Cerita ini sudah lama berlalu, tapi maknanya mungkin masih berbekas di kehidupanku…lebih asik ditemani lagu Father & Son dari Yusuf Islam feat. Ronan Keating…Selamat membaca.
Pukul 6 Sore Waktu Ende, Saya sudah selesai dengan agenda kerjaanku…yang Alhamdulillah bisa dikatakan aman.
Kota Ende malam ini gerah. Apa karena sedari pagi aku memang belum mandi….hehehe sebuah aib…maklum seharian bergulat dengan mesin…mesin…dan mesin…mhmm santai sajalah. Kuputuskan malam ini akan kopdar kecil-kecilan bersama tuteh, tapi mencoba terlebih dahulu mencari penginapan…Satu jam ku mengelilingi kota, tak ada satupun hotel yang bisa menampung…kesal juga awalnya, mungkin ini efek karena belum mandi yah!!!…di Ende dikatakan hotel tapi sebenarnya lebih mirip losmen, atau baiknya disebut kelas melati, yang mematok harga mulai standar seharga Rp. 150 ribu sampai VIP 250 ribu…Ketika mendapati satu hotel yang tersedia kamar kosong, tapi sayang ketiban pemadaman bergilir PLN…sekitaran jam 9 malam baru bisa ON, menurut keterangan resepsionisnya. Sayapun menyerah, dan kuputuskan pulang saja ke Maumere malam ini, dengan menempuh jarak sekitar 3 sampai 4 jam.
Sebelumnya, kukabari tuteh sebagai pembatalan kopdar kali ini…padahal tuteh dah beritikad baik mengajak saya menginap di rumahnya, atau sekadar menumpang mandi…tapi akupun terpaksa menolaknya karena khawatir merepotkan. Saya bersama seorang rekan kerja mencari makan disisa-sisa keletihan kami. Terlihat diwajah bapak yang menemaniku malam itu terlihat letih, wajahnya dipenuhi debu, tapi beliau masih senang tersenyum disela candaan kami…beliaupun sekaligus sebagai pengemudi handal malam ini.
Setelah menikmati seporsi soto-sate dan segelas jeruk dingin, kamipun berangkat untuk meninggalkan kota. Sebuah toko roti yang tertata apik dan modern di pinggiran jalan Kelimutu-Ende menggoda kami untuk singgah dan membeli beberapa bungkus roti yang tersisa…Saya membeli sekantong kresek roti sebagai cemilan dijalan, Bapak yang menemanikupun tidak mau kalah, walau kecewa karena persediaan roti sudah tinggal sedikit, tapi terlihat dari wajahnya ada setangkup harapan bahagia.

Ilham : “Wah borong nih Pak, oleh-oleh yah buat anak Bpk?”
Rekan Ilham : “Iya, Pak” dan beliaupun tersenyum.
Ilham : “Pasti, anaknya akan sangat senang, jika dapat oleh-oleh itu”
memang, Saya pun pernah merasakan betapa bahagianya sebagai seorang anak, jika menunggu seharian seorang bapak yang pulang dari aktivitasnya, dan membawakan oleh-oleh sekadarnya. Entah itu berupa bungkus roti yang mungkin sudah tidak sesegar ketika diangkat dari oven, beberapa buah kue jajanan pasar, jagung rebus, atau sekotak manisan.
Sebagian kita beranggap ini hal sepele, tapi efek psikologis bagi seorang anak sangat berarti. Rasa sayang seorang ayah akan tercurah….dan anakpun merasa memiliki sahabat terbaik…*~sayang anak…sayang anak….
*foto : http://rafaeltrisno.files.wordpress.com
March 12, 2009








Horaayy..there are 2 comment(s) for me so far ;)
pak salam kenal pak,saya mau tanya sedikit mengenai toko roti yg anda sebutkan itu apakah itu toko roti top/breadtop?jalan kelimutu no 34?
kalo betul itu punya saya lho,terimakasih sudah disebut hahahahahaha ge er saya
@Diana : Hai Ibu Diana, salam kenal…iya benar, toko roti Top Bakery yah?..Wah juragan roti mampir disini…hihihi jadi malu…diskon roti dong!, oh iya kapan2 saya berkunjung…saya akan menyapa Anda. Thanks yah moga sukses bisnisnya.