Stories

Sweeping atau razia, hindari gak yah?

Sebelum saya menceritakan kisahnya. Ada sedikit keganjilan dalam penggunaan kata sweeping ini. Saya tidak mengerti kenapa kata “sweeping” dijadikan sebagai kata pengganti dari “pemeriksaan”. Beberapa orang sering menggunakan kalimat ini, termasuk saya.

Dalam pemikiran sederhana saya, sweeping dan razia beda-beda tipis. Sweeping adalah pemeriksaan yang tidak resmi, sedangkan razia adalah pemeriksaan yang terencana…mungkin loh yah. Pihak yang mengalami sweeping atau razia adalah pihak yang bersalah, begitu pun sebaliknya. Mungkin anda lebih tahu sisi yang benar? beritahu saya.

156521_1368805599

Nah, kalau dirazia dengan polwan ini, saya bersedia deh *melting* 😀

Pagi ini sekitar jam 9.30 saya baru berangkat ke kantor, lebih telat dari seharusnya. Ini ibarat kompensasi atas pekerjaan saya yang hanya bisa dikerjakan dari jam 12 malam hingga jam 3 subuh. Waktu yang dimanfaatkan orang-orang terlelap dibalik selimut dimalam yang dingin. Waktu-waktu itulah pengguna layanan telekomunikasi sangat sedikit, kecuali pengidap insomnia. Waktu itu pula yang tepat bekerja dengan perangkat, melakukan pemeliharaan, instalasi atau upgrade, dan sejenisnya yang tidak mengganggu pengguna kebanyakan. Itulah yang saya lakukan, namun tidak rutin.

Belum beberapa menit saya keluar dari halaman tempat tinggal dengan kendaraan motor, seorang polisi berseragam lengkap berdiri ditengah jalan dan mengarahkan semua kendaraan dari berbagai jalur untuk memasuki area pemeriksaan. Biasa kita mengenalnya dengan kata “sweeping”.

Hal yang sering menggelitik saya adalah perilaku pengguna kendaraan ketika mendengar adanya sweeping atau melihat dari jauh sekelompok petugas kepolisian berjaga. Yang mereka lakukan adalah segera berbalik arah dan mengarahkan seluruh pengguna motor lainnya diarah yang sama untuk berbalik. “Balik sudah, ada polisi” salah satu dari mereka memberi isyarat. #eh ngapain balik, toh saya gak ada kesalahan kok, hati saya sedikit dongkol.

Setelah masuk area pemeriksaan, polisi-polisi yang berjaga justru tidak memeriksa saya, sebaliknya mengarahkan jalur keluar area tersebut. Kenapa? Mungkin, mereka melihat sepintas kondisi kendaraan saya dengan kaca spion lengkap yang istilah anak gaul sekarang seperti “berdoa” hahahah…dan saya menggunakan helm standar nasional. Apa yang harus dikhawatirkan? Jikalau pun saya diperiksa, surat-surat saya lengkap.

Nah, saya teringat pas mudik kemarin di Makassar. Saya bahkan tidak berani menggunakan motor adik saya yang STNK nya lupa ditaruh dimana, hingga saya ingin berangkat belum juga ditemukan. Alhasil, saya urungkan niat memakai motor tersebut, padahal saya hanya ingin ke ATM dekat rumah sekitar 10 Km saja.

Tapi, siapa tahu, 10 Km itu kita akan dihadapkan oleh kendala. Terlalu perfeksionis? Tidak juga, saya hanya menerapkan aturan yang berlaku berdasarkan pengalaman yang pernah saya alami, serta mengurangi risiko ketidakpastian #halah pemikiran orang ekonomi. haahahah

Ada kisah lainnya, mengapa kelengkapan berkendara itu begitu penting bagi saya. Begini ceritanya?

Hari minggu pagi kala itu, saya ada janji mengikuti acara silaturahmi keluarga Sulawesi di luar kota, bergegas saya mandi kemudian berangkat dengan kendaraan bermotor. Jaraknya sekitar 20 Km menelusuri jalur jalan yang sedikit menikung. Tipikal pengendara kendaraan bermotor, jika dihadapkan pada kondisi jalan yang lurus dan tidak ramai kendaraan, mereka biasanya memacu kendaraannya lebih kencang dari biasanya. Yah kondisi jangan yang lengang diarah luar kota di Flores memang seperti itu.

Menjelang memasuki area, saya pun menyalakan lampu sign kearah sebelah kanan jalur. Kejadian kecelakaan itu sangat cepat, sepersekian detik, usai saya melewati batas marka jalan, sebuah motor dari arah yang sama tiba-tiba menyerempet motor saya. Alhasil, pengendara motor tersebut jatuh dan terseret beberapa meter. Sedangkan saya sebagai korban, hanya jatuh tidak terseret dengan posisi terlentang dan tiba-tiba menghadap ke langit. Kepala saya membentur jalan, tapi saya diselamatkan oleh helm yang masih terpasang dikepala. Jadi kalau mau dibayangkan, saya seperti jatuh terhempas ke lantai dengan bantal dikepala. Tidak ada rasa sakit, hanya baju kaosku sedikit robek karena gesekan aspal.

Saya serta merta bangkit dan tidak segera memposisikan kendaraan saya, tapi yang pertama saya lakukan adalah melihat kondisi kejadian. Kekhawatiran saya jika tiba-tiba ada kendaraan lain yang melaju kencang dari arah yang lain, hal ini berakibat fatal.

 Apakah ada yang terluka?. Dalam tempo singkat, saya mendengar jeritan dua orang anak kecil dua merintih kesakitan. Saya lalu lari melihat kondisinya, ternyata dia adalah anak dari pengemudi kendaraan tersebut.

Setelah saya periksa, ternyata tidak ada luka parah dianak tersebut hanya tergores sedikit, sedangkan bapaknya luka dipelipis karena tersungkur di aspal.

Orang-orang mulai berdatangan melihat kejadian, ramai, riuh, semuanya berbicara, saya bingung mendengarnya. Sebuah mobil angkutan yang kebetulan lewat, singgah, dan membantu mengantarkan korban bapak tua itu ke rumah sakit terdekat.  Saya hanya pendatang, sehingga jika berurusan dengan warga lokal saya butuh didampingi. Datanglah beberapa kawan saya yang kebetulan polisi dan tentara yang berada tidak jauh dari TKP.

Walaupun mereka aparat kepolisian atau tentara, kehadiran mereka hanya sekadar menemani saya mengurus perkara, saya tetap bertanggungjawab jika memang saya yang bersalah.

Terlepas dengan urusan kepolisian,  saya melanjutkannya jika semua yang terlibat sudah ditangani pihak rumah sakit. Beberapa warga mendesak saya untuk ikut mereka ke rumah sakit, dan bertanggung jawab. Padahal, jika melihat kronologisnya, saya bahkan menjadi korban disini.

Saya pun ikut ke rumah sakit, memeriksa jikalau ada luka yang berarti. Kedua anaknya baik-baik saja, bapaknya mulai diperban lukanya. Setelah semuanya beres, sebelum meninggalkan rumah sakit, saya hanya tiba-tiba merasa iba dengan menitipkan uang 100 ribu sebagai biaya pengganti berobat mereka.

Kawanku yang polisi pun meminta informasi kedua belah pihak, dan memberitahu ke bapak tua bahwa jika ada hal yang perlu diselesaikan bisa segera ke kantor polisi. Sejauh ini aman, saya pun kembali ke tempat acara dengan menggunakan sandal jepit, karena sendalku hilang satu entah dimana, padahal saya jatuh tidak jauh dari motor.

Tiba-tiba jam 3 sore, dari kepolisian meminta saya datang karena pihak korban merasa perlu melanjutkan perkara ini. Korban? Bukankah saya yang menjadi korban?. Oke baiklah, karena tidak merasa bersalah apapun saya pun mendatangi mereka.

Di kantor polisi, kedua belah pihak diberikan kesempatan menjelaskan kronologis kejadian, hingga pihak polisi menarik kesimpulan bahwa saya lah pihak korban. Kami pun dimintai surat-surat berkendara. Lucunya adalah, bapak tua yang menggugat tidak memiliki SIM, STNK dan pada saat kejadian tidak menggunakan helm. Jelas, siapa yang akan bersalah jika kasus ini dilanjutkan menurut Pak Polisi tersebut. Keputusannya, kami diminta untuk menandatangi surat damai untuk tidak saling menggugat suatu saat nanti. Akhirnya bapak tua yang merintih kesakitan itu pun pasrah menerima keputusan.

Teman saya yang polisi tadi, hanya menunggu diluar ruangan karena yang berhak menyelesaikan masalah adalah saya pribadi. Usai keluar ruangan, dia pun beranggapan, kemungkinan bapak tua itu berharap jika dia menang di perkara ini, saya yang tadi memberikannya uang 100ribu akan mendapatkan tambahan bantuan biaya lagi karena terkesan saya adalah penyebab mereka jatuh dan terluka. Mendengar cerita itu, saya tertawa kecil “Yah…dasar!”.

Kita tidak bisa menghindar jika sebuah malapetaka akan menimpa, tapi kita bisa mengurangi risiko kejadian dengan mengikuti aturan berkendara yang benar. Faktanya, orang di Flores jika hari libur mereka biasanya libur menggunakan helm. Dengan memodifikasi kendaraan seperti melepas kaca spion sudah menjadi trend dikalangan masyarakat, padahal fungsi kaca tersebut sangat bermanfaat loh.

Semoga kita bisa belajar dari kejadian diatas, oh yah seperti pesan polwan-polwan cantik diatas yang sering nongol di TV. “Jadilah pelopor keselamatan berlalu lintas” begitu kata si cantik Briptu Eka. 😀

Comments To This Entry.
  1. farid nugroho November 16, 2013 Reply

    kadang aneh juga, punya semua perlengkapan tapi ga ada razia. Kangen sama polisinya. *apalagi polisi kaya di atas * 😀

  2. bisot November 17, 2013 Reply

    kalo yg nilang cakep gitu yah pantaslah untuk galau 😀
    bisot´s last blog post ..sedikit tentang Cultuur Stelsel

  3. wulan dalu November 17, 2013 Reply

    wiiih briptu Eka, favorit suamiku *eh
    btw di sby juga lg musim razia2 deh, sampe numpuk motor2nya, ga capek apa ya polisinya

    • ilhamhimawan November 17, 2013 Reply

      wah..pokoknya klo ciamik dilayar Tivi pasti jadi favorit deh hehhehe btw sekarang sudah Briptu yah? wah kirain dah Bripda…edit-edit

  4. Ragil Duta November 18, 2013 Reply

    Kalau polwan-polwan itu yang merazia, saya mungkin malah bakal ngumpetin STNK sambil teriak, “Razia aku aja, kak! Razia!” 😀
    Ragil Duta´s last blog post ..Komposisi Dalam Fotografi

  5. Yos Beda November 18, 2013 Reply

    jadi inget jaman kelas satu SMS yang serba dilema kalau ada sweeping SIM, may nyari SIM umur belum boleh,,, :v

  6. tuteh November 18, 2013 Reply

    Itu namanya mencari kesempatan dalam kesempitan, si Bapak itu. Sudah tahu dia di pihak yang tidak menguntungkan dalam hal surat-surat (SIM, STNK), ditambah tidak pakai helem, malah mau melanjutkan perkara. Kudunya si Bapak itu menginvestigasi dirinya sendiri, kemudian menginterogasi dirinya sendiri juga, baru deh dia mengambil keputusan apakah mau melaporkan/gugat lagi ke polisi hahaha *sok banget deh saya*

    Btw, ketika kita iba pada orang yang bertabrakan dengan kita (kecelakaan, menyerempet, dll), sesungguhnya mereka melihat peluang entrepeneur di situ LOL 😉 sekali dapat 100rb, mungkin nanti dapat 1juta. Begonoh kali yah hahaha.

    Boleh pinham helemnya, kk Ilham? 😛 helem saya STS; standart tuteh saja 😀 *kabur*

  7. Arystha November 20, 2013 Reply

    wah, di rantauan gak dikasi sepeda motor jadi belom tau rasanya dirazia hihihi
    Arystha´s last blog post ..Pohon Zakeus

  8. indobrad November 21, 2013 Reply

    mau dong ditilang sama Briptu Eka 🙂

    #PerangPostinganBlog
    indobrad´s last blog post ..Batik Nongkrong

  9. benny January 4, 2014 Reply

    belajar akting aja mendingan. jadi bisa menghadapi dengan wajah memelas gitu.

    Mampir di mari ya, om:
    http://www.bennyrhamdani.com/2014/01/cheria-tour-travel-biro-perjalanan-haji.html

    • ilhamhimawan January 19, 2014 Reply

      Hahahha…wajahku bukan wajah aktor yg bisa acting Oom…sip siap meluncur ke tekapeh 😀

  10. Adinda Barbara August 20, 2015 Reply

    cantik polwannya 🙂

Leave a comment

CommentLuv badge

Get Adobe Flash player