Stories

#TripFC part01 : Penantian Panjang Hingga ke Labuan Bajo

Saya gelisah menjelang keberangkatan, bukan karena tiket belum ditangan, bukan karena tidak tersedia dana liburan, bukan pula karena hal lainnya. Justru semuanya sudah disiapkan jauh hari sebelumnya, lantas kenapa saya harus gelisah. Bayangkan, Labuan Bajo masih daratan Flores, Labuan Bajo pernah aku datangi walau hanya hitungan jam, Labuan Bajo masih di NTT…kenapa masih harus gelisah. Mari kita runut…

Penantian panjang untuk bisa “benar-benar” berlibur inilah yang membuat saya gelisah. Saya pernah bilang, selama saya masih mengunjungi tempat Wisata di NTT, terus terang saya belum “benar-benar” berlibur. Kenapa? Yah, karena saya masih dihantui kerjaan, masih besar peluang saya untuk turun tangan urusi kerjaan kalau-kalau saya sedang berleha-leha di tepi pantai misalnya. Trip ke Labuan Bajo akan menjadi berbeda ketika saya benar-benar mengajukan cuti hanya untuk berlibur di daratan Flores.

Alasan lainnya, karena trip ke sana membutuhkan biaya besar. Biar lebih seru, lebih ramai berangkat lebih asik. Itulah mengapa, saya rela meredam keinginan ini bertahun-tahun menunggu kawan-kawan lainnya siap berangkat bersama, sama-sama menabung jauh hari, sama-sama memendam harap, walau rasa iri sering menggelayuti dikala melihat foto-foto atau cerita teman lainnya yang telah berkunjung kesana.

Oh yah ada alasan lain, karena perjalanan se Flores saya belum lengkap cerita jika belum menyambangi ujung baratnya. Mungkin itulah alasan kenapa saya belum juga mutasi, karena belum tuntas perjalanan saya *tsahh* hahahah *dream on!*.

10414408_10203942735313533_6264671756501226971_n

Hingga kami semua sepakat, inilah waktu yang tepat berangkat, liburan panjang bulan ini, tabungan yang sudah cukup, cuaca Flores yang mulai meninggalkan musim penghujan dan akhirnya menyusun rencana perjalanan sendiri dengan biaya paling murah. Kami memilih rute sendiri, kami memilih mengunjungi Komodo di Pulau Rinca saja, selain lebih dekat dan lebih murah. Berita baiknya, salah satu member FC ada yang tinggal menetap bekerja di sana…di Labuan Bajo maksud saya,  dan bersedia menampung kami ala kadarnya selama beberapa hari kedepan. Namanya Imelda Marcos.

Ende, 24 Mei 2014

Saya sudah berkemas sejak semalam, satu backpack untuk pakaian, buku, kamera serta satu shoulderback atau tas selempang untuk sleepingbag dan pelampung titipan Tuteh. Sesuai janji jam 9.15 sudah di Bandara karena satu jam kemudian kami akan berangkat. Setelah tiba di Bandara saya hanya bertemu mas Sony, yang lain baru mandi…Oh wow! *ada cerita sendiri tentang tiga huruf ini*.

Cerah pagi ini, bersamaan dengan penumpang berbaju serba hijau, merekalah rombongan MTQ kafilah Kabupaten Alor. Pertandingan puncak akan digelar di Labuan Bajo beberapa hari kedepan, dan mereka adalah pemegang piala bergilir tingkat Provinsi NTT, loh. Sambil mengisi waktu, sesekali menghabiskan beberapa lembar jatah ODOJ hari ini hingga 30 menit terasa cepat mengantarkan kami dari Ende menuju Labuan Bajo.

Blog07

Bandara Komodo yang baru direnovasi itu belum juga kelar, hingga kami harus berjalan kaki menuju keluar bandara. Karena pembelian tiket kami sejak sebulan sebelumnya, jadi untuk rute Ende-Labuan Bajo dengan maskapai TransNusa dipatok sekitar Rp. 350.000.

Blog01

Siang yang terik di Labuan Bajo dihari libur. Imel yang baru saja kelar mandi *nampaknya* bergegas menyambut kami. Kami berlima sepakat naik taxi bandara (semacam mobil MPV) dengan patokan harga Rp. 50.000 tapi kami lebihkan Rp. 10.000 (pengen baik aja!!! Hahaha). Kami pun tiba di kostan Imel. Kami sepakat memberi nama penginapan gratisan ini dengan sebutan “Imel Komodo Lodge” dengan tagline “Kamar Bintang 5, Penghuni warga kaki5”. Hahahaha. Kamar kecil yang akan menderita menampung kegaduhan dan kehebohan kami beberapa hari kedepan. Oh yah, sebelumnya kami sempat singgah ke Kanawa Office memastikan reservasi untuk hari esok.

Menanti sore, berleha-leha dulu, mengademkan hati, hingga beneran adem diluar karena hujan yang tiba-tiba turun, sepatutnya ini menjadi perjalanan yang akan membawa berkah *dalam hati*.

Blog02

Pemilihan tim perjalanan itu menjadi hal penting. Kita membutuhkan keahlian masing-masing dalam segala suasana. Heheehhe. Tuteh disini bertugas sebagai bendahara yang mengatur pengeluaran dana. Saya bertugas sebagai timer yang akan mengingatkan pembagian waktu sesuai itinerary. Kak Poppy bertugas sebagai chef dengan kelincahannya dalam meramu menu masakan sehat agar kami siap menempuh perjalanan panjang dengan badan kuat dan sehat. Etchon disini melengkapi dari kekurangan yang tidak bisa kami handle, dan mas Sony…mhmm…melengkapi nada sumbang di tengah malam hahahah…si ngorok berirama dan terlama.

Blog04
 

Blog03

Sore hari usai hujan, berbekal motor pinjaman *belum sewa*, Goa Batu Cermin tujuan pertama. Lokasinya dekat banget, tapi karena cuaca masih mendung, sensasi batu cermin tidak nampak. Batu ini terkenal bisa memancarkan cahaya dari efek pantulan seperti cermin gitu deh…Kami tidak melanjutkan trekking ke dalam goa, sudah gelap, dan konon katanya kalau tetap kita melanjutkan perjalanan ke dalam goa, bisa-bisa kita tidak bisa kembali. Mungkin karena saking gelapnya, jadi lupa jalan keluar. Tapi rada menyeramkan sih xixixixi…Di goa tersebut terdapat batu hasil stalagmite yang konon katanya jika dipegang oleh lelaki akan bertambahlah keperkasaannya. Hahahah. Wow *ada ceritanya kata ini*

Blog05

Setelah berfoto sepuasnya, bergegas kami mengejar sunset, tapi cuaca usai hujan begini, bagusnya dimana yah? Walau dalam itinerary saya merekomendasikan ke TreeTop Café. Seorang kawan nyeletuk merekomendasikan ke “Bukit Cinta”. Sebagian warga Labuan Bajo mengenal Bukit Cinta sebagai tempat terbaik menikmati matahari terbenam. Saya tidak tahu-menahu asal penamaan tersebut. Bagi saya, pemandangan dari bukit tersebut biasa saja. Hingga kami menemukan seperti gambar ini, yang menjelaskan kepada kami arti “Cinta” yang dimaksud.

20140524_173030

Turunlah kami menuju tepian pantai bermaksud menikmati sore hari dengan ngemil. Saya membonceng Imel berada di posisi belakang, tiba-tiba sesaat berpendar cahaya matahari sore yang sangat sayang jika ditinggalkan. Saya berputar arah tidak mengikuti mereka, memasuki sebuah area bekas tempat pelelangan ikan. Dermaganya sudah rapuh, bahkan mungkin aktivitas pelelangan disini mulai ditinggalkan. Namanya Dermaga Binongko.

Disini kami menghabiskan moment sunset dengan duduk sekadar merenung sambil mendengarkan desiran ombak, dan alunan musik dari gadget-ku, hingga sore berganti malam.

….. Everyday there’s a boy in the mirror
Asking me what are you doing here
Finding all my previous motives
Growing increasingly unclear

I’ve travelled far and I’ve burned all the bridges
I believed as soon as I hit land
All the other options held before me
Will wither in the light of my plan

Kelak ketika kau bertanya, apa yang terpikir olehku, duduk didermaga menatap jauh. Saya hanya bisa berkata,

Saya sudah sejauh ini melangkah, ada yang tercapai ada yang belum, berarti hidupku berjalan,ada sukses ada gagal, itu bagian dari cerita yang terus berlanjut…dan saya ingin kau menemani perjalanan hidupku selanjutnya…

Blog06

Comments To This Entry.
  1. tuteh May 31, 2014 Reply

    Aakkkkk! Cerita yang indah nian, tapi juga sekaligus sukses membuat saya ngikik. Terima kasih, kakak semua untuk momen terbaik dalam hidup saya. Kalian semua awsome dan kita saling melengkapi… *berpelukkan* mari nabung lagi untuk destinasi berikitnya 😀
    tuteh´s last blog post ..#TripFCLabuanBajo 1 : Welcome to Labuan Bajo!

Leave a comment

CommentLuv badge

Get Adobe Flash player