Stories

Melancong (lagi) ke Danau Kelimutu

Setiap daerah di sisi manapun di Indonesia selalu bisa menjadi objek menarik untuk dikunjungi. Indah yah Indonesia itu!. Seperti indahnya pesona danau Kelimutu yang kembali saya kunjungi. Ini kali ketiga saya datang, selain karena kini saya bertempat tinggal di Kab. Ende yang hanya menempuh jarak 1,5 jam dengan kecepatan rata-rata 60 Km/jam, versi ketika saya mengemudi loh.

edit 6

Pertama kali kesini tahun 2006 dibulan Agustus, kami niatnya mengejar matahari terbit, jadi kami harus menginap di bungalow di kaki gunung, dan anda harus berangkat jam 4 subuh untuk merasakan moment matahari menyapa pertama kali yang tampak dari balik gunung. Kunjungan kedua di bulan Oktober 2010, lebih telat dari sebelumnya, kami berangkat pukul 5.30 pagi, moment sunrise terlewatkan tapi pesona danau tetap tidak ketinggalan kok…dan kini kunjungan ketiga di bulan Januari 2011.

Saya berangkat mengemudi sendiri pukul 4.30 sore kemarin, cuaca cerah, dan tiba di lokasi sekitar jam 6 petang, Memasuki Kecamatan Detosoko yang berjarak –/+ 25 Km dari Ende menuju arah Maumere, anda akan mencium aroma durian. Warga yang berdagang hasil panen tidaklah banyak. Ada yang hanya menjual tiga buah disimpan diatas kursi plastik dan ditempatkan dipinggir jalan. Ada yang menggantungkan durian di dinding kios, dan ada pula yang membuat meja dari bambu. Varitas durian Detosoko terbilang sangat baik, buahnya besar, aromanya harum dan manis, sayangnya masyarakat belum mengganggap durian sebagai komoditi utama hasil panen selain padi, ubi, pisang dan jagung. Jadi jangan heran, ketika di tiba di kota, durian yang beredar berdatangan dari Bali dan Sulawesi dengan harga pasar yang lebih mahal. Saya baru tertarik membelinya ketika pulang saja, aromanya itu loh! xixixiix

Bertemu dengan beberapa rekan saya yang kebetulan ada kerjaan disekitaran Desa Koanara, desa terdekat sebelum memasuki Desa Moni. Saya mengajak mereka menikmati petang hari sambil menyeruput secangkir teh jahe di sebuah kedai. “Restaurant Kelimutu” namanya, posisinya tepat di dekat jalan masuk menuju Taman Nasional Danau Kelimutu, berada dipinggir jalan, dan berhadapan langsung dengan lembah diseberang jalan. Saya tidak merekomendasikan anda mencari makanan halal disini. Winking smile

Memilih warung makan yang halalan di sekitar Moni cukup menjadi pertimbangan utama, saya merekomendasikan restauran pondok Arwanty. Berada ditikungan jalan sebelum memasuki area pasar Moni. Restaurant dengan beberapa pondok penginapan, tapi kalau mau memesan makanan dengan menu lengkap minimal 3 jam sebelum jam makan. Mereka baru akan memasak jika ada orderan, ‘fresh from the oven’ deh Open-mouthed smile

Kemana kita menginap malam ini? Banyak penginapan kok di Moni, dari tipe pondok, home stay, bungalow, villa, hingga senyaman hotel bintang tiga. Dari harga 250 ribu hingga 850 ribu. Kali ini saya kembali menginap di penginapan dengan konsep ramah lingkungan, yang dibangun oleh seorang peniliti asal Australia dan telah membangun beberapa penginapan disekitaran taman nasional di beberapa wilayah Indonesia. Itulah Kelimutu Eco Lodge, salah satu penginapan dari Eco Safari Indonesia.

edit 2

Saya membaca beberapa judul novel import yang tertata dilemari, memandangi koleksi kain tenun yang terpajang, dan membuka kembali buku tamu, nama saya masih tercatat sebagai pengunjung ke 166, 9 Oktober 2010 sejak pertama kali dibuka dan kini sebagai tamu ke 1282.

Lampu seketika off disekitaran Desa Moni, dan hanya penginapan Kelimutu Eco Lodge yang masih bersinar tanpa genset, mereka memanfaatkan sisa cadangan energi dari matahari. Tipe ruangannya terbagi dua ada room dan villa. Tepat disamping penginapan terdapat aliran sungai yang bersih dan dihalaman penginapan terdapat area berkebun seperti terong, tomat, dll. Daripada saya banyak bercerita konsep penginapannya, liat saja fotonya yah…

Malam itu saya tidak bisa menikmati tidur nyenyak, bukan karena penginapannya yang tidak nyaman, bukan karena suhu yang dingin, tapi malam itu angin bertiup sangat kencang, suara tumbukan tirai dan jendela cukup mengganggu. Saya memainkan musik, menyumbat telinga dengan headset dan baru bisa menikmati tidur jam 2 malam.

Pagi hari tepat jam 6 kami berangkatlah menuju Danau Kelimutu, cuaca cerah, suhu tidak terlalu dingin. Saya menapaki beberapa tangga dan tanah yang lembab diliputi dedaunan dari pohon cemara menuju puncak. Sekali lagi NTT itu indah, dan pemandangan selalu membuat saya berkata wow…

edit 5

edit 4

Dua jam saya menikmati pemandangan indah danau. Kini Danau Tiwu Nuamuri Koofai (5.5 ha), dengan kedalaman air 127m sudah mengalami perubahan dari hijau daun berubah menjadi hijau seakan bercampur susu.

Sebelum kembali ke Ende, saya menyempatkan sarapan teh hangat dan pancake isi pisang dengan lumuran saus madu…aihhh nikmatnya. Bermain di aliran sungai dan mandi dulu tentunya…

edit 7

edit 1

edit 8

Perjalanan menuju Ende siang itu tidak saya lewatkan untuk singgah membeli buah durian yang dipatok harga 35 ribu rupiah, tapi saya menawarnya menjadi 25 ribu dan saya membeli dua untuk dinikmati bareng teman-teman di kantor.

edit 3

Berapakali pun anda berkunjung ke suatu tempat wisata di Indonesia, selalu ada kesan disetiap kunjungan kembali. NTT itu indah…sangat indah, kalau tiba-tiba anda merasa jenuh dan tidak betah ketika berada disini (diwilayah manapun di NTT maksud saya), saya yakin anda hanya menikmati NTT dari balik tirai didalam kamar yang sempit. Ayolah berlibur Open-mouthed smile

Ada yang mau komentar, kenapa setiap saya difoto selalu menebar senyuman?  Winking smile

Comments To This Entry.
  1. tuteh February 7, 2012 Reply

    Aiiih itu durian… untung saya nggak suka durian :D btw bener yah warna danau yang tengah jadi biru muda dan ada putih susunya? Pengen ke sana euyyyy… tahun kemarin 2 kali, tahun ini belum sekali pun… mesti pecah rekor 3 kali di tahun ini! :D xixixixixxi… btw Eco Lodge itu saya nggak kuat bayarnya :p wkwkwkwkw
    tuteh´s last blog post ..Kebahagiaan yang Meluap

    • ilhamhimawan February 7, 2012 Reply

      syukurlah T tidak suka durian, jadi jatah saya tetap aman xixixiix…Eco Lodge saya juga gak sanggup kaleee…itu krn gratisan aja :P

  2. tuteh February 7, 2012 Reply

    Huaahaha btw blognya Ham ini saya ajukan ke bunda Indah sebagai blog yang bertema wisata/jalan2 :D

    • ilhamhimawan February 8, 2012 Reply

      aiihhh buat apakah gerangan? bukan blog tema wisata nih, cuma blogger yg suka jalan-jalan wkwkwkkw

  3. tuteh February 8, 2012 Reply

    Huahahaha :D nggak tau mau diapain, cuma tadi ditanya aja sama bunda Injul :D
    tuteh´s last blog post ..Flores Is Nirvana

  4. davina April 14, 2012 Reply

    kami bulan depan mau trip ke Kelimutu dan masih bingung mencari tempat penginapan di Desa Moni, bisa kasih saran penginapan yang terjangkau dan bersih (Eco Lodge tdk masuk dalam budget kami) Thanks:)

  5. ilhamhimawan April 14, 2012 Reply

    @Davida : Hai..mbak Davida makasih atas kunjungannya ke blog ku…Selama ini klo aku nginapnya di Moni pasti dibayarin dgn kategori sda.

    Disana banyak kok yg lebih murah, dari kisaran 150rb s/d 350rb per malam. Mbak klo dah tiba di Desa Moni tepatnya di daerah pasar dekat jalan lurus yg kanan-kirinya sawah, turun sja disana. krn mulai dari batas pasar itulah kita bsa temukan penginapan murah di pinggir jln, smpai jalan masuk menuju TN Kelimutu. Ada pondok Hidayah, ada Hotel Flores, ada Bungalow Sao Ria dll, tpi mohon maaf sya tdk punya no kontaknya. Have a nice trip, klo tiba di Ende bolehlah kita bertemu…

Leave a comment

CommentLuv badge
Get Adobe Flash player