Stories

Inovasi Universitas Terbuka Memudahkan Sekolah Jarak Jauh

Kacung…Flores jauh!

Itulah penggalan kalimat Bung Karno dalam sebuah film berjudul “Ketika Bung di Ende”. Dalam adegan tersebut, beliau menggambarkan suasana Ende – Flores yang jauh dari kemajuan, jauh dari hiruk-pikuk, jauh dari harapan akan kemudahan akses informasi, saat itu. Namun semangat Bung Karno menjadikan keterasingannya di Ende sebagai sebuah titik pemikiran akan masa depan bangsa Indonesia.

Terinspirasi dari semangat beliau. Sebelum melanjutkan pendidikan tinggi secara jarak jauh di Universitas Terbuka, saya adalah lulusan SMK. Usai pendidikan SMK, saya diterima bekerja sebagai karyawan tetap disebuah perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia. Saya ditempatkan di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Melanjutkan sekolah adalah cita-cita saya namun karena keterbatasan akses sempat mengurungkan niat. Berharap kelak bisa segera mutasi ke Kota besar kemudian melanjutkan pendidikan, namun resikonya saya akan tertinggal oleh penantian waktu yang tidak pasti, hingga saya mengenal Universitas Terbuka.

Nusa Tenggara Timur merupakan daerah dengan gugusan kepulauan, namun masih tercatat sebagai Provinsi dengan tingkat pendidikan yang rendah. Kita semua sudah tahu, alokasi APBN negara Indonesia sejak 2007 mencapai 20% namun saya yang berada di daerah kecil seperti ini masih sering mendengar banyak lulusan SMA atau SMK yang terhambat melanjutkan pendidikan ketingkat lebih tinggi terutama Strata Satu (S1). Banyak diantara mereka tidak begitu mengetahui akses informasi terhadap ketersediaan inovasi pembelajaran. Apakah karena akses komunikasi yang belum tersedia?.

Mari kita runut, sejak dicanangkan program MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) yang merupakan sebuah pola induk perencanaan ambisius dari pemerintah Indonesia untuk dapat mempercepat realisasi perluasan pembangunan ekonomi dan pemerataan kemakmuran agar dapat dinikmati secara merata di kalangan masyarakat. Dengan melibatkan banyak unsur termasuk perusahaan-perusahaan nasional dituntut membangun daerah-daerah dengan maksimal hingga mencapai pembagian koridor-koridor di wilayah Indonesia. Termasuk percepatan pembangunan akses infrastruktur telekomunikasi yang menjangkau daerah-daerah pelosok, seperti yang kini yang dikelola oleh perusahaan tempat saya kerjakan.

Hal ini pula pendukung penggelaran pendidikan Universitas Terbuka hingga bisa menjangkau pelosok dengan lebih cepat dan diharapkan bisa lebih merata didukung pula kemajuan inovasi Universitas Terbuka dalam penyenggaraan pembelajaran.

 

Poster_blog_competition_dies_ut_30

Kenapa saya memilih UT?

Tepatnya tahun 2006, setahun setelah saya bekerja. Saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang strata satu. Saat itu saya menginginkan melanjutkan ke bidang yang sesuai dengan pekerjaan saya dibidang teknik elektro telekomunikasi. Saat itu saya belum mengenal betul tentang Universitas Terbuka. Alih-alih ingin melanjutkan sekolah, saya pun mencoba mendaftar disebuah Universitas di Kota Maumere (kota Kabupaten) yang baru buka dan dengan status terdaftar. Saya tahu konsekuensinya, perusahaan saya tidak akan mengakui pendidikan setingkat sarjana ini. Perusahaan tempat saya bekerja hanya mengakui pendidikan dari tingkat akreditas minimal B (bagi yang sekolah mandiri). Saya tahu, perjuangan ini hanya buang-buang akan waktu jika ekspektasi saya hanya sebatas diakui atau tidak. Namun, saya masih bersikeras, bahwa ilmu tersebut akan berguna. Saya menjalani program regular (jam kerja kantor), memanfaatkan waktu luang beberapa jam kerja dan mengisinya dengan kegiatan perkuliah. Namun, benar menjadi sia-sia. Waktu saya terbuang selama tiga semester tidak dapat menjalani pendidikan dengan baik, hanya alasan sepele. Kehadiran saya tidak mencapai 75% sehingga tidak bisa mengikuti ujian, padahal ilmu yang diajarkan sebenarnya lebih mudah temukan di dunia internet.

Saya pun menyerah. Diawal tahun 2008, saya mengenal Universitas Terbuka. Universitas negeri yang menyelenggarakan pendidikan jarak jauh. Awalnya saya ragu dengan akreditasinya, setelah saya mengecek BAN-PT saat itu baru mencapai akreditas C. Saya tidak menemukan jurusan yang sesuai bidang teknik, namun saat yang sama, saya pun mengelola koperasi karyawan di lingkungan tempatku bekerja. Saya ditampuk sebagai bendahara, yang berarti saya akan terbiasa dengan urusan keuangan. Disaat yang sama di internal perusahaan saya tergabung ke dalam tim internal auditor. Disisi lain saya menyenangi ilmu terkait kepemimpinan, pengelolaan Sumber Daya Manusia, sehingga sangat beralasan saya perlu menambah ilmu dibidang ekonomi khususnya manajemen. Dan saya pun memutuskannya. Namun sejak 2010, sebagian besar program studi di Universitas Terbuka telah mencapai akreditas B. Senangnya….

Bagaimana saya menjalani UT?

Jarak yang jauh tidak mengurangi esensi belajar sesungguhnya, apalagi di zaman seperti sekarang kemudahan akses teknologi informasi sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Coba bayangkan, saat ini satu orang warga masyarakat bisa saja memiliki lebih dari dua jenis telepon selular, dan bisa dipastikan salah satunya adalah jenis telepon pintar atau smartphone.

Hal apa yang menguatkan posisi Universitas Terbuka dalam mengikuti perkembangan teknologi informasi adalah perubahan. Selama 30 tahun berkiprah, Universitas Terbuka banyak melakukan pembaruan, dan saya pun merasakannya perkembangan tersebut sejak bergabung beberapa tahun belakangan ini.

Usai jam kerja, biasanya saya masih memanfaatkan waktu berada di kantor hingga larut malam untuk mengikuti proses pembelajaran melalui TUTON (Tutorial Online). Mengerjakan tugas, berdiskusi, mencari bahan literatur yang semakin mudah kita dapatkan kini. Begitu pula dengan ketersediaan Perpustakaan Digital. Jika tidak mampu membeli bahan ajar karena harganya yang mahal ditambah ongkos kirim, kita bisa memanfaatkan media perpustakaan digital ini untuk mengakses bahan ajar kapan pun dimana pun. Yang kita perlukan hanyalah akses internet yang saat ini sudah mudah ditemukan. Hanya bermodal sekitar Rp. 3.000 untuk sejam akses atau menggunakan jaringan selular 3G di telepon selular. Jika facebook saja mudah diakses, tidak ada alasan tidak mudah mengakses layanan Universitas Terbuka.

Namun, berjalannya waktu, layanan-layanan tersebut pun masih perlu dikembangkan mengikuti trend saat ini. Kendala yang saya hadapi adalah kadang tidak punya banyak waktu membaca modul pembelajaran saat berada di luar kota mengerjakan sebuah pekerjaan (tidak berada dikantor). Sedangkan jika membawa modul edisi cetak sangat merepotkan. Sehingga sangat perlu dikembangkan aplikasi berbasis telepon selular. Contohnya;

  • Aplikasi perpustakaan digital berbasis mobile phone, agar memudahkan mahasiswa khususnya yang berkecimpung di bidang pekerjaan bukan belakang meja, sehingga membaca buku tidak lagi menjadi sesuatu yang menghambat pelajaran karena tidak sempat membawa modul bacaaan.
  • Tersedianya ruang kelas online yang menghadirkan interaksi. Seperti contoh mengandalkan platform Adobe Connect atau Google Hangout agar bisa terjalin kelas interaksi dimata kuliah tertentu dan topic tertentu. Yang memungkinkan siswa dari berbagai daerah bergabung dan bisa berkomunikasi langsung dengan para dosen mereka melalui akses internet.
  • Belajar dari penggunaan platform belajar jarak jauh yang dikembangkan oleh universitas ternama lainnya diluar negeri seperti Coursera, EDX, Udacity, Khan Academy dan lainnya. Universitas Terbuka sebaiknya menyediakan modul pembelajaran berbasis video terkait mata kuliah yang diajarkan.

Hingga akhirnya, Universitas Terbuka memberi ruang bagi masyarakat untuk mendapatkan akses pendidikan tinggi, dimanapun berada, serta tidak menyia-nyiakan waktu dan teruslah belajar.

Saya membaca sebuah tulisan pengantar sebuah booklet “Belajar Hingga Ke Negeri Gingseng” bertuliskan seperti ini;

Belajar tetaplah belajar, dimana pun tempatnya. Yang menjadikan proses belajar itu unik adalah motivasi yang mengiringinya. Motivasi itu yang akan menuntun kita menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dan permasalahan-permasalahan yang hendak kita jawab dan selesaikan. Motivasi itu akan menuntun kita mencari tempat paling kondusif untuk belajar dan mencari guru yang paling tepat untuk ditiru dan dicontoh. Tempat apa yang paling kondusif, yaitu tempat yang bisa menyuburkan motivasi dan menumbuhkan benih kapasitas diri. Guru apa yang paling tepat, yaitu guru yang tidak hanya menyediakan jawaban tapi juga contoh.

Semoga kita para pemuda-pemudi yang sedang berjuang menyelesaikan studi atau akan melanjutkan pendidikan kelak bisa memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan bangsa Indonesia, menuju perbaikan system politik, ekonomi dan budaya serta mengangkat derajat bangsa dalam dunia global. Jadikan ilmu pengetahuan sebagai sebuah unsur penguat karakter, menjalani pendidikan tinggi tidak sekadar mendapatkan gelar akademis tapi menjadi pendidikan hidup yang tanpa batas.

Bagi anda yang ingin melanjutkan pendidikan di Universitas Terbuka, saya merekomendasikan anda menyaksikan video berikut, semoga menginspirasi.

 

UTposter

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari Universitas Terbuka dalam rangka memperingati HUT Universitas Terbuka ke-30. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan.

Leave a comment

CommentLuv badge

Get Adobe Flash player