Stories

Jazz Market By The Sea : Selonjoran Menikmati Musik

Dan…mulai kutuliskan kembali…jangan tanyakan alasanku menundanya

Usai Lebaran, liburan sesungguhnya (baca : mulai terhitung cuti) selama dua minggu kuhabiskan di Bali. Sebenarnya bukan liburan sesungguhnya, karena saya juga tidak mengisinya dengan menikmati tempat-tempat wisata. Hanya sekadar menghabiskan waktu dengan tersesat, makan, mengantri fotokopian, berada diruangan kelas, naik motor, mengantuk di dalam perpustakaan yang sejuk, hingga akhirnya bermalam minggu ditepian kolam sambil menikmati musik Jazz.

Jujur ini pementasan musik kedua dengan seniman ternama yang kuhadari. Yang pertama kalinya, sekitar tahun 2003 di Makassar. Memberanikan diri bolos jam pelajaran olahraga demi mengantri tiket gratis musisi jazz asal Jepang bernama Shigeko Suzuki di Konsulat Jendral Jepang, dan yang kedua ini tahun 2014 di Bali dalam event Jazz Market by the sea.

JazzMarket1Foto oleh : sharontravelogue.wordpress.com

Yang menarik dari kedua pementasan tersebut adalah saya menikmatinya dengan duduk, satu duduk dikursi, dan satunya lagi duduk selonjoran di atas rerumputan. Mari kuceritakan…

Konser Musik Shigeko Suzuki di Makassar

Biar kata ini kisah tahun 2003, saya coba mengingatnya kembali, semampuku. Tahun itu saya masih sekolah kelas 2 di STM. Masa dimana demam Jepang melanda saya, mungkin seperti yang anda rasakan jika terkena demam Korea. Dasar demam saya memang sejak dicecoki film-film Jepang di TV, Doraemon, Ninja Hatori, Kabuki, Kesatria Baja Hitam, dll. Hingga setiap kali membaca majalah saya diberitahukan bahwa budaya membaca Jepang sangat luar biasa apalagi teknologinya. Saya sekolah di STM, dimana teknologi adalah hal wajib ditekuni, bahkan sempat papan nama depan sekolahku bertuliskan “STM : Sekolah Teknologi Menengah”. Alasan lainnya saya mencintai budaya-budaya Jepang adalah karena saya belum berhasil menguasai bahasa Inggris, lebih tepatnya pelarian.

Kesukaan ini membuat saya betah menghabiskan waktu di perpustakaan kecil Konsulat Jendral Jepang di Makassar usai jam sekolah, hingga sore hari perpustakaan tutup dan saya membawa pulang banyak majalah gratisan bercerita tentang Jepang. Hingga menemukan pengumuman akan adanya konser musik Shigeko Suzuki, dan tiket gratis namun terbatas.

Masa sekolah, uang saku biasanya bersisa sekitar 2.500 rupiah. Selalu kuhabiskan untuk biaya internet sejam atau membiayai ongkos pete-pete (baca: angkot khas Makassar) ke Konjen Jepang. Mendengar konser musik gratisan membuat saya semakin bersemangat, apalagi sering saya nongkrong di Konjen membuat informasi itu lebih cepat ku terima. Kapan waktu antri tiket? Kapan waktu Konjen ramai? Kapan waktu konsernya? Dimana lokasinya? Sudah kuketahui lebih dahulu dengan menanyakan langsung ke loket sekretariat disana.

Waktu yang tepat mengantri adalah saat masih pagi dihari kerja karena sedikit pesaing. Itu berarti saya harus membolos. Inilah pula alasan bolos saya yang kedua sejak semasa saya sekolah dasar kelas 6 usia 11. Selama SMP saya tidak pernah bolos, karena tidak ada tujuan yang jelas serta pagar sekolahnya yang tinggi. Untuk membolos, saya harus memanjat pagar tinggi, itupun akan mendarat ke selokan besar, sehingga tidak sebanding dengan perjuangan.

Saat STM pun sebenarnya sangat sulit membolos, pagar hanya terbuka saat sebelum jam sekolah, jam istirahat dan jam akhir sekolah. Kenapa bisa lolos?, hari itu saya ada agenda pelajaran olahraga. Olahraga biasanya berlangsung di lapangan khusus yang tidak menyatu dengan lingkungan kelas, agar tidak mengganggu KBM. Topik pelajaran hari itu adalah atletik dan saya tidak terlalu suka dengan ini. Sehingga moment ini saya manfaatkan. Saya hanya punya waktu membolos 2 x 45 menit jam pelajaran, karena setelah mengantre tiket, saya harus kembali masuk kelas melanjutkan pelajaran berikutnya. Bolos yang bijak nampaknya *gak etis bolos seharian, uang sekolah mahal, ketinggalan ilmu pula*.

Hari H, concert berlangsung di ballroom sebuah hotel, antrian yang rapih, dan semua hadirin dipersilahkan menempati tempat duduk dan kemudian menikmati musik yang mendayu-dayu. Sensasinya luar biasa, lampu dibuat temaran, alunan musik pun mulai terdengar dari material-material seperti tumpahan air dari gelas, kacang hijau yang diguncang menggunakan baki, dentuman gallon air minum, dll. Sesaat kututup mataku, dan bagai mendengarkan musik relaksasi. Saya sangat menikmatinya, hingga lagu Imagine dari John Lennon dimainkan dengan cara yang sama. Menikmati musik sambil duduk santai selama dua jam.

 

Jazz Market by the sea di Taman Bhagawan, Bali

Usai masa sekolah, tidak sempat melanjutkan kuliah konvensional saya pun sudah harus menjalani kehidupan sebuah profesi. Sudah punya uang sendiri, memungkinkan saya menikmati konser musik sesukanya, kendalanya, saya berlokasi kerja di daerah kecil. Itulah mengapa, saat cuti lah saya bisa menikmati konser musik kesukaan saya, dan musik Jazz yang saya senangi kini.

Saya tidak terlalu ingat, alasan apa yang membuat telingaku lebih senang mendengarkan musik jazz. Mungkin karena musik jazz kini dikemas lebih ‘merakyat’, bukan lagi sebagai aliran musik bagi kaum elite.

Karena pengumuman disebuah majalah jalan-jalan, saya pun mengajak kawan lainnya yang juga memiliki minat sama dengan musik ini. Kami memilih hari pementasan kedua, karena keesokan harinya saya harus kembali ke Flores. Pementasan hari kedua, tiket memang lebih mahal sekitar 100K per orang, mungkin karena ada pementasan oleh Balawan, Tulus, dan Krakatau Reunion. Walau pada saat hari H, Balawan dialihkan ke jadwal keesokannya. Tak mengapa ada Tulus dan Krakatau hari itu.

20140816_231330

Jalan Pratama lokasi Taman Bhagawan tidak terlalu lebar, orang berbondong-bondong menempati lahan parkir yang disediakan. Walau agak jauh dari venue, penyelenggara menyediakan shuttle bus gratis. Setiba di venue, antrian hampir tidak ada, bukan berarti tidak banyak yang datang karena event ini berlangsung sejak pagi. Kami datang usai maghrib, hanya demi kedua pementasan diatas.

Masuk ke area taman, tidak ada hiruk pikuk berlebihan. Musik instrument jazz dimainkan untuk menghidupkan suasana. Yang ada semacam pesta taman atau lebih tepatnya seperti pasar malam dengan kedai-kedai kecil disekitar. Udara beraroma pembakaran sate, jagung, dan lainnya. Ada pula beberapa orang menikmati makanan malamnya dibangku taman sebuah resto. Ada juga yang sudah tidur-tiduran di rerumputan menghadap ke panggung utama. Di depan panggung utama ada kolam dengan gemericik air.

20140816_211713edit

Saya menikmati suasananya, diterpa semilir angin malam khas tepian pantai. Kami bergegas mencari area rerumputan yang kosong kemudian duduk selonjoran menghadap panggung karena sesaat lagi Tulus akan tampil.

Lagu-lagu dari album “Gajah” yang banyak dilantunkan, membuat para penonton turut larut menyanyikan bersama-sama yang memang cocok dinyanyikan untuk semua penikmat music…enjoyable, loveable and relaxing to listen…

JazzMarket4Hasil jepretan Tia Purnamasari @tia_rawr on twitter

Usai 45 menit persembahan lagu Tulus, terlebih dahulu diselingi sebuah music keroncong yang dikemas modern sisi panggung lainnya, sebelum beralih ke Krakatau Reunion.

Event ini bagian dari perayaan HUT Republik Indonesia yang ke 69. Event ini dikemas sebagai apresiasi bagi pecinta musik, makanan, yang suka belanja bahkan yang lebih memilih menikmati suasana bersama keluarga.

It’s a festival with a purpose, we are about adding value, creating impact as well as celebrating lovely memories for our citizens…

Penampilan akhir malam itu, oleh Krakatau Band. Usai pembubaran mereka 25 tahun lalu, kali ini mereka kembali berkumpul bersama untuk pertama kalinya mempersembahkan lagu-lagu masa kejayaannya dengan personil, mbak Trie Utami, mas Gilang Ramadhan, Dwiki Darmawan, Indra Lesmana, Donny Suhendra dan Prasadja Budi Dharma, walau personil band ini sudah beberapa kali mengalami perubahan tapi…bagi saya penampilan mas Gilang malam itu luar biasa.

JazzMarket5

Lagu-lagu tempoe doeloe, seperti Kau datang yang sempat hits tahun 1989 (Aku baru berusia 3),

Mbak Trie Utami sempat bilang,

terus terang musik Krakatau Band tidak untuk dinyanyikan, bahkan kita sebenarnya bingung menambahkan lirik-liriknya. Apa kalian lupa sebenarnya?

Obrolan ini ditujukan ke mas Indra Lesmana, dkk. Memang benar, musiknya sulit untuk diikuti oleh penyanyi lainnya, karena iringan lagunya lah yang membuat band ini nampak luar biasa.

Info terbaru nih, dalam waktu dekat mereka akan merilis album baru, sebagian dari lagu-lagu hits yang lama.

Diakhir waktu, lagu “Disekitar Kita” yang popular ditahun 1992, sebagai penutup…sampai ketemu di tahun depan Insya Allah datang lagi deh.

Leave a comment

CommentLuv badge

Get Adobe Flash player