Saya kangen kalian…
Sepatu Fila yang alasnya mulai aus tak berstruktur karena tergerus lapisan lantai lapangan tenis…
Bola Dunlop yang mulai gembos karena tak pernah dihentakkan dilantai tenis a.k.a jarang dipakai…
Raket Wilson yang tak pernah kubaluti lilin di senarnya, grip-nya mulai rusak, dan berdebu…
Kaos, Celana pendek, Handuk olahraga yang ber-asrama di lemari, jarang ku cuci setiap hari lagi karena jarang digunakan…

Walah…sudah hampir dua bulan meninggalkan lapangan tenis dan tiga bulan ruangan gym. Serasa bagian hidup ini ada yang hilang. Semua terhalang karena harus sering keluar kota. Saking ingin-nya berolahraga tenis, kadang bela-belain bawa raket tenis ke Denpasar (kalau ke Denpasar). Saya sekarang di Kota Ende, membayangkan mereka (sepatu, raket, bola) hanya berselimut debu di Maumere.
Olahraga bukanlah sebagai beban, ketika kita anggap sebagai gaya hidup sehat, tak ada beban dan kita pun enteng menuju lapangan. Firasatku berada di Ende ini akan lama, bahkan berminggu-minggu.
Berjalan memang bagian olahraga yang kulakuan setiap hari hampir 3 km tapi tidak rutin. Itupun karena tuntutan pekerjaan. Tak mungkin saya berpatokan bahwa hari ini jalan berarti telah olahraga, kapan bisa gemuknya? Apa? Olahraga bikin gemuk?. Iya, percaya deh…
Masalah mulai muncul ketika kembali ke Lapangan atau ruangan gym dan mencoba lari mengejar bola, melakukan forehand, backhand bahkan service tenis akan terasa kaku dan menghasilkan banyak kesalahan. Di gym apalagi, terakhir kali mampu mengangkat beban berat tertentu, mungkin kali ini harus mulai dari beban ringan lagi. Jika saya lakukan, pasti besoknya akan merasakan kesakitan, bahkan jika tidak hati-hati berujung pada cedera.
Oh iya, kembali ke paragraph tiga. Olahraga bikin gemuk. Iya bagi saya. Gemuk disini bukan berarti penuh dengan lemak tapi dengan otot. Tapi kok bisa? Kalau ingat gemuk kok ingat tuteh yah *melirik sadis*. Ganti kata gemuk itu dengan bertambahnya bobot tubuh dan tubuh terasa fit.
Ketika saya memulai olahraga, berarti saya punya kemauan mengisi tubuh ini dengan konsumsi energy yang cukup. Yang kadang kulupakan ketika beraktifitas dengan berkas kantor. Makan terus…berharap pada saat olahraga nantinya tubuh tidak letih karena kekurangan energy. Begitupun dengan konsumsi air putih yang terus menerus tapi tidak menyebabkan kembung. Jangan heran saya sering menenteng botol minuman kemana pun saya berjalan. Botol minumannya pun bukan botol sekali pakai. Dan ini alami laiknya jam biologis, teratur dengan sendirinya. Bagi saya. Entah karena sudah komitmen awal, dan semua terangkum dalam jadwal pola makan.
Begitu kembali berolahraga, tubuh butuh banyak air sebagai pengganti keringat yang hilang, air putih pun menjadi rutin. Ketika makan setelah berolahraga, konsumsi porsi semakin banyak karena efek lapar berlebihan. Untuk masalah istirahat, karena tubuh terasa sangat letih rasa kantuk pun datang lebih cepat, dan tidurlah saya di jam tidur anak bayi. Sebagai imbalan saya bangun lebih pagi dan menghirup udara segar.
Cerita ini ber-alur mundur, ketika kembali dua bulan lalu. Sekarang bagaimana? Itulah yang terpikir. Kota Ende punya fasilitas olahraga yang tidak kalah bagusnya dengan Maumere. Lapangan tenisnya yang terawat, sepertinya hanya satu yang dekat lapangan PERSE itu (Persatuan SepakBola Ende).
Bagaimana komitmen ini kita galakkan lagi. Rencananya sabtu ini kembali ke Maumere, mengemas semua peralatan olahraga, dan berolahraga ria di Ende.
May 26, 2010














