membuat gaduh di kompleks rumahku, dan mengendarai motor melalui dini hari yang dingin, menyusuri jalan raya, menuju rumah ketujuh itu. Jalan masih terlihat sepi, ketika sahur kelar dan menuju Masjid. Hanya penyapu jalan yang tampak. Tampak samar, sulit dikenali, lampu jalan memang menerangi seadanya. Yang Saya khawatirkan jika berpapasan dengan manusia yang sedang mabuk, tapi Alhamdulillah sampai saat ini masih aman.
Suasana berbuka puasa pun terasa nikmat, walau tidak bisa mendengar langsung suara adzan di rumah ketujuh itu, jarak udara lumayan jauh dengan Masjid. Jumlah Masjid bisa dihitung tangan, juga jarak yang relatif jauh antara satu dengan lainnya. Sebuah gadget dengan aplikasi Pocket Islam yang setia adzan setiap memasuki waktu sholat. Berkumpul bersama teman-teman, laiknya keluarga kecil sambil menikmati takjil, sesekali bersenda gurau, diikuti Sholat berjamaah, dan berangkat Sholat Tarawih.
Thankyou Allah atas semua nikmat dan karunia yang tidak dapat ternilai ini, mudahkanlah Aku dalam menjalankan Ibadah di bulan Ramadhan, diberikan kesehatan dan keselamatan sehingga Ibadah bisa lebih baik dari sebelumnya.Amin
September 5, 2008








Sorry, no comments yet.