19 July 2010 ~ 2 Comments

Berdiam disisi sebuah perjalanan

Saya duduk disisi kapal menuju Kota Lewoleba, Lembata NTT, iya disisi yang tidak terkena cahaya matahari langsung. Duduk disalah satu badan kapal yang memang biasa digunakan penumpang ketika kursi yang disediakan sudah penuh. Tepat disamping nahkoda, sambil menselonjorkan kaki dan bermodalkan majalah saku terbitan bulan lalu.

Dia hanya bermodal sekeranjang cemilan yang mungkin tidak kau temukan di Circle K atau Seven Eleven…biskuit gabin dan sekelasnya, botol air mineral buatan lokal, dan beberapa bungkus manisan katanya. Lebih mirip buah anggur berwarna ungu, tapi bisa jadi cemilan masa kecil saya yg saya petik dipohon tetangga, orang Makassar menyebutnya “coppeng” tdk tahu apa bahasa ilmiahnya.

Dia seorang anak berumur kisaran 8 tahun. Hari ini hari sekolah, dia tidak seperti anak sekolahan. Entah putus sekolah karena biaya, masalah lazim di negara ini. Saya mulai menebak-nebak sosoknya. Dia anak yang baik. Rambutnya yang rapih setelah sisiran dengan bantuan minyak kelapa hasil mandi pagi di sungai tadi.

Yang aku renungkan kala ini, banyak anak-anak yg berada dalam keberuntungan masih mampu bersekolah. Dibiayai dari penghasilan orang tua, disekolahkan di institusi ternama. Apakah masih pantas seseorang anak sekolahan mengeluh hanya karena tidak diberikan kesempatan oleh orangtua walau hanya untuk mengisi weekend dengan menonton di bioskop atau sekadar kongkow-kongkow di cafe…yang kesemuanya lebih mirip budaya borju.

Cukup atau tidaknya biaya kehidupan itu, dari cara kita menyikapi tentang hidup dengan bijak. Tulisan ini, dari sebuah keluhan hati saya ketika SMS itu berdatangan…kau mungkin belum bisa mengerti maksud saya.

dari Kapal Kayu Sinar Lembata III di Selat Solor

- Publish from hamBerry, powered by Telkom Indonesia -

 

Tags: ,

2 Responses to “Berdiam disisi sebuah perjalanan”

  1. tuteh 21 July 2010 at 6:23 pm Permalink

    Kalo ada anak2 yang kurang beruntung kayak gitu, sungguh tak patut… Bagaimana caranya membuat anak2 sombong itu sadar bahwa di luar sana jutaan anak Indonesia pengen sekolah tapi nggak ada biaya… Pengen bisa SEKOLAH SAJA (tanpa embel2 bimbingan belajar pun) tapi tak mampu… kenapa yang mampu malah sepertinya tak tau diri? Kasihan lah… Kalo uang buat nonton bioskop atau senang2, mending nggak usah sekolah. Pulang kampung dan kerja aja. Cari duit biar bisa senang2… Kalo masih anak sekolah, mana boleh senang2…

    Tau ah… masa gue dulu hidup susah dan sampe sekarang pun tetap SUSAH :D wkwkwkwkwkw ;) )

    Aduhai… tak patut *kata Ma’il*
    .-= tuteh´s last blog ..The Lost Symbol – Bukan Novel Biasa! =-.

  2. Lin 30 August 2010 at 4:21 pm Permalink

    hehehe…saya beruntung bisa kuliah di Bandung,Bapak saya tercinta hanyalah seorang PNS dan Mama saya IRT, saya beruntung saya dan kakak saya bisa kuliah. Orang tua kami sangat keras dalam hal pendidikan. Karena berasal dari keluarga sederhana, saya tidak terbiasa untuk berfoya-foya dan belajar mencukupkan diri, tapi itu tidak berarti saya tidak pernah bersenang-senang, saya suka nonton di bioskop karena itu saya anggap sebagai hadiah dari kerja keras saya mempertahankan harga diri akademis. Tidak terlalu sering juga, hanya film yang worth it, seperti tanah air beta tentunya.Saya juga sedih melihat beberapa saudara saya yang tidak bisa duduk di bangku seoklah, oleh karena itu saya tidak mau menyia-nyiakan kebaikan ortu. Hem…balik lagi ke pribadi masing-masing bagaimana menyikapi hidup.Salam


Leave a Reply

CommentLuv badge
Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes