Stories

Seberkas Kinanti

“Assalaamu Alaikum”

“Waalaikum salam” balas sapaan seorang Ibu tua

“Pak Djoko, ada?”

“Bapak belum pulang, ada perlu apa?”

“Saya hanya mau mengembalikan ini”

SmileSmileSmile

Secangkir teh hangat, roti sisa jualan emak menemani lamunanku, di beranda rumah kayu yang atapnya sebagian bocor.

Selepas menjalani pendidikan diperantauan, terus terang saya malu kembali ke kampung, apalagi belum mendapatkan pekerjaan.

“Nak, pegang dan baca surat ini” Abah menghampiriku.

Terdiam, pikiranku melayang, berusaha mengerti maksud beliau memberikan surat ini.

Masih terdiam.

“Maaf Bah, buat saya?, dari siapa?”

Beliau pun tersenyum.

“Baca dulu suratmu, nak”

Yth. Danu,

Kamu bercita-cita menyelesaikan pendidikan kuliah dengan beasiswa dan mahir berbahasa Inggris agar bisa melanjutkan pendidikan ke luar negeri

 15 Maret 2005

Saya mulai mengingat, surat lusuh dalam sebuah amplop coklat. Waktu yang sangat jauh kebelakang untuk mengingat kembali isinya. Surat yang saya tulis sendiri, untuk diriku tujuh tahun yang lalu dan ku titipkan ke Abah.

“Nak, jangan putus asa yah dengan masa depanmu, walau Abah hanya seorang tukang becak”

“Ini ada surat titipan dari kenalan Abah”

“Pemilik sekolah bahasa di Kota, katanya sebagai ucapan terimakasih karena telah mengembalikan dompetnya yang tertinggal dibecak”

Saya membuka surat kedua. Surat beasiswa belajar bahasa Inggris.

“Bah, ini kan tempat kursus yang bagus, namanya TBI Depok”

Beliau mengajarkanku mengukir mimpi dari secarik kertas, tulisan tentang diri pribadi, kesan teman terdekat, hingga mimpiku tujuh tahun kedepan.

Abah mengajarkanku untuk tidak putus asa mengejar mimpi dari keterbatasan. Satu mimpi tercapai, memaksakan saya kembali menuliskan mimpi lainnya dalam sebuah surat untuk kinanti. Sebuah mimpi masa kini dan nanti.

Disertakan pada lomba Blog Entry bertema Inspiring and Empowering through TBI, kerja sama Blogfam dan http://www.tbi.co.id

Leave a comment

CommentLuv badge

Get Adobe Flash player