Halalkah?

Belumlah terbilang lama saya tinggal di Ende sejak kepindahan dari Maumere. Kesibukan bolak-balik Maumere & ke lokasi tak terjamah lainnya membuat saya belum tinggal lama disini.

Berbicara tentang warung makan di Ende, belum bisa saya berkata banyak, baik review dan menu khasnya. Bahkan belum bisa mengatur ritme selera. Kalau di Maumere kadang terpikirkan seperti ini, Pagi hari gado-gado di perempatan Swalayan Roxy, siang nasi campur di Jl. Nong Meak, sore nge-bakso di perempatan Kampung Beru, malamnya Lontong Balap di Perumnas. Inilah deretan acak aturan makan yang terulang selama 5 tahun disana. Kadang dibalik…

Bagaimana sempat menjamah kota kecil ini, jika 8 jam waktu bekerja maka 4 jam tersisih hanya untuk mengemudi keluar kota. Selebihnya istirahat yang tak kuasa letihnya. Gaya hidup seperti ini berlangsung berbulan-bulan, jangankan olahraga menikmati pantai di weekend saja mana sempat.

Yah, sendiri mengarungi jalan antar desa. Suatu ketika kepulangan saya di malam hari & terasa sangat lapar di suhu dingin, padahal jarak ke kota masih sekitar 50 Km lagi. Singgahlah saya di satu restoran di Desa tersebut. Lama saya mengenali tempat ini, tapi tak pernah singgah dengan santai tanpa keraguan. Sebagai seorang muslim memang agak susah menjamin kehalalan jajanan makanan di Flores. Inipun saya baru ketahui setelah teman merekomendasikan tempat ini halal. Namanya Warung Arwanty di Desa Moni, kaki gunung Kelimutu. Cukuplah mie rebus dan kelengkapannya ditemani teh hangat, bisa mengganjal perut lapar hingga ke kota.

Iya begitulah salah satu cara mengetahui tempat makan halal di Flores yaitu dari info teman muslim juga. Ada cara lain? iya masih ada ala orang awam.

Tibalah saya di Kota Ende tepat jam 8 malam sesuai prediksi. Tidak seperti sebelumnya mengemudi dimalam hari membuat saya khawatir sendirian. Kali ini tidak takut lagi karena yakin orang Flores ramah-ramah kok. Keseringan mengemudi keluar kota membuat saya pernah melindas anak anjing dan juga ular pohon.

Saya anggap mie rebus masih kategori cemilan, perlu disusul dengan makanan berat lainnya. Terpikirkan makanan khas Makassar di Jln. Kelimutu Ende. Seorang muslim yang baru berkunjung ke NTT pasti pelariannya di Warung Padang yang bisa tersebar hingga ke pelosok kota. Alasannya sederhana yang jual juga rata-rata muslim dan pasti halal tapi toyyiban-nya gak yakin deh. Banyak warung Padang asal jual saja tanpa perhatikan rasa dan kebersihan.

Rumah Makan Makassar itulah yang tampak dari tulisan dispanduk yang terpasang di depan warung. Berlatar biru tua dengan tulisan antara merah dan putih, cukup sulit di baca dan posisinya tersembunyi. Sering berlalu lalang di jalan ini dan selalu menatap ke warung ini untuk memastikan tulisan tersebut benar. Singgahlah saya. Begitu turun dari kendaraan, kemudian membaca lagi tulisan dispanduk itu…Menu : Coto Makassar, Kondro, Aneka Minuman lainnya dan makanan khas Ende. Eh??? Kondro??? *mengernyitkan dahi* gak salah tulis tuh. Sop Konro kaleeee….its ok lah biasanya karena bagian tukang mencetak yang salah ketik.

Kebiasaan orang awal lainnya ketika mencari warung halal, mungkin seperti ini;

  • Mencari tulisan halal dispanduk….ternyata tidak tertera.
  • Biasanya di tulis Warung Muslim, seperti kebanyakan di Bali…juga tidak ada
  • Biasanya ada kaligrafi Islam…wah dindingnya polos
  • Biasanya ada kalender pembagian dari Masjid terdekat….kalendernya tentang pupuk tani.
  • Pemilik warung berbusana muslim, seperti kebanyakan orang Makassar adalah muslim…wah tidak juga, melainkan tampak sepertinya orang Ende.

Makassarnya dari mana???. Duduklah saya di kursi kayu untuk menenangkan diri yang mulai gelisah dan galau. “Mas, mau makan apa?” tanya pelayan yang kuketahui dari fisiknya orang Flores…”Eghhhh, ehhhh apa yah, mhmm Coto Makassar deh” tampak bingung dan berbicara terbata-bata. “Makan disini yah?” tanya pelayannya lagi…Yah, iyalah masa’ makan di jalan tol 😛 maksudnya apakah di bungkus….

Lama proses persiapannya di dapur yang tampak sederhana itu, dari aroma kuah sudah tercium nikmat, benar aroma Coto Makassar. Karena semakin gelisah akhirnya kuputuskan membungkus makanan saja, tak akan ku makan karena ragu. Itu prinsip saya, jika ragu tak usah di makan. Mau bertanya ke ibu pemiliknya, dari mana unsur Makassarnya? apakah dari suami atau cuma sekadar belajar dari resep di majalah tapi kata-kata tak sanggup terucap. Saya pun meninggalkan warung membayar 20ribu dan pergi tanpa ucapan terimakasih serta pertanyaan lainnya, dengan menenteng dua bungkusan untuk kuah dan ketupat.

Kemudian beralih ke warung Padang lagi. Disinilah saya mulai tenang, dan mulai SMS ke Tuteh yang asli Ende, ternyata dia juga belum tahu…tanya ke satpam kantor yang muslim asli Ende. & the answer is : “Pak, warung Coto Makassar depan sederhana itu halal pak soalnya istrix orang ende and suamix orang makassar kerja di Bosowa” *tepok jidat*

Bungkusan coto makassar ini buat kalian yang dinas di kantor saja deh…informasi tambahan ternyata suaminya juga anggota takmir Masjid Agung #jiahhhh….

Discount
Order Windows 7 Ultimate
Order Windows 7 Ultimate
Buy Windows 7 Ultimate
Buy Adobe Creative Suite 6 Master Collection

Buy Adobe Creative Suite 6 Master Collection
Buy Microsoft Office 2010 Professional Plus
Cheap Microsoft Office 2010 Professional Plus
Discount Microsoft Office 2010 Professional Plus

6 Comments:

  1. mustika nahdah iradah

    malu bertanya sesat dijalan !
    intinya kalau mau tau info complete lebih baik bertanya saja lah..

  2. malu bertanya sesat dijalan !
    intinya kalau mau tau info complete lebih baik bertanya saja lah..

  3. Yang penting.. intinya.. adalah… jangan dilanjutkan kalo ragu. Itu saja 😀
    tuteh´s last blog post ..Aku Jadi Cemburu

  4. makan mie instan aja kalo gtu, dah ada labelnya halal 🙂 tapi ga tau aslinya.heehehe

  5. Wah-wah.. baru pindah ke Ende ya.. Hehe..

  6. sudah hampir setahun nih… 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.

CommentLuv badge