Trip to Riung, Taman Laut 17 Pulau #1

Didalam tubuh yang sehat terdapat semangat berlibur yang menggebu-gebu. #eaaaa Be right back

Alhamdulillah badai telah berlalu, cuaca membaik, panas terik khas Flores yang eksotis, dipadu dengan hari libur yang panjang selama 3 hari ini. Kemana lagi kita, kalau tidak keluar rumah menemukan tantangan baru. Riung salah satu destinasi menarik ala petualang dan pastinya tidak butuh biaya yang besar bagi kami penghuni di Flores yang berangkat bermodalkan sepeda motor.

Usai Sholat Jumat, packing lah saya. Kamera, pakaian renang, kaos, pelampung…Pelampung? bukannya saya tidak bisa berenang tapi khawatir saja nafasnya tidak kuat *ahleyshan*, tidak lupa membawa pakaian dalam yang saya ganti penyebutannya menjadi “ompret” onderdil kampret. *baca terus, ada alasannya kok* Confused smile

Sebaiknya tidak melupakan pengecekan dan pemeliharaan kondisi motor di bengkel terlebih dahulu deh Smile

How to get there?

Perjalanan menuju Riung, destinasi taman laut 17 pulau di Kab. Ngada, Flores NTT dimulai. Ada 5 motor dalam rombongan kami yang kesemuanya member Flobamora Community ( Etchon, Iros, Ryan, Tuteh, Encik, Eddie, Bastian, saya), dan kami meninggalkan kota Ende tepat pukul 3 sore.

Motor saya yang paling lambat dalam konvoi, masih menyesuaikan dengan ala jalan berkelok. Inilah pengalaman pertama saya keluar kota dengan motor. Menegangkan, butuh konsentrasi maksimal, dan kehati-hatian ekstra jika dibandingkan mengemudi dengan mobil.

Jarak antara Kota Ende dan pertigaan yang memisahkan jalur menuju Kab, Nagekeo dan Kab. Ngada, bisa ditempuh selama kurang lebih dua jam perjalanan dengan jarak 57 Km dari Ende. Sebagian ruas jalan lintas Flores ini masih proses perbaikan, jadi jalan rusak itu harus dilalui.

Riung berada dalam area Kab. Ngada namun untuk menempuh jalur yang lebih cepat, nyaman, dan pemandangannya indah. Kita harus melalui Kab. Nagekeo dengan melalui Kota Mbay. Setelah melalui badai debu yang beterbatangan efek perbaikan jalan, kini saatnya perhatikan palang penunjukan yang memisahkan jalur menuju Bajawa dan Mbay ketika anda sudah berada di Aegela. Ciri-cirinya kalau anda sudah berada di Aegela adalah anda berada dipertigaan jalan, yang ramai pedagang warung kecil-kecilan jualan jagung rebus, mie instan, kopi, jeruk, dll. Oh iya disini juga ada bekas terminal, dan jangan tanya dimana toilet, lah warga sekitar situ aja baru mulai menggali lubang nya kok…perasaan dari tahun lalu digalinyaThinking smile

Jalur Mbay jalannya rapih, anda akan disuguhi pemandangan ala bukit teletubbies, padang rumput hijau, sawah yang hampir menguning dan langit biru, paduan yang sempurna, dan menyaksikan garis horison yang memisahkan laut dan darat.

Ibukota Kab. Nagekeo adalah Mbay, yang berada disisi pantai utara Pulau Flores. Merupakan kabupaten baru hasil pemekaran yang sedang berbenah. Saking barunya…saya baru lihat sebuah rumah dengan perpaduan warna dinding yang sangat tidak nyaman dipandang mata. Warna biru, hijau, merah, coklat dipadu dengan sangat tidak apik. Tampak jika anda beristirahat sejenak di SPBU Mbay.

SPBU lah tempat beristirahat yang nyaman bagi pelancong seperti kami, toilet bersih pastinya gratis. Sebentar lagi adzan maghrib berkumandang, saya sempat buang air kecil di bukit tadi tapi tidak punya air untuk membasuh. Saya ke kamar mandi, dan disinilah saya menyadari kalau ternyata si ompret tidak ikutan. *doh* Kebiasaan buruk saya, sudah memasukkan barang didalam tas, pasti akan mengeluarkannya lagi kalau tampak membesar atau berat, alhasil ada yang terlupakan.

Menjelang magrib kami beristirahat sejenak sambil menikmati teh dan kopi disebuah kedai kecil mirik keluarga Ryan. Namun saya masih galau belum menemukan pengganti si ompret. Saya ngacir mencari penggantinya. Tipikal toko daerah kecil seperti ini, pakaian, kebutuhan pangan hingga bangunan biasanya dijual dalam satu toko. Saya menemukan toko dekat SPBU yang menggantung pakaian disamping karung beras.

“Om, ada pakaian dalam?”

“Sebentar eeee…” sambil sebuah lemari yang dominan ditempati produk kosmetik dan mainan anak-anak

“Oh ada ini” beliau pun mengambil sekotak dan mengerluarkannya satu persatu.

Biasanya pakaian dalam dijual dalam satu kotak berisi tiga lembar, namun ini dijual per satuan dengan harga 15 ribu. Wow, mahal sekali. Modelnya pun tidak kuperhatikan lagi.

Beliau pun mengeluarkan satu buah yang warnanya paduan orange dan hitam, sangat tidak eye-catching, dengan merek ternama Polo Raphl Lauren. Berharap karetnya gak melar sekali pakai dan bikin iritasi kulit. Disappointed smile

“Ukurannya om, hanya ada M kah?” saya semakin tidak yakin dengan standar ukurannya yang nampak sangat kecil dari ukuran M biasanya. Terpaksa saya beli satu buah daripada tidak sholat dan kembali ngacir pinjam toilet di rumah keluarga Ryan untuk segera berubah wujud

OMG! prediksi saya benar, ketat bin menyiksa. Tidak perlu berpikir panjang, adzan sudah usai dikumandangkan, dan saya harus bergegas lari ke masjid pakai sarung. Eh bukan masjid tapi mushollah, karena ukurannya yang kecil. Didepan halamannya ada sumur yang tidak terpakai lagi, karena warga wudhu melalui keran air disisi belakang. Bangunan mushollah ini tampak perlu perawatan, anehnya ketika saya ingin bersedekah, dompetku terlupakan, kadang sudah bawa dompet eh kotak amalnya tidak tersedia.

Usai sholat Maghrib, kami bergegas pamitan, ke bengkel mengganti ban dan singgah makan malam diwarung yang menyediakan menu ala kadarnya. Mbay memang penghasil beras, tapi tidak begini-begini juga kaleee sampai nasinya penuh membumbung tinggi di tengah piring. Nasi soto kambing, nasi ikan, bakso, gorengan, dan Encik hanya ingin makan nasi saja, katanya dia sensitif terhadap makanan tertentu, mungkin sejenis alergi.

Tepat jam 8 malam, kami meninggalkan kota Mbay dan memasuki area menuju Riung melalui jalanan aspal yang rusak selama 45 menit dengan kecepatan 20 km/jam. Perut kiri saya perih, efek kebanyakan makan merasakan guncangan diatas motor dan ditambah ketatnya si ompret yang saya beli tadi. Hufufufuu.

Setelah itu kita melalui jalan yang lurus dan panjang, karena malam gelap tanpa penerangan jalan saya tidak begitu tahu pemandangan apa disisi jalan ini, apakah padang rumput, pegunungan, jurang atau mungkin tepian pantai. Lupakan saja mari terus berjalan….

Menjelang memasuki kampung Riung, tepat disisi hutan bakau terdapat tikungan tajam dan berpasir yang membuat Tuteh harus terjungkal dan bermanuver 180 derajat dengan motornya. Anehnya, orang yang mengalami kecelakaan harusnya meringis, ini malah tertawa terbahak-bajak dikeheningan malam. Dia merasa lucu proses jatuhnya. Memang benar lucu, saya yang kebetulan berada dibelakangnya melihat atraksinya yang luar biasa itu. Syukurlah tidak sampai terluka, dan helm-nya terbang ke semak-semak. Rolling on the floor laughing Dicatat yah, lokasi ini sering merenggut korban yang berjatuhan, tipikal jalan tikungan berpasir. Waspadalah…waspadalah…

Akhirnya jam 10 malam, kami disambut hangat Rustam pemilik Nirvana Bungalow yang dengan senang hati mau menampung kami beberapa hari secara gratis. Cuma bebersih sejenak, dan kami pun beranjak menuju bungalow yang dibagikan. Saya sekamar dengan Etchon dan Iros, walaupun tengah malam entah Iros melanglang buana ke kamar mana…Di dinginnya malam, kami harus istirahat karena esok butuh energi menjelajah pulau yang eksotis itu. ?????? Konban wa minna san – Selamat Malam semuanya –

Artikel terkait :

12 Comments:

  1. oh my God, ini kereeeen sekaliiiiii
    mau dong diajak

  2. Dicatat yah, lokasi ini sering merenggut korban yang berjatuhan, tipikal jalan tikungan berpasir. Waspadalah…waspadalah…
    *ngakak*

  3. hahhaa…luar biasa yah Mam 😉

  4. hahahaha…bisa aja…iya loh aku catat 😉

  5. Hahahaha waspadalah… manuver 180 derajat! Wakakakaka 😀 catatan yg nenarik dan lucu….
    tuteh´s last blog post ..Trip To Riung #2

  6. hahahah…upss keliru ding, yg merasakalah yang lebih tahu 😀 makasih kaka

  7. panorama alamnya sungguh indah…subhanallah…

  8. menyejukkan mata dan hati 🙂 terimakasih kunjungannya Pak

  9. Bagus …
    Comment fotonya :
    foto2nya bagus, komposisi n angle nya
    yg duduk back 2 back n ada tulisan tambal ban OK

  10. Hahahah yang mengalami 180 derajat ituh sungguh sesuatu banget dweh 😀 wakakakakaka…
    tuteh´s last blog post ..Trip To Riung #2

  11. Terimakasih 🙂

  12. Pengalaman yang super broo….
    wildan´s last blog post ..Perbaikan Kulit Malam Hari

Leave a Reply

Your email address will not be published.

CommentLuv badge