Trip to Riung, Taman Laut 17 Pulau #2

Selamat Pagi, cuacanya sangat baik hari ini, bagaimana istirahatmu semalam?. Eh, ternyata yang bangun pertama pagi ini baru saya saja…Semalam dingin mencekam, yang tembus dari lubang kecil dari dinding kamar kami.

Pagi ini direncanakan melancong ke beberapa pulau di gugusan taman laut Riung yang jumlahnya mencapai 17 pulau diantaranya Pulau Pau, Borong, Ontoloe, Dua, Kolong, Lainjawa, Besar, Halima, Patta, Rutong, Meja, Bampa (Tampa atau Pulau Tembang), Tiga (Pulau Panjang), Tembaga, Taor, Sui dan Wire. Kesemuanya tidak berpenghuni. Jika dalam sehari saja, tidak cukup waktu kita berkunjung kesemua pulau tersebut. Ada pulau kecil yang tidak memungkinkan perahu bersandar, ada pulau dengan hutan bakau sebagai pembatasnya, ada yang berpasir putih dan ada pula rumah bagi kawanan kelelawar. Wow exciting Smile

Dilaporkan jam 6 pagi ini, member FC belum pada bangun, perlu diteriaki dari depan kamarnya nih xixixixi Be right back. Kapal motor sudah dipesan dan telah menunggu di dermaga, alat snorkeling telah siap, mari berangkat kaka… Open-mouthed smile

Khawatir matahari semakin terik tak baik berendam jika menjelang siang, tak baik bagi pencahayaan kamera, tak baik bagi kulit…hehehehe. Masing-masing membawa tentengan berupa nasi dalam bungkusan, ada yg membawa alat snorkel, air minum, dan saya bagian membawa kamera xixixixi.

Untuk menuju dermaga, kita harus menempuh kurang lebih 500 meter dengan jalan kaki dari Nirvana Bungalow. Barulah pemandangan indah pagi ini nampak jelas. Sepanjang jalan kami dikelilingi pohon kelapa dipinggir jalan, dan selepas itu pemukiman warga. Rumah panggung dari kayu, dan diujung atapnya tampak persilangan kayu seperti tanduk, sudah dipastikan penghuni sekitaran pantai ini adalah suku Bugis. Memang jarak Sulawesi Selatan terutama disisi selatan yaitu Kabupaten Selayar yang terkenal dengan taman laut Takabonerate dan Pantai utara Flores sangatlah dekat. Jadi wajarlah warga yang mendiami daerah pesisir adalah suku Bugis yang memang perantau dan pelaut yang ulung. *ngacung* Saya merasa sangat familiar dengan suasana ini, seperti pulang kampung saja Open-mouthed smile

Nah, setiba di pintu dermaga, sebagai warga negara yang baik, kudu bayar retribusi dengan harga 1.500 per orang dan 10ribu per kapal. Ini belum termasuk biaya penyewaan kapal, yang biayanya tergantung berapa jumlah pulau yang ingin anda kunjungi. Pulau yang akan kami kunjungi adalah Pulau Kelelawar, Pulau Rutong dan Pulau Tiga (Pulau Panjang). Kami membayar untuk kunjungan ketiga pulau ini sebesar 350 ribu.

Tidak lengkap rasanya jika menikmati pemandangan laut, tapi tidak menikmati lezatnya ikan segar. Setengah perjalanan, tampak seorang nelayan yang kebetulan sedang memancing ikan di sampannya sendirian menggunakan teknik pemancingan dengan hanya bermodalkan tali umpan dan kail menggunakan bantuan tangan. Maksudnya adalah memancing tanpa menggunakan tongkat pancing (joran) tetapi tetap menggunakan rol pancing dan senar atau biasa. Teknik ini biasa digunakan untuk menangkap ikan didasar laut.

Ikan segar hasil tangkapan dihargai hanya 10ribu saja. Beliau pun sudah sangat senang karena ikannnya bisa laku dengan cepat. Inilah kearifan lokal masyarakat yang menjaga kesehatan ekosistem lautnya dengan tidak menangkap ikan secara membabi buta dengan bom ataupun pukat yang bisa merusak terumbu karang. Bagi mereka, alam ini akan selalu memberikan rejeki yang melimpah jika mereka turut menjaganya.

Okay, mari melanjutkan perjalanan kesatu pulau yang dipenuhi kawanan kelelawar, namanya tetap Pulau Kelelawar. Dari kejauhan saya melihat pohon-pohon dengan daunnya yang melebar tampak mengering, semakin dekat semakin jelas dan ternyata bukanlah sebuah daun melainkan kelelawar yang bergelantungan. Pemandangan ini mengingatkan saya dengan pusat Kota Soppeng di Sulawesi Selatan yang pohon ditengah kota dipenuhi kelelawar.

Sepanjang tepi pulau ini tertutup oleh hutan mangrove atau disebut hutan bakau. Selain berfungsi menahan abrasi pantai, mengurangi dampak kerusakan akibat tsunami, bakau juga berfungsi sebagai menyaring air untuk menghasilkan air tawar loh…

Kami pun melanjutkan perjalanan ke Pulau Tiga atau biasa warga menyebutnya Pulau Panjang, yang memang bentuknya yang memanjang. Kita akan melakukan snorkeling disini. Setiba di depan Pulau, dari atas kapal kecil ini kami sudah bisa melihat terumbu karang dangkal dengan berbagai ikan dan anemon. Anemon ini mirip tumbuhan tapi sebenarnya adalah hewan. Ada satu anemon ciri khas Riung yang tidak tampak musim kali ini, yaitu mawar laut, berwarna merah didasar laut membentuk seperti bunga mawar.

Oh…oh jumlah perlengkapan snorkeling kami terbatas, tapi jangan khawatir, sambil menunggu giliran. Sebagian menikmati pemandangan dasar laut, saya memilih trekking menikmati pemandangan laut dari puncak bukit.

Tidak perlu terlalu jauh berjalan diantara ilalang, kami sudah disuguhi pemandangan indah ini. Subhanallah, indahnya… Open-mouthed smile

Nah, usai menikmati pemandangan dari puncak, saatnya snorkeling, dan sebagian kami mulai membuat arang untuk membakar ikan segar tadi….asikkk nyemplung Winking smile

Kulari ke hutan kemudian teriakku, kulari kepantai kemudian berendam..xixixixi Iya, usai trekking kembali turun ke pantai dan bergantian melanjutkan snorkeling. Wow, luar biasa pemandangan bawah lautnya. Segar diatas, segar dibawah.  Begitulah sensasi penyegaran buat mata dan hati saya kali ini…Open-mouthed smile

Rasa lapar mulai terasa, mengingatkan kami meletakkan alat snorkeling dan mencium aroma ikan bakar dibawah ini…melengkapi kegembiraanku. *speechless*

Habis dilahap tak tersisa, persediaan nasi jadi rebutan, ikan hanya menyisakan tulangnya saja, ditambah sambal buatan kami. *ngiler* asli liat foto diatas sambil nulis postingan ini membuat ngiler lagi In love

Sebelum meninggalkan pulau ini dan menuju ke pulau Rutong, saya masih menyempatkan bermain ayunan sambil merasa melayang setinggi-tingginya hehehhe. Ayunan buatan nelayan yang sering berkunjung kesini, digantung dengan seutas tali penarik kapal kecil disebuah pohon, dan dudukannya hanya sebilah bambu. Jadi teringat masa kecil yang membuat saya terbang dan terjungkal dari ayunan karena saking semangatnya bermain waktu itu.

Kunjungan terakhir adalah Pulau Rutong, tidak banyak waktu kami habiskan disini. Tampak beberapa rumah-rumahan dari bambu namun sudah tidak laik digunakan. Bukitnya lebih tinggi, kesan menarik di pulau ini adalah menikmati burung Elang beterbangan disekitar puncak bukit, namun sayang saya tidak menemukan moment yang tepat mengabadikannya.

Kami pun kembali ke dermaga, bebersih diri, dan tidur siang.

Saat tiba di bungalow kami, usah mandi, kami berencana tidur siang. Saya bermaksud membuka jendela agar cahaya lebih terang dan angin berhembus di kamar kami. Saat membuka jendela, saya kaget seekor tokek lompat mengenai bajuku dan bersembunyi disisi kamar entar dimana. Yang membuat kami dikamar lompat dari tempat tidur dan tertawa terbahak-bahak, Rolling on the floor laughing

Sore ini kami akan menuju puncak bukit disisi jalan. Saya heran ketika dua motor teman saya berhenti didepan. Dan Bastian melambaikan tangannya dan sempat berbicara sejenak ke saya yang membuat saya tidak konsentrasi dan rem dadakan tepat ditempat Tuteh semalam terpelanting. Apa yang terjadi dengan saya? saya tidak terjungkal, tapi ngerem mendadak, dan ibu jadi kaki saya menjadi tumpuan dan bergesek dengan aspal. Hiks…hiks perih, kuku ibu jari ku memar, sedikit darah dan jalan dengan terseok-seok. Ahhh kenapa aku lupa lokasi itu.

Sesampai dipuncak, saya jadi tidak mood mengabadikan gambar, cuma duduk termenung meredam rasa perih dan kembali mengingat kejadian tadi.

Satu persatu kelelawar meninggalkan sarangnya, mencari makan dikegelapan malam. Matahari enggan memancarkan cahaya terakhirnya dihadapan kami karena terhalau dinding bukit. Kejadian hari ini membuat saya mengingat bahwa hidup tidak melulu untuk sebuah kesenangan, ada rasa perih diantaranya.

Artikel terkait :

11 Comments:

  1. Super sekali….kapan gawe bisa ikutan…

  2. Yahhh tragedi itu yah ajeb jatuhnya wakakakaka 😀
    tuteh´s last blog post ..Trip To Riung #2

  3. Haduuuuuuh … salah besar mampir dan baca tulisan ini! Jadi pengen kan … kan …

  4. ada cerita dibalik ini semua #halah

  5. Salah siapa? salah saya? salah teman-teman saya? xixixixi hahahaha wah khawatir malam ini gak bisa tidur nyenyak, krn mikirin Riung 😀

  6. Salahkan Riung yang kenapa terlalu indah? 😀 *halah* hahaha…
    tuteh´s last blog post ..Trip To Riung #2

  7. wow laut selalu memesona…
    banyak ya pulau yang tak berpenghuni…
    jadi ingat film2 para nudis yang suka ke pulau terpencil….
    mudah2an punya kesempatan ke sana
    kw´s last blog post ..event bulan april yang merayakan kartini

  8. *lihat kalender

  9. hahahha…@LedyLestari : mbak jadi terlalu banyak membaca postingan disini, bisa-bisa tanpa sadar beli tiket dan berangkat melancong ke Flores 😀 *membuat ketagihan*

  10. Aku jadi ingat, tadi malam baca status FB salah satu keponakan. Dia semalam ada di Flores, baru turun dari Riung
    Meity Mutiara´s last blog post ..Perjalanan Personal Blog

  11. wah, tapi kok turun dari Riung? Riung kan udah dataran rendah 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published.

CommentLuv badge