Stories

EdisiSunting#3 “Sayang Anak, katanya”

Saya selalu memilih istirahat siang lebih telat satu jam, biasanya ada kejadian tak terduga dikantor disaat karyawan lain istirahat dan kantorpun sunyi.

Siang yang sama seperti kemarin, panas yang menyengat, mungkin efek pancaroba. Saya pun mengendarai sepeda motor menyusuri jalan kota. Saya bukan tipikal pengendara yang sering balap-balapan, walaupun kondisi jalan sepi dan memungkinkan untuk itu. Alasannya karena pengendara kendaraan di Flores bisa dibilang kurang tertib. Kita bisa sering menjaga laju kendaraan, namun sebagian mereka masih seenaknya, melambung dari sisi kiri, belok tanpa indikasi lampu sign, libur menggunakan helm lah, berhenti tiba-tiba di tikungan, menerobos lampu merah, dan pelanggaran kecil lainnya yang bisa berakibat fatal. Kita bisa saja berhati-hati, tapi jika sial menimpa, kita yang bisa kena imbas ugal-ugalan mereka.

Saya bukannya berkata hebat untuk urusan berkendara tapi dalam benak, saya berkendara untuk menuju ke tujuan bukan untuk mengorbankan keselamatan.

Ahh, masa iya, kita baru menaati peraturan jika ada polisi yang berjaga?. Terlepas tentang aturan dan tata tertib berkendara, yang patut menjadi perhatian saya adalah ketika sang pengendara membawa penumpang, entah dengan mobil, motor ataupun delman sekalipun. Pengemudi harus bertanggungjawab sepenuhnya dengan keselamatan mereka.

Saya pun berkendara lebih pelan, saya tahu, siang begini pengendara lain sedang kebut-kebutan, mungkin karena efek cuaca panas. Tiba-tiba sebuah motor mendahului saya. Seorang bapak tua yang mengendari motor dengan membonceng seorang anak usia 5. Hanya bapaknya saja yang menggunakan helm, egois yah. Anaknya dibelakang bersandar dipunggung bapaknya, tangan kiri memeluk perut bapaknya, dan tangan kanan memegang kantong plastik transparan yang berisi obat-obatan. Mungkin salah satu keluarganya ada yang sakit.

27simp.1-190

Saya pun mengendarai motor lebih lambat dibelakangnya. Sesekali saya perhatikan kaki anaknya dihentak-hentakkan ke sisi shock-breaker motor. Saya hanya berharap kaki anaknya tidak terganjal oleh roda, jika anda melihatnya, saya yakin anda akan berpikir bahwa kondisi tersebut berbahaya.

Di jalan yang lurus, didepan lapangan Pancasila saya bermaksud mendahuluinya. Selang beberapa menit, terdengar suara rintihan anaknya, berteriak kesakitan. Yang benar saja, salah satu kaki anak tersebut terjepit diantara batang shock-breaker dan sisi roda. Eggrrr….miris melihatnya.

Saya berhenti disebuah warung makan yang memang tidak jauh dari tempat kejadian.

Pikirkan lagi deh, apa iya, seorang bapak seperti tadi menyayangi anaknya? Jika menyayangi, kenapa tidak memperhatikan keselamatannya?…ahh jangan terlalu egois, hingga anak dibonceng tanpa menggunakan helm, juga tanpa pengawasan.

Catatan : Sunting – langSUNg posTING…tidak pakai lama!  😀 …karena cerita singkat itu, kadang menggelitik dan sedikit mengusik.
EdisiSunting#1 “Pria botak pun terdiam”
EdisiSunting#2 “CD Jungkir balik”
Comments To This Entry.
  1. tuteh November 18, 2013 Reply

    Waaaa! Kasihan sekali kaki anaknya itu! Tidak apa-apa kah? Kenapa e, para ortu ni kadang-kadang tidak begitu peduli sama keselamatan anak mereka saat berkendara -_-!
    tuteh´s last blog post ..#KegiatanFC2013

Leave a comment

CommentLuv badge

Get Adobe Flash player