Stories

#Roman Tetralogi Buru “Bumi Manusia” – Pramoedya Ananta Toer

Buku lama yang ditulis tahun 1975 kemudian diterbitkan untuk pertama kali tahun 1980, dan akhirnya dilarang beredar. Kemudian kembali bisa dicetak tahun 2005 dalam 33 bahasa, tapi baru tahun 2013 saya membacanya disela-sela jam makan siang, saat menunggu di bandara, sepulang kantor hingga matahari terbenam, dan menjelang tidur.

Saya tidak banyak mengenal tapi sering mendengar tentang Pramoedya Ananta Tour, namun belum pernah sekali saya tergugah membaca tulisannya. Kesannya berat dan bercerita zaman kolonial rasanya membosankan tentang sejarah, otakku pun belum mau berdamai waktu itu. Tapi kini saya mencoba membacanya, mungkin saja pemikiranku kini sudah sesuai buku ini.

Ketika di Jogja, seorang rekan bertanya “Kok, bisa suka tulisan Pram, isinya kan berat”. Mhm…mungkin ini saatnya saya memulai menyukainya. Seperti dipanggil untuk belajar cerita dari negeri sendiri, bahkan mungkin sedikit menyesal baru bisa membacanya sekarang.

Buku pertama tetralogi Pulau Buru ini menceritakan kisah seorang Minke atau nama Belanda-nya Max Tollenaar. Kenapa dipanggil Minke? Ada jawabannya dibuku ini. Roman yang berkisah cerita zaman kolonial dikemas menjadi tidak membosankan, dipenuhi pemberontakan dalam pikiran tentang pengetahuan. Kisah percintaan yang tulus dari ketidaksengajaan. Konflik dalam hubungan keluarga. Pertentangan akan dunia pendidikan. Saya belajar filasofi budaya dan tradisi Jawa serta pemikiran orang Belanda, hingga kisah tragis pemerkosaan, penderitaan istri simpanan dan pembunuhan.

images

Pemikiran-pemikiran tentang pentingnya sekolah, pengetahuan dan perubahan nasib itu membuat saya semakin tertarik untuk membaca disetiap lembarnya. Pantaslah buku pertama yang setebal 535 halaman ini disebut sebagai “Sumbangan Indonesia bagi dunia”.

Berikut beberapa kutipan menarik dari buku tersebut;

“Suatu masyarakat paling primitif pun, misalnya di jantung Afrika sana, tak pernah duduk dibangku sekolah, tak pernah melihat kitab dalam hidupnya, tak kenal baca-tulis, masih dapat mencintai sastra, walau sastra lisan”

“Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam mata elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik ratap-tangis kehidupan, pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput”

“Semakin tinggi sekolah bukan berarti semakin menghabiskan makanan orang lain. Harus semakin mengenal batas. Kan itu tidak terlalu sulit difahami? Kalau orang tak tahu batas, Tuhan akan memaksanya tahu dengan caraNya sendiri”

 Saya menilainya dengan lima bintang, selanjutnya bacalah buku ini,  karena saya harus melanjutkannya ke buku kedua “Anak Semua Bangsa”.

Leave a comment

CommentLuv badge

Get Adobe Flash player