03 January 2009 ~ 1 Comment

Si “red-eared” yang telah hilang

Sudah sering kukatakan, klo saya tidak menyempatkan ke lapangan main tenis dalam seminggunya, serasa ada yang kurang dalam kehidupan di minggu depannya…*halah*…Mumpung cuaca cerah, kuputuskan ke lapangan sore ini, padahal tadi bingung banget antara memilih Katie Holmes atau Angelina Jolie…heyy bukankah keduanya istri dari aktor tampan…tenang mereka itu mantanku…mantan idola…bukankah saya juga tampan….ahh sudahlah. Intinya saya bingung milih ke lapangan atau ke laptop dengan mainan baru si CAD (-bukan sejenis kucing)…kuputuskan main tenis sore ini, malamnya bermain CAD.

Kecewa sungguh kecewa, ketika laju motor yang kukemudi dari 80 km/jam tiba-tiba berubah dan berjalan perlahan hanya 10 km/jam. Lebih kecewa lagi ketika melihat lapangan yang sunyi senyap…15 menit kemudian perlahan satu persatu batang hidung yang muncul…*kalo main sama batang hidung, gimana caranya yah, hueheuheu*…Yah seorang bapak yang belum kukenal sebelumnya. Berlalu 30 menit pemanasan, tiba-tiba ada alert, bahwa disamping lapangan ada acara Natalan bersama. Demi toleransi beragama, kamipun memutuskan berhenti bermain dan pulang dengan lapang dada…mhmm pantesan sunyi.

Sesampai dirumah, masih ada waktu untuk santai sore. Baiknya ku sapu saja halaman rumah yang sudah dipenuhi dengan daun-daun yang berguguran, bukankah inilah waktu yang tepat sejak awal liburan kemarin saya harus nangkring di kantor “24 hours”. Kupilih sapu yang paling gagah sore itu, dengan tangkai yang patah setengah, namun masih handal diajak bertarung dengan tanah.

Angin berhembus kencang, pikiranku pun melayang seperti kehilangan arah…daunpun berguguran satu per satu. Sapu yang sedari tadi kugenggam, enggan kulepaskan ditangan kanan. Kuambil satu tangkai pohon yang patah berserakan diantara dedaunan gugur. Terasa masih lembab karena hujan kemarin.

Ada yang tiba-tiba membuatku tersentak, sebuah gundukan mirip batu yang menutupi lubang tanah. Benda itu tidak mirip batu yang biasa kutemui. Batu kali berwarna agak keabu-abuan, atau bahkan ada yang hijau peacock. Benda itu tidak berkilauan, tapi berwarna hijau. Sayapun enggan langsung menyentuhnya, sapu ditangan kanan kugunakan untuk menyingkirkan dedaunan yang masih tersisa menutupi benda itu. Karena masih penasaran, tangkai pohon kumanfaatkan untuk menyentuh benda itu dan sekali-kali mengetuknya. Benda itu bergerak!!!…Apa yah?…Semakin kusentuh, benda itupun merespon…dan kuhentikan sejenak.

Terlintas dipikiran saya sebuah benda yang lama kukenal, hal itu kukenali mirip dengan teksturnya…kucoba mengingat lagi…bahkan menerawang 10 bulan yang lalu…Ahahhhah yah saya yakin, itu adalah si Emo…Kuambil benda bergerak tadi untuk menyelamatkannya dari lubang tanah, dan memastikan bahwa benar benda itu adalah Emo si kura-kura bungsu yang kumiliki 2 tahun lalu, dan telang hilang 10 bulan lalu ketika musim hujan.

Alangkah bahagianya saya, akhirnya si Emo kembali lagi. Kasihan Emo, selama 10 bulan tidak makan makanan yang bergizi. Terlihat tidak terawat, dicangkangnya berlumut, dan beberapa bagian terkelupas. Saya pun semakin tahu bahwa kura-kura air jenis red-eared slider alias Trachemys scripta ini bisa bertahan lama tanpa asupan makanan. Tapi saya tidak tega, kubersihkan dari kotoran tanah, merendamnya dan memberinya makan. Akhirnya apa yang hilang selama ini telah kutemukan kembali, dan rekannya si Imo yang melahap makanan sendirian selama 10 bulan terakhir sudah semakin buntal, wadahnya pun sudah tidak muat menampung beban tubuhnya yang besar dan berat.

Terjawablah sudah pencarianku selama ini. Si Emo & Imo bisa bertemu lagi. duh senangnya!!!

Kisah pertama kali Emo bersaudara menjadi bagian hidupku, sudah pernah kuceritakan di postingan ini …Awalnya hewan ini berjumlah 3 ekor, tapi mati satu karena sewaktu kami cuti, rumah kami tak berpenghuni, dan hewan-hewan ini ditinggal sendiri, dan tak ada yang memberinya makan selama 3 minggu. Alhasil, kura-kura terkecil waktu itu tidak bisa bertahan hidup… Padahal waktu itu mereka semuanya kecil sekali, hanya sebesar…mirip lingkaran yang terbentuk antara ujung jari telunjuk dan ujung ibu jari orang dewasa. Setelah 2,1 tahun lebih sejak November 2006 sudah sebesar mangkuk sup….wahh….wahh….

 

One Response to “Si “red-eared” yang telah hilang”

  1. oombomber 11 March 2010 at 5:16 pm Permalink

    wooh…
    ini nih si emo sama imo yg diceritain waktu ujian semester kemaren…
    sehat2..
    daped salam dari genbu,goris,gajah..
    (3 ekor res ku)..
    kekekeke

    hihihi…emo & imo telah meninggalkanku…hilang, kabur entah kemana hiks…hiks


Leave a Reply

CommentLuv badge
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes