Stories

Tidak Bercita-cita Jadi Seorang Dokter

Cita-cita itu memang harus dirangkai sejak kecil. Seiiring bertambahnya usia, tanpa saya sadari setiap langkah yang saya ambil adalah buah dari design mimpi masa kecil. Dahulu, jika anda bertanya ke anak-anak usia SD “Mau jadi apa kalau besar, nak?”. Serentak mereka ada yang menjawab “Ingin jadi dokter, jadi polisi, jadi tentara, jadi guru…Iya itulah cita-cita paling dominan anak kecil. Tapi saya tidak pernah menyebutkan Dokter sebagai cita-cita saya kelak. Bukannya saya takut jarum, takut darah, nilai IPA saya rendah ataupun takut pada kejadian yang merenggut nyawa seseorang. Tapi, mungkin ini karena ilmu yang diajarkan semasa sekolah tidak pernah memihak dan membesarkan hati saya, hingga redup dan semakin redup. Sudah tidak kuinginkan pula ditambah dengan mata pelajaran yang tidak mendukungku.

dokter

Saya ingat betul, dimalam usai makan, Ibu saya selalu bercerita banyak hal, saya pun mendengarkan sambil tiduran. Mulai dari amanah, tata karma, do and don’t, lagu masa kecil, sholawat, dan lain-lain. Saya harap kamu tidak iri, bagaimana cara mengajar orang tuaku dulu menghasilkanku seperti diriku kini. Yang juga masih kuingat ketika diajarkan lagu “sepohon kayu daunnya rimbun, lebat bunganya serta buahnya, walaupun hidup seribu tahun kalau tak sembahyang apa gunanya…”. Jauh sebelum alm. Udje mendendangkannya kembali ala anak muda zaman sekarang, tapi saya sudah menghapalnya.

Suatu ketika saya bertanya, apa arti namaku? Kenapa Ilham Himawan. Orang tua tidak memberikan jawaban pasti arti kata tersebut. Beliau hanya beralasan bahwa Ilham itu diambil sama dengan nama anak B.J. Habibie yaitu Akbar Ilham. Beliau berharap kelak saya bisa jadi pilot ataupun orang yang bekerja dibidang teknik. Kemudian nama Himawan?. Beliau juga mengambil nama orang yang sama yang dikenalnya berprofesi sebagai pemimpin perusahaan saat itu. Beliau juga berharap kelak saya bisa menjadi pemimpin masa depan.

Benar nama itu adalah doa, cita-cita yang saya gaungkan ketika ditanya “Apa cita-citaku?” masa SD saya menyebut ingin menjadi pilot. Cita-cita saya sering berubah sesuai kesukaan saya kala itu. Baca deh postingan blog ini [IM-HAN] Surat untuk Anak Indonesia. Pilot, astronot, kemudian ahli fisika, jurnalis, dan akhirnya seperti sekarang ini.

Saya sangat berterimakasih kepada guru SD ku. Nama beliau Samudera Mallarangeng, beliau terkenal killer tapi saya mengenalnya bersahaja. Beliau hebat dibidang eksakta. Dasar-dasar ilmu matematika dan IPA yang kuat saya terima dari beliau. Saya terakhir mengunjunginya saat mudik pertama kali setelah diterima bekerja. Saya membawakannya sekantong buah kerumahnya. Saat memasuki halaman rumahnya, beliau terheran, mungkin beliau lupa. Syukur kala itu beliau masih sehat wal afiat. Yang saya kenal beliau mengidap penyakit jantung, yang masa SD sering meninggalkan kelas kami dalam keadaan kosong beberapa hari setiap dua minggu sekali.

Mau tahu, apa kalimat saya pertama kali ketika bertemu beliau, “Pak, masih ingat saya? Saya Ilham Himawan, murid SD bapak, yang dulu pernah bapak bonceng motor mengantar pulang karena saya saat itu hampir dibully kawan-kawan”. “Bapak punya banyak murid nak, tapi tidak lupa kamu, saya kira kamu bagai kacang yang lupa akan kulitnya, syukurlah kamu tidak begitu” beliaupun membalasnya. Saya jadi teringat saat prosesi penerimaan ijazah SD, saya benar-benar tidak bisa menahan tangis tersedu-sedu tepat bersalaman dihadapan beliau. Tiba-tiba saja derai air mata itu mengalir. Mungkin ini pengaruh keikhlasan beliau mengajar.

Sejak lulus SD pun sebenarnya saya masih sering sesekali melewati rumah beliau dengan bersepeda hanya sekadar mau memastikan beliau masih ada, beliau masih tinggal disitu. Hingga suatu ketika saya memberanikan diri bertamu sebagai rasa syukur saya atas ajaran beliau selama ini. Semoga beliau masih dalam limpahan Allah SWT dan dikaruniai umur yang panjang, karena muridnya ini masih tidak lupa mendoakan untuk beliau.

Kembali ke cita-cita masa SD. Karena keikhlasan Pak Samudera mengajar, saya pun diikutkan lomba sains sekota Makassar. Namun saya gagal hanya karena soal yang membahas terkait eksperimen dan peralatan laboratorium. Itu yang menghambat saya. Saya masih ingat, saya tidak bisa menjawab soal mengenai “tabung reaksi”. Saya sering membacanya tapi tidak tahu persis bentuknya. SD ku memang minim falisitas lab ataupun kit untuk praktek. Kecuali satu, peralatan praktek ilmu listrik dengan lampu dan battery yang cikal bakal saya suka ilmu fisika walaupun bisa dibilang saya tidak hebat dibandingkan lainnya.

Memasuki SMP, saya kembali mengalami keterpurukan ilmu eksak khususnya Biologi. Mungkin karena ketidaksukaan saya. Guru biologi kelas 1 mengajarkannya dengan cara membosankan. Selama setahun yang diajarkan hanya anatomi hewan dan tumbuhan. Kelas 2, saya masuk dalam kelas unggulan, ibaratnya kelas bagi siswa yang dinilainya diatas rata-rata. Kemudian lomba IPA tingkat SMP pun kembali digelar, dan guru Biologi kembali memilih beberapa siswa pintar untuk mengikuti proses persiapan setiap hari usai jam belajar di laboratorium. Saya tidak terlibat karena memang saya tidaklah pintar. Tapi saya penasaran dengan peralatan di laboratorium yang penuh debu, suram dan jarang diakses siswa. Saya masih penasaran peralatan IPA yang diajarkan zaman SD itu. Tanpa terlalu berharap, saya pun ikut-ikutan masuk laboratorium dan bilang ke gurunya “Bu, saya ikut belajar yah, Cuma mau tahu saja”. Saya pun habiskan waktu ku hingga sore hari. Tapi guru ini mengajarkan dengan tidak adil, jika saya bertanya sesuatu beliau tidak langsung memberi jawaban tapi mendahulukan siswa yang akan mengikuti lomba saja. Yah wajarlah…

Kelas 3 saya kembali tidak berpihak dengan biologi. Satu mata pelajaran yang tidak masuk diakal saya adalah “Rekayasa Genetika” yang membuat saya terpaksa mengulang ujian berkali-kali, tugas materi ini saya capai dengan nilai paling jelek disatu kelas. Rekayasa Genetika dapat diartikan sebagai kegiatan manipulasi gen untuk mendapatkan produk baru dengan cara membuat DNA rekombinan melalui penyisipan gen .“Kenapa sih harus merekayasa genetika?”, mengajarkan saya pada contoh kasus; apakah kemungkinan hasil pembuahan jika Pria Arab dengan golongan darah A, buta warna yang kawin dengan Wanita Eropa dengan golongan darah O tapi tidak buta warna. Tidak masuk akalku, karena urusan pembuahan adalah karunia Allah yang menciptakannya nanti.

Itulah kisah kenapa saya tidak memilih profesi dokter seperti cita-cita anak-anak kebanyakan. Kemudian usai SMP saya hanya berkeinginan melanjutkan sekolah yang tidak mengajarkan ilmu biologi. Tersebut lah kisah saya masuk ke sekolah kejuruan, yang hanya mengajarkan ilmu fisika dan kimia.

Dari namaku, saya tidak berharap menyamai Pak Habibie. Dari namaku, saya tidak berharap jadi pemimpin perusahaan. Tapi saya berharap menyamai mereka dari hasil kerja kerasnya dan kemauannya. Saya tidaklah hebat seperti harapan orang terdekatku, tapi hanya berusaha menjalani apa yang saya yakini dan senangi. Tapi kini, saya menyenangi artikel dan berita-berita dibidang kedokteran loh. 😀

Benar nama itu adalah doa, kita hanya bisa berusaha, masa depan, Allah yang menentukan, kita hanya perlu menjani masa kini lebih baik lagi.

“When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it” – The Alchemist, written by Paulo Coelho, page 40

Comments To This Entry.
  1. lola September 19, 2013 Reply

    Wowwww…

  2. tuteh September 19, 2013 Reply

    “When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it” – The Alchemist, written by Paulo Coelho, page 40

    What a great quote! *perang postingan blog* 😀
    tuteh´s last blog post ..Cerita dari Kamp Pengungsi

  3. farid nugroho September 21, 2013 Reply

    sepertinya ini bisa jadi inpirasi untuk postinganku berikutnya 😀
    farid nugroho´s last blog post ..Mobil Murah yang Masih Saja Mahal

  4. yasmain September 23, 2013 Reply

    senang membacanya….senang mendapatkan koreksi mendalam,…jika gugatan pada sang guru adalah saya, …maafkan saya Nak! …saya hanya pembuat gerabah yang mengangkat tanah, membanting, menginjak, membasahi, membentuk, menjemur, memberi gambar dan memoles..mmmm tentulah perilaku yang membosankan..saya pun hanya pembuat gerabah yang bermimpi gerabahku terpajang indah di sudut terbaik di meja kantor,…kini mimpiku tercapai satu persatu…meski jejak membosankan yang kutinggalkan pun mulai terkuak satu-satu….mmm…apalah dayaku Nak, saya hanya pembuat gerabah, toh mimpiku tercapai…. salut Nak, sukses terus .. 🙂

    • ilhamhimawan September 23, 2013 Reply

      Maafkan saya, jika menurut Pak ini adalah koreksi. Sepenuhnya saya tidak berpikiran seperti itu dan saya pun tidak dendam. Saya hanya mengangkat cerita yang menarik dimasa lalu, alih-alih berharap semoga tulisannya bermanfaat. Pelajaran yang bisa saya ambil, bahwa jika tidak menyukai akan satu hal, kita akan sulit berdamai tentang hal tsb hingga diri ini mau menerima dengan lapang dada. Terimakasih komentarnya dan menjadi kutipan yang menginspirasi. Salam 😀

  5. indobrad October 30, 2013 Reply

    ah, jadi terharu :’)
    indobrad´s last blog post ..Memburu Rahmat di Welahan

  6. Rady R. Dypatra November 13, 2013 Reply

    saya bercita-cita jadi dokter lo dulu bang, tapi yah rahasia dan rencana Tuhan lebih hebat daripada utopia seorang hambanya. Klo saya jadi dokter belum tentu kita bertamasya ria kan di Riung dan Ende?

    • ilhamhimawan November 14, 2013 Reply

      Wah…iya benar bro Rady eh btw masa iya sih klo jadi dokter berarti gk bisa ke Flores liburan 😀

  7. iRa December 1, 2013 Reply

    argh suka banget dengan quotenya Paulo Coelho…auwwww….auwww
    iRa´s last blog post ..#TourDeJava : Berwisata Kuliner hingga ke Madura

Leave a comment

CommentLuv badge

Get Adobe Flash player