Museum & Café House of Sampoerna, Surabaya
Kami menemukan penginapan disekitaran Jln. Komber Pol. Duryat. Oke, untuk mengisi waktu luang, mari kita berkunjung ke Museum & Café House of Sampoerna (HoS) di Jl. Rajawali di area Taman Sampoerna. Menuju lokasi ini bisa ditempuh sekitar 12 menit dari Plaza Tunjungan. Saya memilih taxi Orenz sebagai kendaraan kesana. Tertarik karena pelayanannya & warnanya yang ciamik.

Melalui Tugu Pahlawan, Jembatan Merah dan memasuki Jalan Rajawali hingga menuju Taman Sampoerna. Daerah ini merupakan “Surabaya Lama”. Dengan jarak 500 m menuju Museum, kami disuguhkan dinding bangunan tua di bagian pinggir jalan bermotif lukisan tembok, Saya belum bisa mengatakan ini graffity. Bangunan ini dibangun sejak jaman Kolonial Belanja di tahun 1862. Awalnya merupakan panti asuhan putra, kemudian dibeli oleh Liem Seeng Tee. Beliau lah pendiri perusahaan Sampoerna. Tibalah kami dihalaman HoS yang berada tepat di depan kantor Telkom Kebalen.

Kompleks bangunan HoS terdiri dari auditorium sentral yang luas yang kini menjadi museum. Di bagian sayap timur dimanfaatkan sebagai café dan galeri seni. Bangunan sayap bagian barat tetap dimanfaatkan sebagai rumah kediaman keluarga.

Saya bukanlah penikmat rokok, tapi ketika memasuki ruangan museum ini saya jadi nikmat menghirup bau tembakau. Sampoerna bertumpu pada usaha berbahan baku tembakau & cengkeh yang merupakan produsen rokok kretek tertua di Indonesia sejak tahun 1913 & memiliki pangsa pasar terbesar ke-5 di dunia.
Nah, begitu memasuki bangunan museum di lantai satu ini, terdapat 3 bagian ruangan. Ruangan pertama adalah museum yang memamerkan jenis-jenis tembakau & cengkeh yang dikemas dalam kotak besar mirip karung terbuat dari anyaman bambu, sepeda ontel, ditengah ruangan diisi dengan kolam ikan koi yang melingkari pot bunga, foto pendiri perusahaan Sampoerna dan juga kliping artikel yang pernah dimuat di Star Weekly tanggal 23 Agustus 1956 atau dua minggu setelah wafatnya Liem Seeng Tee.

Sebelum memasuki bagian kedua di ruangan museum lantai 1 ini, lihatlah logo sampoerna yang terpajang di bagian atas pintu hall. Bertuliskan “Anggarda Paramita” yang berarti “Menuju Kesempurnaan” dengan Sembilan bintang yang melingkupi bagian atasnya, lupa maksud ke-sembilan bintang.
Dibagian kedua ini dipamerkan lukisan para pendiri Sampoerna, proses pembuatan rokok yang dikemas dalam lukisan dan foto jaman dahulu hingga modern saat ini.

Saya menyukai lukisan bagian ini, sangat menarik perhatian saya.

Ada pula deretan kotak korek api yang dipamerkan dalam lemari kaca. Kotak korek api yang beraneka warna ini dikumpulkan oleh seorang anak laki-laki Belanda yang pernah tinggal di Indonesia sebelum tahun 1945. Ia pulang ke Belanda bersama keluarganya setelah Indonesia merdeka. Koleksi ini sangat langka dan bernilai karena hamper semua barang hancur dimasa perang.


Nah, sekarang dibagian ketiga ruangan museum dilantai 1. Kita disuguhkan dengan adanya tumpukan alat penelitian, alat ukur berupa timbangan, dll yang di simpan dalam lemari tua & dipajang sebuah meja.

Masihkah kau mengingat foto seperti gambar dibawah ini. Saya sendiri teringat, ketika suatu malam di Kota Makassar. Kala itu, tidaklah begitu ramai seperti sekarang, depan rumahku masih berupa sawah yang sekarang jadi Mall Panakukkang. Saya masih duduk dibangku SD kelas 2. Di beberapa malam seusai makan bersama dirumah. Bapakku mengajak saya berjalan di sekitaran lingkungan rumah untuk mengunjungi pedagang kaki lima seperti ini. Walaupun, bapakku hanya sekadar membeli beberapa batang rokok sambil ngobrol dengan kenalannya disana. Saya sendiri hanya bisa memandang bahwa masa itu indah. Saya hanya tertarik dibelikan cemilan berupa pisang ambon yang dijual 100 rupiah perbuahnya yang digantung dibagian depan warung. Beda yah dengan sekarang. Tapi masa itu indah untuk dikenang.

Ada ratusan ribu outlet semi permanen di pinggir jalan yang ada di Indonesia. Mereka menjual rokok dan berbagai macam produk lainnya dari permen, sampai sandal jepit. Rombongan seperti ini juga menjual rokoknya secara batangan. Oh iya, kedai kecil ini selain sebagai tempat berjualan, kadang pula ada yang menjadikannya tempat tinggal.
Ada pula dipamerkan motor bekas ini. Motor ini bermerek Jawa 250 – Pérak, model tahun 1946, dua langkah, satu silinder, dan 248 cc buatan ex-Cekoslowakia. Perusahaan yang memproduksinya adalah Jawa, didirikan oleh seorang insiyur Ceko bernama Frantisek Janeéek. Ia membeli lisensi untuk memproduksi sepeda motor dari sebuah perusahaan Jerman bernama Wanderer dan dari perpaduan huruf awal nama-nama mereka. JAneéek WAnderer.

Nama modelnya “Pérák” (atau “Per” dalam Bahasa Indonesia). Diberikan nama tersebut karena suspensi belakangnya yang menggunakan per. Model ini memenangkan Medali Emas di Paris Motor Salon tahun 1946.
Inilah mesin cetak kuno yang digunakan untuk mencetak kotak rokok, label, dll. Sampai saat ini masih bisa difungsikan di Pabrik Sampoerna.

Tidak hanya jadi wanita pelinting rokok di perusahaan ini, tapi mereka juga mengembangkan Marching Band Sampoerna yang sempat mewakili Indonesia di ajang Internasional di Pasadena, California – Amerika Serikat pada ajang Tournament of Roses tahun 1990 dan 1991 yang dimainkan oleh 234 pekerja wanita.

Secara umum kondisi tata letak barang di museum bagian ketiga ruangan lantai satu ini, seperti inilah…

Kemudian kami menuju ke lantai 2 tempat barang-barang cenderamata bisa dibeli mulai dari kaos, mug, goodie bag, pin, dll. Dari atas kita bisa melihat ke bawah bagian pabrik rokok Sampoerna yang masih beroperasi hingga saat ini. Berjejer kursi -kursi para pekerja pelinting rokok, tapi sayangnya pandangan kami diberi penghalang kaca dan tak diperbolehkan mengambil gambar.

















Marching Band Sampoerna itu yang tak pernah kulupa karena nonton waktu itu lewat TVRI…
Waktu itu T cuma tau itu acara parade bunga di Pasadena… KEREN abis acaranya!!!!
.-= tuteh´s last blog ..Haloscan vs Blogger =-.
boleh tanya gak? knp pilih naik taxi orenz? tahu orenz dari mana??
boleh…mhmm pilih orenz karena warna kesukaan saya, tahu dari internetnya Sparkling Surabaya