08 March 2010 ~ 0 Comments

Dari Maumere ke Denpasar

Bolehkan saya bercerita….*silahkan*

Sama seperti kesan-kesan orang yang melakukan perjalanan hidup yang panjang. Sangatlah bisa dikatakan bahagia ketika menginjakkan kaki di suatu kota tertentu yang belum kita datangi sebelumnya. Inilah rute penjalanan panjang itu, ketika saya diberikan kesempatan menuju Kota Balikpapan.

Weekend saya terabaikan dengan rentetan pekerjaan. Tapi syukurlah berjalan dengan aman, walaupun mengharuskan saya berada di kantor sampai jam 1.30 WITA, tapi-nya lagi saya belum sempat packing, cucian masih menggantung dimana-mana, masih lembab pula. Misi saya menyelesaikan dulu semua packing-an sebelum tidur, khawatir telat bangun karena check-in di jam 6 pagi.

Oh yah, sebelum tidur pikiran ini melayang membayangkan keberadaan saya di Kota itu, pakaian saya, kegiatan yang saya lakukan. Inilah yang sering terlintas di benak, ketika akan berkunjung ke suatu lokasi. Menurut filosofi Bugis bahwa “Sebelum kita berada di suatu tempat, harusnya kita sudah membayangkan  bahwa kita akan berada disana”. Maksudnya membayangkan kita akan tiba di lokasi tersebut dalam keadaan baik-baik saja & diberi keselamatan dalam perjalanan.

Terdengar ketukan pintu keras dipagi buta dari ‘buah tangan’ seorang Ibu yang juga tetangga kami.

Ham, bangun….katanya mau dibangunkan” teriak Ibu itu. Segala mimpi yang telah terajut sirna sudah.

Cuaca Maumere pagi ini cerah, laiknya keceriaan kami. Saya menggunakan kata Kami, Saya tidak sendirian. Ada Dedy sebagai pendamping *halahhh*. Penerbangan kami yang pertama adalah Maumere menuju Bandara Tambolaka di Waikabubak, Sumba Barat di Pulau Sumba, masih digugusan kepulauan di NTT.

Kami memanfaatkan perjalanan pagi ini sebagai bagian istirahat untuk tidur, kami kurang tidur semalam. Lebih parah sih Dedy, tidurnya jam 3 karena alasan yang menurut saya tidak penting, karena nonton.

Merpati Nusantara Airlines ketika keberangkatan kedua dari Waikabubak menuju Denpasar, jumlah penumpang berjubel, banyak turis, *Ada event kah?*. Bahkan banyak juga yang berambut gimbal yang dikepang satu. Sesaat memperhatikan turis bergimbal itu, saya sama Dedy saling tatapan. “Ded, banyak Omaticaya yah atau vokalisnya POD”. *Omaticaya adalah warga disebuah klan dari film Avatar yang semalam juga kami tonton sambil stanby bekerja, & P.O.D (Payable on Dead) adalah group band rock*

*Tampang sumringah, mendapatkan gratisan akses internet*

Tujuan kami dipesawat awalnya tidur, Dedy sih yang dah tidur sebelumnya telah terkantuk-kantuk berlebihan. Saya berusaha tidur saja, tapi selalu terabaikan dengan pramugari yang hilir mudik. Tutup mata saja. Terdengar obrolan menarik dibangku tepat dibelakang kami. Seorang pemuda bertato yang tidak mau diragukan keaslian tato-nya yang memang tampak seperti temporary bersama Seorang Ibu berkaos merah Fotografer.Net. Sepanjang penerbangan menuju Denpasar, mereka banyak ngobrol tentang keyakinan, kapal pesiar, tanggung jawab seorang anak terhadap adik bungsunya. Kalau saya menceritakannya terlalu panjang. Lah…kok saya nguping? Tanpa nguping pun terdengar kok.

Cukup sekian dulu, karena kami lapar. Bolehlah kami nge-brunch di Solaria…sampai ke cerita berikutnya. :D

 

Leave a Reply

CommentLuv badge
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes