Sumber Mata Air Panas Komba Ndaru, Ende – Flores. Dekat tapi terpencil!

Berada di NTT memang mengagumkan, Tuhan Maha Adil. Disisi lain anda tidak akan menemukan bangunan megah, gedung-gedung dalam bingkai hutan beton tapi anda akan disuguhi keindahan alam mulai dari puncak gunung hingga dasar lautan. Tinggal memilih, anda tipe pejalan seperti apa?

Saya lebih menyenangi tempat tidak terlalu ramai, lokasinya sulit di jangkau tapi keindahan yang ditawarkan setara dengan letihnya, bukan daerah eksploitasi berlebihan laiknya tempat wisata pada umumnya di daerah lain.

This is it!..hot spring water in Riaraja village

Berawal dari sisa letih bekerja dilapangan kemarin, dan disaat akhir pekan pula. Seperti biasanya, saya bersama kawan-kawan di kantor  – Saya menyebutnya kawan, walau usia terpaut jauh, walau posisi dalam pekerjaan sangat berbeda, tapi untuk urusan bekerja sama, ngobrol, makan, bahkan jalan-jalan posisi kami menjadi setara – berkumpul sekadar ngobrol topic apa saja, tiba-tiba tercetus ide untuk melancong sekadar melepas kepenatan. Ada yang celetuk, “Mending berendam air panas Pak?  tapi di Moni jauh” – sekitar 45 Km dari Ende. “Ada sumber air panas dekat dari Ende sekitar 11 Km tapi belum pernah kesana”. “Kalo begitu, ayo sore ini kita telusuri kesana” kata ku.

Tepat jam 5 sore, usai hujan reda. Bergegaslah kami berangkat kesana. Lokasinya berjarak 14.2 Km ala Google map, dari Kota Ende ke Kecamatan Ende, Desa Riaraja melalui jalan Trans Flores ke arah Kota Bajawa (dibaca : timur). Jika menemukan jembatan Nangaba belok lah kearah kanan memasuki Desa Ruku Ramba. Kemudian menemukan dua jalur, berbelok kearah kanan memasuki Desa Riaraja. Ikuti alur jalannya, hingga menemukan tikungan yang ditandai dengan batu besar ditepi jalan, berhenti disini untuk memarkir mobil. Ada jalan setapak menurun disisi kiri jalan, sebenarnya mobil bisa menjangkau kedalam perkampungan namun pastikan jenis kendaraan anda bisa mendaki karena jalan yang licin dan terjal. Motor bisa menjangkau hingga kedalam perkampungan.


Lihat Peta Lebih Besar

Usai memarkir kendaraan, saya pun berjalan kaki sekitar 1.8 Km melalui perkampungan Komba Ndaru. Katanya nih, nama Komba Ndaru berarti nama sejenis tanaman merambat yang berbiji dan bisa dikonsumsi. Saya kurang begitu tahu namanya dalam Bahasa Indonesia. Maaf – Kata ‘Ndaru’ berarti biji pelir kelamin laki-laki.

Jalur yang dilalui diantara kebun kakao dan rumah warga

Tujuan melancong kali ini adalah tempat permandian di sumber mata air panas. Dalam bahasa Ende, air panas disebut “Ae Petu”. Kata ini biasa juga digunakan dalam sebuah undangan silaturahmi yang menghindangkan air panas sebagai symbol keakraban. Untuk menempuh pusat air panas, lalui saja alur jalan yang sudah ada tanda tanah yang sering ditapaki orang lain. dengan berjalan kaki melalui rumah warga, perkebunan kakao, melintasi dua buah sungai kecil, hingga memasuki ladang dengan hamparan batu-batu pegunungan. Sungai kecil  akan sulit dilalui jika banjir datang, itu berarti tempat permandian ini tidak bisa dinikmati.

Terdapat dua sungai kecil yang harus dilalui

Oh iya, jalur lokasi permandian untuk laki-laki dan perempuan dipisahkan jauh dengan sumber mata air yang berbeda pula. Awalnya saya bertanya, darimana sumber air panas ini datang? Biasanya dikarenakan berada disekitar gunung api atau bisa jadi berasal dari panas bumi atau geothermal.

Karena lokasi yang cukup terpencil, jauh dari keramaian dan alami yang merupakan hulu sungai dibawah jembatan Nangaba. Airnya yang jernih mengalir diantara bebatuan dan kubangan yang terbentuk tidaklah cukup untuk merendam diri seluruh badan, jadi perlu membasahi seluruh tubuh dengan bantuan gayung yang terbuat dari batok kelapa. Terdapat sekitar 3 mata air di permandian disini, dengan tingkat panas yang  berbeda-beda.

Batok kelapa digunakan sebagai gayung

Sembari menikmati kesegaran airnya, saya pun mendengarkan cerita warga setempat tentang asal mula sumber air panas daerah ini. Konon katanya, dahulu disini adalah kota kecil. Suatu ketika, seorang warga menemukan belut yang berukuran besar disungai dan disantapnya beramai-ramai. Tidak lama setelahnya, terjadi bencana banjir besar dan gempa yang berkekuatan tinggi menyebabkan kota kecil tersebut hancur dan sebagian warga mengungsi dan meninggalkan daerah tersebut. Dataran yang lebih rendah dari perbukitan disekitarnya kini dulunya berada setara tinggi bukit disekitarnya. Itulah mengapa belut disini dijadikan hal yang tidak boleh dikonsumsi atau diganggu keberadaannya. Bekas puing-puing keberadaan kota kecil tersebut masih tersisi dengan terdapatnya tumpukan bebatuan yang tersusun didaerah tidak jauh dari tempat kami mandi. Saya tidak sempat mengunjunginya karena sudah petang. Menariknya lagi tidak jauh dari tempat kami, terdapat air terjun dengan ketinggian 2 hingga 3 meter. Yang akan saya kunjungi berikutnya.

Pemandangan bukit disekitar lokasi permandian

Jadi, tidak harus jauh untuk menemukan tempat menarik sekadar melepas keletihan, kan?. Jelajahi wilayah-wilayah sekitar tempat tinggal dan ceritakan ke khalayak ramai. Patuhi aturan adat warga sekitar dan tidak membuang sampah sembarangan agar nampak alami sepanjang masa tempat Wisata tersebut.

11 Comments:

  1. Keren….. sekali sekali harus ke sana ni, dan tmn ilham sebagai pemandunya karena sdh lebe dulu thu jalannya. Hehehehe

  2. @Iros Tani : Siap! dan jangan lupa siapkan fisik 😀

  3. Mbak @Wulan : Wow…promosi blog juga 😀 langsung ke TKP blogwalking

  4. Saya yang orang Ende saja baru tau ada sumber mata air panas di situ xixixixi… ini namanya postingan yang memberi inspirasi 😀 kapan-kapan ke sana aaaah… bosan ke KM14 dan Nangapanda melulu pas Minggu ada waktu (pas nggak ke Maurole :P)
    tuteh´s last blog post ..Desa Kurusare

  5. @Tuteh : wah…saya harusnya memasang bendera “hidden paradise” duluan yah disana ala-ala Nadine gitu 😀

  6. Iya ya, Tuhan itu Maha Adil. Indonesia bagian Timur itu mungkin ngga terjamah gedung2 pencakar langit yang beragam model, tapi diberi alam yang lebih keren dibanding gedung bertingkat yang banyak bertebaran di bagian Tengah dan Barat Indonesia.

    Iri deh, di Jakarta ngga ada soalnya…

  7. aduh…harus komentar bagaimana yah klo sudah mulai membanding-bandingkan keadaan suatu tempat, padahal setiap tempat punya ciri tersendiri 🙂

  8. wah tega nih, gak ngomong2 di Ende ada air panas, kalo tau gituh…habis perjalanan riung-ende bisa relaksasi disana

  9. Lah…saya aja baru tahu tempat itu, setelah kedatangan kalian…iya saya lupa beritahu air panas yg dekat Moni itu…lupa…lupa

Leave a Reply

Your email address will not be published.

CommentLuv badge