Stories

Pesona Pulau Batuwingkung, di Utara Indonesia

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari kisah perjalanan saya sebelumnya disini :

Daerah pesisir seperti Tahuna tidaklah begitu dingin dikala Subuh maka, saya bergegas mandi saat jam menunjukkan pukul 4.30 pagi. Tim perjalanan lain juga baru tiba subuh ini dengan kapal dari Manado sejak semalam. Itu artinya ketika mereka tiba, kami akan melanjutkan perjalanan darat menuju Manalu, Ibukota Kecamatan Tabukan Selatan daerah pesisir sebelah timur Pulau Sangihe. Jaraknya sekitar 48 Km dengan waktu tempuh kurang lebih sejam dengan jalan berkelok dan mendaki. Kalau dilihat dipeta, sepertinya kita berjalan membelah Pulau Sangihe dan mengitari pegunungan.



Menjelang siang saya sudah tiba di pinggir pantai Manalu yang menghadap langsung ke Pulau Batuwingkung yang merupakan tujuan berikutnya. Kami rehat sejenak menunggu Bu Guru Nisa, dia adalah Pengajar Muda Indonesia Mengajar yang ditempatkan dipulau tersebut. Sambil menunggu, saya menikmati  suguhan pisang goreng diwarung sederhana dipinggir pantai. Tiba-tiba kawanku menerima telepon Nisa, katanya mesin perahunya mati dan akan tiba lebih lambat. Wow!…kebayang gak kalau seandainya perahu itu mati lagi pas kami tumpangi. Itu berarti petualangan baru akan terjadi.

Dari obrolan diwarung tadi bahwa di perairan inilah hidup kawanan hiu. Ohhh…. Bagian sirip hiu yang menjadi incaran para nelayan, memotong siripnya secara hidup-hidup atau biasa dikenal dengan shark finning, kemudian hiu dibuang kembali ke laut hingga mati secara perlahan, kasihan yah!. Sirip yang dikumpulkan kemudian dijual kepada para nelayan Filipina di perbatasan laut. Tapi tidak jarang, nelayan-nelayan Filipina masih saja ada yang nyasar ke perairan Indonesia demi memburu hasil laut. Ada juga yang masih mengkonsumsi daging binatang buas ini,  padahal hiu merupakan predator yang hidup lama di laut sehingga tubuh hiu mengandung banyak logam dan zat kimia, seperti merkuri.

Bu Guru Nisa pun tiba, menyambut dan mengajak kami segera menuju dua perahu motor yang akan kami tumpangi. Satunya milik Pak Semi Kaemba ayah angkat Nisa. Untuk menuju Pulau Batuwingkung  kita akan menggunakan perahu bercadik. Pulau Batuwingkung adalah pulau kecil yang berhadapan langsung dengan pantai Manalu. Konon ceritanya, kata Batuwingkung berasal dari nama sebuah batu karang yang terdapat dipesisir pantai yang membentuk wingkung. Wingkung adalah alat bantu untuk membuat perahu.

Sekitar 20 menit perjalanan, tibalah saya dipulau Batuwingkung. Maaf tidak ada kesalahan kostum difoto ini dengan menggunakan celana panjang dan baju bermotif batik (bukan baju batik). Hanya karena etika saja untuk bertamu dan akan ada acara simbolik penyerahan buku.

Kemudian menelusuri jalan setapak diantara rumah-rumah warga dan menuju kantor Kapitalaung untuk melapor. Kapitalaung adalah sebutan bagi kepala kampung atau kepala desa yang merupakan  orang yang dihormati dan menjadi panutan, beliau bernama Risno Mangune. Ternyata kantornya tutup, dan beliau sudah menunggu kami di Rumah Bapak Semi Kemba. Beliau adalah satu-satunya keluarga yang menganut Islam di pulau ini. Rumah beliau ada dipuncak, melalui setapak dan jalan yang berundak-undak. (Benar gak yah kalimat ini “berundak-undak” tapi lebih mirip tangga juga sih sebenarnya…ahh, sudahlah!).


Lelah saya siang itu bukan apa-apa, saya berusaha menyangkal tidak lelah ketika menjejakkan kaki pertama kali disini, terlebih lagi kedatangan kami yang disuguhi kopi oleh sang pemilik rumah.

Suguhan kopi hangat siang hari sebenarnya juga tidak lazim bagi saya. Menikmati kopi pun sebenarnya juga tidak  terbiasa dilidahku. Kata ponakan perempuan saya yang berusia 5 pernah ngomong kesaya begini;

“Kalau mau kulitnya putih, yah harus rajin minum susu. Kalau minum kopi nanti tambah hitam loh…”. Hahahaha saya serentak tertawa terpingkal-pingkal mendengar itu.

Pernah suatu ketika saya bekerja di dinginnya malam, rekan lainnya meredam rasa dingin dengan meneguk secangkir kopi. Merasa tidak ingin menderita sendiri, saya pun mencoba meminta disajikan satu cangkir. Dan saya mengkonsumsi disaat perut kosong, alhasil rasa kembung tak terperih terasa hingga subuh. 🙁

Menikmati kopi memang bukan kebiasaan saya, tapi ada momen tertentu dimana saya tidak menghindarinya dengan berbagai alasan. Diantaranya ketika saya bertamu dan mengunjungi orang baru yang menyediakan kopi sebagai welcome drink-nya, saya tidak akan menolak. Budaya di kawasan timur Indonesia mengharuskan tamu untuk mencicipi kopi yang sudah disajikan. Di cerita kepercayaan masyarakat Sulawesi Selatan pun mempercayai bahwa ketika disajikan kopi sebelum berangkat untuk perjalanan tertentu, dan kita tidak mencicipinya biasanya kejadian buruk akan menyertai sehitam pekatnya kopi. Wuih…serem gak tuh?

Tapi Kopi Batuwingkung terasa berbeda bagi saya, bukan sekadar kopi tapi juga obat bagi dahaga yang haus siang itu. Aroma cengkeh dan kayu manis semakin membuat nyaman diperut, tidak terlalu berat ataupun kental. Dan suguhan makanan siang pun tertata apik dimeja, ada ubi rebus, pisang goreng yang dilumuri gula merah atau gula jawa, sagu bakar, sambal khas dan tentunya hasil tangkapan laut berupa ikan.

Usai makan siang, ngobrol dan istirahat. Saya dan kawan-kawan memutuskan jalan-jalan disekitar pulau. Kami berencana menuju pulau kecil diseberang itu (lihat gambar diatas). Pulau kecil inilah yang digambarkan masyarakat mirip dengan wingkung. Untuk menempuhnya bisa berjalan selama pasang surut, tapi kami memilih menumpang perahu saja, biar lebih aman, tapi perahu tanpa menjalankan mesin hanya didorong dengan bambu seperti naik rakit.

Menjelang sore, warga sudah mulai berkumpul menuju sebuah sekolah disebelah gereja. Disana dibangun tenda-tenda dengan banyak deretan kursi. Saya kaget, apakah ini sambutan warga akan kedatangan kami? Oh ternyata tidak, karena dihari yang sama warga mengadakan kebaktian. Hingga malam hari kegiatan kami berlanjut, dengan cengkrama bersama warga serta suguhan lagu daerah yang dibawakan sekelompok ibu-ibu dan anak-anak.

Tidak lengkap acara jika tidak ada sajian makanan. Setiap kepala keluarga membawa sendiri menu-menu masakannya dari rumah, untuk kemudian dibaur bersama di satu meja, dan dinikmati bersama. Betapa akur dan damainnya disini. Sebelum meninggalkan acara, seorang murid SD menemui saya,

“Pak, besok kita pi mandi-mandi di pantai. Pak ikut ee! Bawa kamera supaya foto kita nanti. Besok jam setengah enam”.

Eh? Ke pantai jam segitu? Umhm…baiklah, sepertinya menarik. Saya akan melanjutkan ceritanya besok  deh…

 

Comments To This Entry.
  1. JaF September 22, 2013 Reply

    Selalu iri sama yang bisa jalan-jalan ke tempat seperti ini.. Plus penasaran dengan kopi Batuwingkung..
    JaF´s last blog post ..Dari Ketoprak Hingga Piyama

    • ilhamhimawan September 22, 2013 Reply

      Hihihhiih…seperti kata Tuteh, mulailah melancong disekitaran tempat tinggal Pak Jaf 🙂

  2. Arystha September 22, 2013 Reply

    wih pantainya keren kak, birunyaaaaaaaaa <– sudah setengah taun tdk liat pantai

    • ilhamhimawan September 22, 2013 Reply

      Hah? Oh tinggalnya dipegunungan yah? Turun gunung dong 😀

      • Arystha September 23, 2013 Reply

        hahaha, bukan kak. kalo di Kupang mah saya gampang akses ke pantai, ini di Malang pantainya jauh hihihi
        Arystha´s last blog post ..The Little Red Strawberry

  3. Dedy Isnandar September 22, 2013 Reply

    Blog telah terupdate

    #This is War
    Dedy Isnandar´s last blog post ..ScreenHero, Sharing and Collaborative is Easy

  4. tuteh September 22, 2013 Reply

    Pengen ngerasain Kopi Batuwingkung. Rata2 di daerah timur Indonesia, suguhan kopi u/ tamu itu wajib hahaha… Keren keren ceritanya, kakak Ilham Himawan. Saya suka dengan foto2nya juga. pertanyaannya adalah … Kapan saya ke tempat itu? Butuh banyak menabung juga 😀

    • ilhamhimawan September 22, 2013 Reply

      Pernah ada yg bawain saya sebungkus kopi Batuwingkung tapi sudah habis. Thanks kaka @Tuteh sudah baca…akan ada masanya ke sana juga 😀

  5. tuteh September 22, 2013 Reply

    Iya nih… hahahaha 😀 Insya Allah diijinkan ke sana hehe 😀
    tuteh´s last blog post ..Situs Bung Karno, Kini

    • ilhamhimawan September 23, 2013 Reply

      Amien…semoga Tuteh bisa jalan2 ke Utara Indonesia juga 🙂

  6. Ragil Duta September 23, 2013 Reply

    “..dikenal dengan shark finning, kemudian hiu dibuang kembali ke laut hingga mati secara perlahan..” jahat ya cara mereka! Duh.. 🙁
    Ragil Duta´s last blog post ..Republik Hore

  7. indobrad September 23, 2013 Reply

    kopi campur cengkeh dan kayu manis? mau jugaaaaaaaaaaaaa
    indobrad´s last blog post ..Masjid Mantingan: Bukti Perpaduan Islam & Budaya Lokal

  8. Rady R. Dypatra November 13, 2013 Reply

    Yok kita jalan-jalan lagi..emejing banget nih. Pengen liburan lagi…seperti di riung itu lo…hohhohoho..

    • ilhamhimawan November 14, 2013 Reply

      Hayuk…saya mah klo dompet dan waktu available…kenapa tidak? 😀

Leave a comment

CommentLuv badge

Get Adobe Flash player