27 May 2010 ~ 1 Comment

Ilham#Blog31hari[11] : My Passion…Reading

Mhmm…Alhamdulillah angka penderita buta huruf mulai berkurang (data lebih lengkap tunggu hasil sensus penduduk 2010) dengan banyaknya komunitas dan organisasi yang perhatian dengan kegiatan membaca. Makassar menggalakkan Gerakan Makassar Gemar Membaca. Setiap hari dijalanan luar kota Ende selalu saja melintas mobil dengan alat pengeras suara dan berwarna ciamik. Mobil Perpustakaan Keliling. Ada Nila Tanzil yang membangun Rainbow Reading Gardens (Taman Bacaan Pelangi) dengan proyek pertama di Labuan Bajo dan kampung sekitar Taman Nasional Komodo. Dan berbagai cara lain orang mengajak untuk ‘melek huruf’.

Foto Pribadi, baca bareng saudari

Membaca bukanlah sebuah paksaan. Masa sebelum jenjang sekolah, Saya cemburu melihat saudara membaca tumpukan kertas dan buku yang membuatnya tertawa sendiri. Saya memulai sekolah tidak dari jenjang TK, tapi langsung SD. Tidak lain karena beban biaya sekolah. Setahun sebelum saya sekolah SD, saya minta dibelikan sebuah buku tulis, meminta bapak mencarikan papan tripleks sebagai papan tulis, meminta kakak membawa pulang potongan kapur yang berwarna-warni sisa dari sekolah dan meminjam pensilnya. Saya meminta bantuan kakak dan Ibu meluangkan waktu mengajari tanganku ‘menari’ laiknya indahnya menulis, dan membacakan saya cerita seru dari tumpukan cerita yang terlampir di buku-buku pelajaran.

Dengan sendirinya hobi membaca menjadi bagian hidupku. Suatu ketika saya dipercaya membersihkan lemari tua Sang Wali Kelas yang berisi buku-buku tulis siswa masa ajaran sebelumnya. Tertumpuk buku tulis yang tidak dipakai lagi oleh siswa mereka sudah naik kelas. Saya pun mengumpulkan sisa lembaran bagian belakang yang masih bersih, menyusunnya menjadi sebuah buku baru. Buku-buku ajaran yang tampak tua dan dibuang ditempat sampah belakang kantin sekolah, sering saya kumpul dan baca kembali tulisan menarik dari buku itu. Makanya saya senang jika disuruh bebersih lemari dan membuang sampah.

Masih masa SD. Mengunjungi rumah teman, yang pertama kali saya lirik adalah rak bukunya. Melihat tumpukan buku, laiknya tumpukan permainan yang harus dibuka satu persatu. Pernah ada gelaran pameran pendidikan di lapangan tepat depan rumahku yang sekarang sudah menjadi Mall paling ramai di Makassar. Deretan stand berbagai instansi yang menampilkan dekorasi menarik. Tapi ada satu stand yang sering saya kunjungi setiap malam. Stand ini tidak memamerkan kecanggihan ilmu, alat, atau kreasi lainnya itupun hanya kain biru muda yang menjadi sekatnya. Hanya ada tumpukan buku di rak kayu. Stand ini membolehkan pengunjung mengambil salah satu buku. Setiap malam satu buku yang saya bawa pulang. Buku itu tidak cocok dengan usia saya, berjudul Pedoman P4, mengenai Pancasila dan sejenisnya. Tapi saya bangga membawa buku itu dan menyusunnya dirumah.

Kelas 5 SD, akhirnya saya membeli buku termahal yang pernah saya miliki. Suatu siang saya menonton program dari RCTI, Buletin Siang. Desi Anwar mewawancarai Iwan Gayo, penyusun Buku Pintar. Buku setebal Harry Potter dan mengandung banyak ilmu yang saya cari selama ini. Setelah acara itu usai saya pun ke Gramedia dekat rumah yang dicapai dengan jalan kaki saja. Saya berkeliling mencari buku itu dan ketemu. Berharga Rp. 15.000 tahun 1997. Nilai yang sangat mahal bagi kami ketika itu. Tapi karena sudah keinginan, memohonlah ke ortu, dan berjanji menjaganya dan belajar lebih baik. Iye, Puang…Saya Janji *logat Bugis* (Buku ini terakhir kali saya lihat berharga 250 ribu, tapi dengan banyak revisi, versi dan re-design). Laiknya membaca novel, saya telah berulang kali membacanya. Menghafalkan Ibukota Negara, membaca sejarah yang terjadi setiap tanggal dalam setahun, membaca zodiac, dll.

Buku itu masih saya simpan, berkali-kali bungkus plastiknya kuganti karena robek dan tampak usang.

Setelah dewasa dan bekerja, akhirnya saya bisa membeli berbagai macam buku dengan uang sendiri. Buku yang saya beli ketika masa sekolahan hanya sebatas buku pelajaran. Biayanya sangat mahal, kasihan membebani ortu dengan biaya sekolah dan biaya buku yang bagi saya belum pantas, seperti novel, majalah, dan komik.

Perpustakaanlah media saya mencari bahan bacaan selain pelajaran sekolah. Setiap pulang sekolah, sehabis makan siang, saya dan teman-teman berkumpul dihalaman sekolah SMP. Bermodal sepeda bekas seharga 128 ribu berwarna biru, saya kendarai dan membonceng teman yang berdiri di pedal kaki. Siang yang panas, debu jalan, jalan raya yang ramai tidak menyurutkan niat kami. Sejak siang hingga kami diusir karena perpustakaan sudah harus tutup, dan menenteng beberapa tumpuk buku didalam tas. Sering, saya memutari lemari bertumpuk buku Ekonomi, buku SMA, buku politik, walau buku itu tidak sesuai kapasitas saya sebagai siswa SMP. Saya menemukan satu buku, bertuliskan judul berwarna kuning dan berlatar ungu, ketebalannya seperti komik. Saya mendekati meja peminjaman ketika antrian sudah berkurang dan perpustakaan mulai sepi, tapi jantung ini berdebar, sedikit kaku dan takut. Takut ditanya yang macam-macam, dari tatapan seorang penjaga perpustakaan yang sinis. Saya berasa seperti pencuri hari itu, padahal saya tidak mengambil apa-apa. Hanya membawa sebuah buku berjudul Sex Education for Teens.

Mimpi  sejak dulu, membangun sebuah perpustakaan didalam rumah pribadi walau sederhana *belum tercapai rumahnya*. Membiarkan rekan terdekat saya membacanya. Saya tidak segan-segan menawarkan buku untuk mereka baca, tapi satu hal yang saya benci, ketika kepercayaan saya dirusak. Meminjamkan buku ke teman namun tidak mengembalikannya seperti sedia kala, entah robek, tertumpah minuman, kusut, dll. Saya sangat kecewa, mau nangis rasanya. Bukan karena harganya tapi nilainya.

Pernah saya meminjam novel adik kelas di STM, judulnya Lelehan Api yang bercerita tentang kisah keluarga Bali dalam gejolak cinta dan hiruk pikuk demonstrasi reformasi tahun 1998. Saya membacanya dengan baik, tapi entah kesialan apa, tanpa sengaja tersenggol segelas teh dan melumurinya. Saya takut luar biasa, saya merasa sangat bersalah. Mau menggantikan dengan yang baru tapi uang tidak cukup. Akhirnya ku jemur, ku-setrika, kuberi pengharum pakaian, kubungkus dengan rapih, walau lembarannya bergelombang. Saya mengembalikannya dengan banyak meminta maaf, menyodorkannya dengan kedua tangan sebagai tanda penghargaan dan rasa terimakasih saya, walaupun dia adik kelas saya. *harusnya kan jutek* :p

Terimakasih sebuah buku dan penulis-penulisnya yang memberikan saya banyak inspirasi, ide dan mengubah persepsi saya.

 

Tags: , ,

One Response to “Ilham#Blog31hari[11] : My Passion…Reading”

  1. tuteh 29 May 2010 at 2:08 pm Permalink

    Mulianya… Si Nila Tanzil maksud T wkwkwkwkw. Pengen kenalan ah… sekarang masih kah keliling bersama mobil ituh?

    Btw membaca kisahnya… jadi punya niat membungkus semua buku2 Ham ituw kwkwkwkwkwkwk ;) ) modalin plastik dwonk :D *kaburrr*
    .-= tuteh´s last blog ..Blog31Hari #11 – Ini Sih Derita Gue =-.


Leave a Reply

CommentLuv badge
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes