EdisiSunting#1 “Pria botak pun terdiam”

627

Sekitar 45 menit yang lalu, saya sedang makan disebuah warung. Disisi lain ruangan terdapat tiga pria dalam satu meja yang berbicara dengan nada suara keras, bersemangat dan sesekali berbicara sambil berdiri dari tempat duduknya. Salah satu pria berperawakan botak dengan baju kotak-kotak yang kancingnya terbuka hingga dada. Samar-samar yang terdengar, mereka berbicara tentang premanisme, billiar, miras, judi, dan narkoba. Usai makan saya bergegas meninggalkan meja namun tanpa sengaja kaki saya menendang salah satu kursi dan membuat gaduh ruangan. Mereka pun tiba-tiba diam berbicara, dan memperhatikan dengan seksama gerak-gerik saya menuju meja kasir. Obrolan mereka tidak dilanjutkannya hingga saya meninggalkan tempat itu. Kira-kira apa yang mereka pikirkan saat melihat saya berjalan menuju meja kasir?

Catatan : Sunting – langSUNg posTING…tidak pakai lama!  😀 …karena cerita singkat itu, kadang menggelitik

Virus blog disebar melalui Pelatihan, Nobar & Diskusi

Sudah lama rasanya tidak bercerita tentang serunya ngeblog. Hingga suatu pagi dihari Sabtu pun terealisasi. Tuteh yang konon Ketua Blogger NTT mengajak saya kopdar dua malam sebelumnya. Seperti undangan biasanya disebutkan maksud dan tujuannya. Tahu kan, betapa sibuknya diriku bahkan 24 jam pun kurang karena waktu untuk tidur saja harus terpakai 8-10 jam sehari. Jika mau mengajak saya untuk sekadar membuang-buang waktu kudu jelas justifikasimu. 😀

Undangannya menyebutkan bahwa akan dilaksanakan pelatihan blog. Sentak saya berdiri ketika membaca sms malam itu, dan sesaat kemudian mengepalkan tinju kearah langit tanda semangat yang menggebu-gebu (ahhh…lebay).

Pelatihan blog kali ini merangkul mahasiswa di Ende yang tergabung di komunitas Akademi Merdeka. Saya bingung, zaman yang sudah merdeka ini masih ada saja yang belum merasa merdeka. Mungkin persepsi saya yang salah yah…Ahh…sudahlah!. Tuteh juga tergabung di komunitas tersebut dan mengkolaborasikan dengan misi Flobamora Community aka Komunitas Blogger NTT untuk memajukan NTT. Mulai benar perangai Ibu peri satu ini.

Sebagai sesosok pria yang banyak diharapkan kehadirannya oleh banyak wanita *tsah* saya tidak tinggal diam saudara-saudara. Agar kegiatan yang positif ini berjalan lancar, saya pun turut turun tangan demi mencerdaskan kehidupan bangsa *tsah*.

Jumat sore, saya pinjam kunci aula kantor, pinjam proyektor, pinjam karpet, pinjam ekstender cable, pinjam speaker, dan satu lagi pinjam sapu. Tahukan kamu, cuma hatimu yang tidak bisa dipinjam *focus…focus*. Sore itu ajaib, dua founder komunitas blogger NTT yang twitternya @tuteh dan @ilhamhimawan duet maut menyapu aula dengan sangat cekatan. Wajarlah yah, untuk urusan seperti ini mereka memang bisa dibilang terdidik dan terlatih.

Bertempat di Aula Telkom Ende digelar event Pelatihan Blog, Nonton bareng film dokumenter Linimassa, dan Diskusi tentang etika berinternet. Kegiatan seperti ini memang rutin diadakan oleh Komunitas Blogger NTT seperti di sekolah-sekolah, pesantren, tempat ibadah, universitas hingga menjangkau komunitas masyarakat penggiat UKM.

Salah satu founder Blogger NTT – Tuteh Pharmantara mengajarkan blog

Kok tumben pelatihan blognya di area Telkom. Jadi ceritanya, teknologi wifi.ID besutan Telkom Indonesia Wifi itu sudah ada di Ende walaupun baru ada satu access point yang katanya tahun 2013 ini bakalan tersebar 1 juta access point se Indonesia. Menurut sebagian peserta pelatihan, koneksi wifi.ID sangat memuaskan aktivitas mereka selama acara berlangsung dari pukul 09.00 hingga 17.00, dan harganya pun reasonable. *paragraph ini adalah kalimat mengandung unsur promosi* 😀

Pelatihan blog bukanlah kegiatan luar biasa jika dibandingkan di kota besar lainnya diluar NTT, namun di NTT ini masih menjadi alternatif baru dalam memanfaatkan internet dan social media, terbukti antusias peserta pelatihan hingga event berakhir.

Sesi berikutnya adalah pemutaran film documenter Linimassa merupakan film yang menceritakan pengaruh positif social media yang bisa dimanfaatkan sebagai media kampanye gerakan-gerakan social. Hal ini berguna untuk mengarahkan para pemula untuk lebih bijak dalam penggunaan media internet. Bahwa media internet bisa dijadikan lahan bisnis yang menguntungkan disisi lain bisa menjerumuskan seseorang ke dalam penjara. Film ini telah menjadi bahan ajar dalam kurikulum sekolah-sekolah di Negara Australia. Komunitas Blogger NTT pun terpilih sebagai salah satu dari lima film documenter terpilih untuk Linimassa 3 yang akan segera diproduksi, berkat kampanye #1MugBeras via twitter  yang merupakan upaya nyata penggalangan bantuan bagi ribuan korban letusan Gunung #Rokatenda tanpa perlu menanti sorotan kamera dari Jakarta. Hebat yah mereka!

Suasana pembelajaran di aula Telkom Ende

Tidak terasa event dari jam 9 pagi hingga 5 sore pun berakhir dengan penjelasan Tuteh selama 5 jam non stop katanya. Saya sih ndak yakin!. Kemudian dilanjutkan makan siang. Saya akui kehebatan Tuteh dalam urusan makan dan masih belum bisa saya tandingin dengan harapan bisa menaikkan bobot tubuh lebih segera #modus. Thanks Fauwzya dengan es buahnya di siang hari itu, bagai peluruh buah kedondong di kerongkongan siang itu. Seger banget!, dan kawan-kawan blogger NTT yang hadir dan tidak dapat saya sebutkan satu persatu *tsah*

Seiring dengan semangat Telkom dalam memasyarakatkan internet dan semangat blogger di NTT menyebarkan ilmu berinternet. Dari kegiatan ini, saya berharap Telkom di Ende bisa menjadi mitra terbaik sebagai penyedia media pembelajaran bagi masyarakat khususnya di NTT kedepannya, terutama sebagai usulan dalam membentuk Broadband Learning Center (BLC) di Flores, khususnya di Ende. Jadi, kawan-kawan blogger NTT akan semakin mudah menyebarkan virus ngeblog jika fasilitasnya mumpuni. Amin, semoga harapan mulia ini terkabul. Mewakili komunitas Blogger NTT saya mengucapkan terimakasih atas kerjasama Tim Telkom Ende atas bantuannya dalam penyediaan aula dan media lainnya.

Sumber Mata Air Panas Komba Ndaru, Ende – Flores. Dekat tapi terpencil!

Berada di NTT memang mengagumkan, Tuhan Maha Adil. Disisi lain anda tidak akan menemukan bangunan megah, gedung-gedung dalam bingkai hutan beton tapi anda akan disuguhi keindahan alam mulai dari puncak gunung hingga dasar lautan. Tinggal memilih, anda tipe pejalan seperti apa?

Saya lebih menyenangi tempat tidak terlalu ramai, lokasinya sulit di jangkau tapi keindahan yang ditawarkan setara dengan letihnya, bukan daerah eksploitasi berlebihan laiknya tempat wisata pada umumnya di daerah lain.

This is it!..hot spring water in Riaraja village

Berawal dari sisa letih bekerja dilapangan kemarin, dan disaat akhir pekan pula. Seperti biasanya, saya bersama kawan-kawan di kantor  – Saya menyebutnya kawan, walau usia terpaut jauh, walau posisi dalam pekerjaan sangat berbeda, tapi untuk urusan bekerja sama, ngobrol, makan, bahkan jalan-jalan posisi kami menjadi setara – berkumpul sekadar ngobrol topic apa saja, tiba-tiba tercetus ide untuk melancong sekadar melepas kepenatan. Ada yang celetuk, “Mending berendam air panas Pak?  tapi di Moni jauh” – sekitar 45 Km dari Ende. “Ada sumber air panas dekat dari Ende sekitar 11 Km tapi belum pernah kesana”. “Kalo begitu, ayo sore ini kita telusuri kesana” kata ku.

Tepat jam 5 sore, usai hujan reda. Bergegaslah kami berangkat kesana. Lokasinya berjarak 14.2 Km ala Google map, dari Kota Ende ke Kecamatan Ende, Desa Riaraja melalui jalan Trans Flores ke arah Kota Bajawa (dibaca : timur). Jika menemukan jembatan Nangaba belok lah kearah kanan memasuki Desa Ruku Ramba. Kemudian menemukan dua jalur, berbelok kearah kanan memasuki Desa Riaraja. Ikuti alur jalannya, hingga menemukan tikungan yang ditandai dengan batu besar ditepi jalan, berhenti disini untuk memarkir mobil. Ada jalan setapak menurun disisi kiri jalan, sebenarnya mobil bisa menjangkau kedalam perkampungan namun pastikan jenis kendaraan anda bisa mendaki karena jalan yang licin dan terjal. Motor bisa menjangkau hingga kedalam perkampungan.


Lihat Peta Lebih Besar

Usai memarkir kendaraan, saya pun berjalan kaki sekitar 1.8 Km melalui perkampungan Komba Ndaru. Katanya nih, nama Komba Ndaru berarti nama sejenis tanaman merambat yang berbiji dan bisa dikonsumsi. Saya kurang begitu tahu namanya dalam Bahasa Indonesia. Maaf – Kata ‘Ndaru’ berarti biji pelir kelamin laki-laki.

Jalur yang dilalui diantara kebun kakao dan rumah warga

Tujuan melancong kali ini adalah tempat permandian di sumber mata air panas. Dalam bahasa Ende, air panas disebut “Ae Petu”. Kata ini biasa juga digunakan dalam sebuah undangan silaturahmi yang menghindangkan air panas sebagai symbol keakraban. Untuk menempuh pusat air panas, lalui saja alur jalan yang sudah ada tanda tanah yang sering ditapaki orang lain. dengan berjalan kaki melalui rumah warga, perkebunan kakao, melintasi dua buah sungai kecil, hingga memasuki ladang dengan hamparan batu-batu pegunungan. Sungai kecil  akan sulit dilalui jika banjir datang, itu berarti tempat permandian ini tidak bisa dinikmati.

Terdapat dua sungai kecil yang harus dilalui

Oh iya, jalur lokasi permandian untuk laki-laki dan perempuan dipisahkan jauh dengan sumber mata air yang berbeda pula. Awalnya saya bertanya, darimana sumber air panas ini datang? Biasanya dikarenakan berada disekitar gunung api atau bisa jadi berasal dari panas bumi atau geothermal.

Karena lokasi yang cukup terpencil, jauh dari keramaian dan alami yang merupakan hulu sungai dibawah jembatan Nangaba. Airnya yang jernih mengalir diantara bebatuan dan kubangan yang terbentuk tidaklah cukup untuk merendam diri seluruh badan, jadi perlu membasahi seluruh tubuh dengan bantuan gayung yang terbuat dari batok kelapa. Terdapat sekitar 3 mata air di permandian disini, dengan tingkat panas yang  berbeda-beda.

Batok kelapa digunakan sebagai gayung

Sembari menikmati kesegaran airnya, saya pun mendengarkan cerita warga setempat tentang asal mula sumber air panas daerah ini. Konon katanya, dahulu disini adalah kota kecil. Suatu ketika, seorang warga menemukan belut yang berukuran besar disungai dan disantapnya beramai-ramai. Tidak lama setelahnya, terjadi bencana banjir besar dan gempa yang berkekuatan tinggi menyebabkan kota kecil tersebut hancur dan sebagian warga mengungsi dan meninggalkan daerah tersebut. Dataran yang lebih rendah dari perbukitan disekitarnya kini dulunya berada setara tinggi bukit disekitarnya. Itulah mengapa belut disini dijadikan hal yang tidak boleh dikonsumsi atau diganggu keberadaannya. Bekas puing-puing keberadaan kota kecil tersebut masih tersisi dengan terdapatnya tumpukan bebatuan yang tersusun didaerah tidak jauh dari tempat kami mandi. Saya tidak sempat mengunjunginya karena sudah petang. Menariknya lagi tidak jauh dari tempat kami, terdapat air terjun dengan ketinggian 2 hingga 3 meter. Yang akan saya kunjungi berikutnya.

Pemandangan bukit disekitar lokasi permandian

Jadi, tidak harus jauh untuk menemukan tempat menarik sekadar melepas keletihan, kan?. Jelajahi wilayah-wilayah sekitar tempat tinggal dan ceritakan ke khalayak ramai. Patuhi aturan adat warga sekitar dan tidak membuang sampah sembarangan agar nampak alami sepanjang masa tempat Wisata tersebut.

Look like Silver Pegasus

I visited my friend’s  blog here, and I found one of blog entry linked to Doubutsu uranai similar with horoscope.

Based on wikipedia that Doubutsu uranai (in Japanese) or zoological fortune-telling is a recent Japanese divination trend based on an animal horoscope. Each person is categorized into an animal-type based on their birthdate, and based on their animal-type they are supposed to have certain personality traits. There are four categories of animals, each representing a position on two axes: self-centered vs. mindful of others and focused vs. easily distracted.

I remember that 2 years ago, my best friend asked me about this question “Could you explain your self in three words?” …oh…oh its simple thing but hard to say…and then currently I found this link and I try to catch about “Who am I?” the result is I’m similar with Silver Pegasus.

Silver Pegasus

So, If you ask me back, is it true?…Mhm…that I’ve mentioned before “It’s difficult to say” and don’t believe it, just for fun 😀

[quote]Silver Pegasus person tend to be honest and your mind runs on a single truck.
Therefore, you tend to be little bit obstinate and hard minded.
You try to make your own way no matter what.
Nevertheless you can be kind and be sympathetic towards people, and tends to take care of them.
Your personality is that you tend to act rashly and can not stay still.
You are a responsible person and once you take up something, you will follow through to the end.
Your persevering character is recognized as a person who can be relied on, and many people have trust in you.
You do not possess good bargaining tactics.
However this weakness is one of your attractive sides.
Although you lack the fanciness to stand on the center stage, you can put hard effort.
Because you tend to follow your ideals, you may get in a lost when your conviction and beliefs are weak.
Sometimes you may feel failure even after putting in great effort.
You are full of adaptability, adjustability and taking action.
You will be successful by using these merits well.
You are a strong person and can overcome adverse circumstance without feeling gloomy.
You tend to be an idealist, and you can carry on expressing your self on something you feel strong about.
If you can get on a job that you wouldn’t get bored, you will express great talent.[/quote]

Manisnya kata “Apresiasi”

Kata ini sederhana, menarik, dan bahkan bisa menggugah akal dan selera #eh >.< , membuat anda yang mendengarnya seakan diajak untuk berekspektasi berlebihan. Apresiasi berarti penghargaan terhadap nilai sesuatu, atau arti lainnya secara leksikografis, kata apresiasi berasal dari bahasa Inggris apreciation, yang berasal dari kata kerja to Apreciate, yang menurut kamus Oxford  berarti to judge value of; understand or enjoy fully in the right way; dan menurut kamus webstern adalah to estimate the  quality of to estimate rightly to be sensitively aware of. Jadi secara umum me-apresiasi adalah mengerti serta sadar sepenuhnya, sehingga mampu menilai secara semestinya.

Both Hands Clapping

[typography font=”Neucha” size=”15″ size_format=”px”]Bukankah itu hanyalah sebuah arti kata, selayaknya kata-kata yang lain?[/typography]

Iya benar, apresiasi adalah bagian dari seni bahasa, namun penempatan yang salah membuat struktur maksud komunikasi menjadi berubah. Hasil pengamatan saya pribadi, penggunaan kata ini sering dilontarkan oleh telemarketer atau petugas customer care online. Saya beri contoh penggunaan kata ini oleh sebagian dari mereka;

[quote]“Sebagai bentuk apresiasi, kami dari pihak ………bermaksud memberikan kesempatan kepada anda untuk mendapatkan penghargaan kami dengan berlangganan…./atau mendapatkan paket…..”[/quote]

Nah, bisa saja si pendengar langsung berkata dalam hati “Wow….saya diberikan penghargaan oleh si penelpon itu…, sesuatu banget yah…saya harus mengambil kesempatan berharga ini” *bayangkan gaya Fitri Tropika mengucapkan kalimat ini* 😛

Yang menjadi masalah, jika “penghargaan” tersebut tidak sepenuhnya memberikan keberuntungan yang memang anda butuhkan.

[quote]”Loh, bukankah keberuntungan memang memberikan keuntungan sepenuhnya?”[/quote]

Menurut saya tidak sepenuhnya…

Contoh kasus :

Suatu pagi si A mendapatkan telepon bahwa sebagai bentuk “apresiasi” sebagai pengguna kartu layanan selular, maka si A berhak menjadi pelanggan kelas atas dari service provider X. Mendengar kata “apresiasi” tersebut tentu si A akan membayangkan atau membuat ekspektasi sendiri bahwa mendapatkan banyak keuntungan jika mengambil kesempatan tersebut. Namun jika ditelisik lebih detil, apakah tawaran tersebut memang benar-benar si A butuhkan?, bisa jadi si A akan mengeluarkan budget berlebih dari biasanya untuk membayar layanan kelas atas yang ditawarkan itu.

Kasus lainnya oleh si B, mungkin bisa dikatakan lebih beruntung.

Seperti biasanya Si B mengecek email saat rehat siang di kantor, tiba-tiba mendapatkan sebuah email yang menyatakan bahwa, Si B terpilih sebagai pelanggan terbaik dan sebagai bentuk “apresiasi” penyelenggara, maka si B mendapatkan penghargaan berupa hadiah yang belum pernah diterima sebelumnya, yaitu biaya perjalanan kesebuah destinasi Wisata luar negeri. Namun lagi-lagi jika ditelisik lebih detil, ternyata hadiah tersebut hanya menanggung sebagian dari biaya yang seharusnya. Biaya yang tidak ter-cover seperti biaya pengurusan surat-surat perjalanan, biaya transportasi dari penginapan ke tempat Wisata tersebut dan hal remeh temeh lainnya. Tanpa disadari, jika mengambil keberuntungan tersebut, si B bisa saja malah akan mengeluarkan budget yang berlebih dari yang dibutuhkan.

Ini semua benar adanya, bahkan diselenggarakan oleh pihak yang legal, hanya saja masih tidak memberikan penghargaan itu sepenuhnya, dalam artian tidak perlu lagi harus membebani si pelanggan yang mendapatkan apresiasi ini dengan tetek bengek yang harus ditanggung.  Loh ini berarti Ngarep.com, dong!

Okelah, wajar! Karena apresiasi ini tidak membutuhkan effort berlebih dari si A dan si B laikknya sebuah kompetisi atau pertandingan, tapi toh tanpa apresiasi inipun si A dan si B seharusnya masih bisa menjalani kehidupannya seperti biasa. Tapi namanya juga manusia yah…boleh dong kalo ngarep 😀

[typography font=”Neucha” size=”15″ size_format=”px”]Terus, cara menghadapinya bagaimana, kaka?[/typography]

Kembalikan ke anda masing-masing, apakah bentuk “apresiasi” tersebut memang benar-benar anda “BUTUHKAN” bukan sesuatu yang anda “INGINKAN”.

Untuk mengurangi keraguan, carilah panduan, referensi lainnya di internet tentang jenis”apresiasi” yang ditawarkan tersebut, dan bandingkan dengan kebutuhan anda yang sebenarnya. Boleh kok, menolaknya dengan alasan akan mengecek website nya dulu, akan membaca aturan yang berlaku, dan alasan lainnya.

[box]Pesan moral :

Manusiawi kalau kita tergiur dengan tawaran manis pengguna kata “apresiasi” yang bisa saja melalui telepon, email atau bahkan bertemu langsung, tapi pastikan mereka adalah pihak legal.

Carilah referensi di banyak media tentang tawaran “apresiasi” tersebut atau tanyakan ke kawan dan kerabat terdekat.

Jika anda tidak mengeluarkan “usaha” berlebih untuk mencapainya, jangan menanamkan ekspektasi yang berlebihan pula. Hiduplah secara wajar!

Kata “apresiasi” diatas akan berbeda jika digunakan dalam konteks apresiasi seni.

:)[/box]

 

 

 

 

#Roman Tetralogi Buru “Bumi Manusia” – Pramoedya Ananta Toer

Buku lama yang ditulis tahun 1975 kemudian diterbitkan untuk pertama kali tahun 1980, dan akhirnya dilarang beredar. Kemudian kembali bisa dicetak tahun 2005 dalam 33 bahasa, tapi baru tahun 2013 saya membacanya disela-sela jam makan siang, saat menunggu di bandara, sepulang kantor hingga matahari terbenam, dan menjelang tidur.

Saya tidak banyak mengenal tapi sering mendengar tentang Pramoedya Ananta Tour, namun belum pernah sekali saya tergugah membaca tulisannya. Kesannya berat dan bercerita zaman kolonial rasanya membosankan tentang sejarah, otakku pun belum mau berdamai waktu itu. Tapi kini saya mencoba membacanya, mungkin saja pemikiranku kini sudah sesuai buku ini.

Ketika di Jogja, seorang rekan bertanya “Kok, bisa suka tulisan Pram, isinya kan berat”. Mhm…mungkin ini saatnya saya memulai menyukainya. Seperti dipanggil untuk belajar cerita dari negeri sendiri, bahkan mungkin sedikit menyesal baru bisa membacanya sekarang.

Buku pertama tetralogi Pulau Buru ini menceritakan kisah seorang Minke atau nama Belanda-nya Max Tollenaar. Kenapa dipanggil Minke? Ada jawabannya dibuku ini. Roman yang berkisah cerita zaman kolonial dikemas menjadi tidak membosankan, dipenuhi pemberontakan dalam pikiran tentang pengetahuan. Kisah percintaan yang tulus dari ketidaksengajaan. Konflik dalam hubungan keluarga. Pertentangan akan dunia pendidikan. Saya belajar filasofi budaya dan tradisi Jawa serta pemikiran orang Belanda, hingga kisah tragis pemerkosaan, penderitaan istri simpanan dan pembunuhan.

images

Pemikiran-pemikiran tentang pentingnya sekolah, pengetahuan dan perubahan nasib itu membuat saya semakin tertarik untuk membaca disetiap lembarnya. Pantaslah buku pertama yang setebal 535 halaman ini disebut sebagai “Sumbangan Indonesia bagi dunia”.

Berikut beberapa kutipan menarik dari buku tersebut;

[quote]

“Suatu masyarakat paling primitif pun, misalnya di jantung Afrika sana, tak pernah duduk dibangku sekolah, tak pernah melihat kitab dalam hidupnya, tak kenal baca-tulis, masih dapat mencintai sastra, walau sastra lisan”

“Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam mata elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik ratap-tangis kehidupan, pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput”

“Semakin tinggi sekolah bukan berarti semakin menghabiskan makanan orang lain. Harus semakin mengenal batas. Kan itu tidak terlalu sulit difahami? Kalau orang tak tahu batas, Tuhan akan memaksanya tahu dengan caraNya sendiri”

[/quote]

 Saya menilainya dengan lima bintang, selanjutnya bacalah buku ini,  karena saya harus melanjutkannya ke buku kedua “Anak Semua Bangsa”.

Begitulah, tadi…

Nampaknya sangat letih *selonjorkan kaki*

Dua pribadi duduk bersebelahan, tadi. Jenisnya sama. Mungkin usianya hampir sama.

Satu jam tiga puluh menit dalam penerbangan meninggalkan Ende sama sekali tidak terjadi obrolan, tadi.

Diam. Sibuk membolak-balikkan majalah pesawat yang telah lewat masa, tadi.

Diluar tidak tampak pemandangan yang biasa tersaji dari manuver pesawat baling-baling ini.

Awannya tebal, tidak ada warna itu, tidak ada secercah cahaya matahari itu, tadi.

Tidur sejenak, dikagetkan dengan buzzer yang memerintahkan mengenakan sabuk pengaman.

Kemudian, tidur lagi.

Sesaat wanita berseragam itu duduk berjongkok memegang erat-erat sandaran penumpang lain dihadapannya, tadi.

Dan…sepuluh menit dalam diam menutup mata sembari berdoa, karena yang lain telah teriak, tadi.

Hentakan disayap kiri, bagaikan ada seseorang memukul-mukul dan berusaha ingin masuk ke ruangan kami, tadi.

Usai itu,

Dua pribadi duduk bersebelahan, jenisnya sama. Mungkin usianya hampir sama. Akhirnya berbicara satu sama lain, tadi

Dan, kini saya pun masih diam dikursi ini mengingat kejadian di pesawat tadi, diam dengan segelar jus segar, diam menjelang maghrib.

 12turbulence.600.1

 

Hendak dibawa kemana…?

[pulledquote]Forever young, i want to be forever young…Do you really want to live forever, forever forever…[/pulledquote]

Alunan lagu lawas dari Alphaville terdengar saat beberapa potong kentang goreng hampir habis, dan sejenak saya pun meneguk lemon tea. Saya agak canggung ke warung semacam ini sebenarnya, kemarin sudah saya datangi dan hari ini, lagi!. Beberapa warung makan sudah tutup, dan saya tidak senang mencoba-coba menu baru di tempat yang baru. Biasanya saya merasa menyesal membayar makanan jika rasa tidak sesuai harganya dan karena minggu adalah waktu libur untuk menanak nasi dirumah. Okay….kenapa lagu ini bisa tepat yah? Bolehlah kalau saya mengatakan lagu ini jadi soundtrack of my life hari ini.

Gambar dari koleksi smashing magazine

Pernah gak merasa ada suatu masa dalam hidup mu, dimana kamu memiliki kekhatiran positif yang berlebihan? What? Khawatiran positif istilahku. Saya merasakannya kini…

Mungkin ini yang dikatakan pembawaan usia, masalah yang sesuai waktunya *halah*. Seketika jari ku gunakan untuk menghitung, *hening* .Berapa tahun telah saya lalui disini? Apa yang sudah saya capai? Nanti di usia ke sekian saya harusnya sudah ini…sudah itu…

Lah, kenapa di usia sebelumnya saya tidak merealisasikannya?, agar kini saya tidak memikirkannya lagi. Ternyata ada masa nya…iya masa dimana saya baru menemukan jalur yang harus saya tempuh dari sekian banyak pilihan-pilihan.

Bahkan anehnya, kekhawatiran yang saya pikirkan itu, melintas menjadi satu tahun lebih cepat, seakan tahun berikutnya telah terjadi kini…walau dalam khayalan.

[typography font=”Reenie Beanie” size=”24″ size_format=”px”]Kamu khawatir diusia nanti belum nikah yah?… [/typography]

Mhmm…hahaha…sotoy deh

Satu hal lagi, katanya usia bertambah berarti kemampuan mengingat kita pun menjadi menurun, eh? Saya masih diusia 20 an loh…20 an kategori madya 😀 . Saya berbicara memory karena beberapa hari ini saya teringat satu periode peristiwa beserta manusia yang diterlibat disana. Saya menjadi heran, setiap adegan peristiwa itu saya sangat ingat betul, tapi saya lupa siapa nama pemain figuran dalam adegan itu? Bukan pemain utamanya sih, cuma figuran…iseng-iseng uji daya ingat…Nah…loh…konon katanya, pemeran figuran itu punya tabiat yang kurang saya senangi, jadi namanya kurang bisa saya ingat berlama-lama *tega sekali*

Saya coba lagi, yang paling mudah deh, mengingat nama pemeran sebuah acara reality show memasak di TV, yang setiap minggu malam saya tonton. Nama chef yang ini kok aku lupa yah? Siapa yah? Lama baru ngeh…ohhh…ohhh inikah memory yang menurun seiring bertambahnya usia?

Belum tentu…

Banyak tanda tanya di postingan kali ini, saya sering mempertanyakan kembali ke diri saya. Hingga berusaha membuat jawaban yang sebisa mungkin berusaha kuarahkan ke suatu pemikiranan yang tidak memojokkan. Enggan ah, menyalahkan diri sendiri…hehehehe

Okay, mari kita jawab…

Usia kini baru menginjak 26 tahun, kurang lebih sebulan yang lalu. Tapi dibenak saya sebentar lagi usia menjadi 27 tahun.

[typography font=”Reenie Beanie” size=”24″ size_format=”px”]Tapi kan masih 10 bulan lagi?[/typography]

10 bulan itu cepat loh…Harusnya usia ini saya sudah mencapai sekian banyak hal dari apa yang pernah saya bayangkan ketika termenung di usia masih sekolah dasar.

*Kembali bertanya ke diri sendiri…*

[typography font=”Reenie Beanie” size=”24″ size_format=”px”]”Kemana aja lo, selama ini?” Usia 22…kamu ngapain? Usia 24 kamu ngapain?[/typography]

Baiklah saya menjawabnya lagi…Usia segitu saya masih mencari jalan yang terbuka dari ujung jalan yang sudah lama terbayangkan. Saya gak diam ditempat, walau tidak berlari, minimal saya berusaha ngesot….hihihihi…Diusia segitu proses belajar, dan masa transisi dari dewasa muda ke dewasa…ehem..madya. Saya sudah berusaha mencoba. Ada kegagalan disana. Karena semua butuh waktu, ada waktu saya yang juga terbuang.

Tapi kini, sebagian jalan yang dicari telah ditemukan, selanjutnya menapakinya. Tapi sayangnya ada beberapa jalan yang harus ditapaki bersama, karena ujungnya pun akan bertemu kemudian.

[typography font=”Reenie Beanie” size=”24″ size_format=”px”]Emang kamu mampu? Laki-laki tidak mempunyai kemampuan multitasking loh, sedangkan disisi lain waktumu terbatas?…[/typography]

Solusinya mungkin saya yang tidak membiarkan diri terlena pada hal yang membuang-buang waktuku. Menghindari dulu kesenangan yang sia-sia.

[typography font=”Reenie Beanie” size=”24″ size_format=”px”]Tapi bukannya kamu membatasi diri? Gak asik loh klo mengekang diri entar cepat stress loh…perlu juga tuh namanya work life balance…[/typography]

Mhm…kebetulan yang saya jalani kini adalah hal yang saya senangi, bahkan ingin segera diselesaikan. Balance kok *memaksa membenarkan diri*, karena olah raga juga jadi bagian pencapaian tersebut, olah ruh juga gitu, olah rasa ada diantaranya…olah rasio? Sudah tentu menyertainya 😀 *Jadi ingat kata-kata seseorang tentang 4R ini*

[typography font=”Reenie Beanie” size=”24″ size_format=”px”]Ahhh…kamu memang pemimpi dan pemikir yah, pantesan kurusan…heheheh[/typography]

ohhh…gitu yah 😛  beri saya waktu menyelesaikan pemikiran ini dan mimpi itu. Kalau tercapai baru deh kita menyusun mimpi yang baru lagi.

[typography font=”Reenie Beanie” size=”24″ size_format=”px”]Kamu gak takut gagal klo mimpi atau pencapaianmu itu tidak sesuai harapanmu?[/typography]

Saya pernah merasakan gagal kok, dan ternyata klo kita gagal dari 10 langkah, minimal kita masih punya kesempatan berjuang untuk langkah ke 11. *berusaha membesarkan hati* Agak-agak khawatir juga sih, tapi biasanya ada pelajaran berharga…katanya si anu 😀

[typography font=”Reenie Beanie” size=”24″ size_format=”px”]Baiklah, saya tidak ingin lagi mempertanyakanmu, lanjut kan saja dan sampai bertemu. Semoga saya mendengar kabar menarik dari setiap pencapaianmu itu…hufuuuf[/typography]

See ya 😀

Anggaplah yang ditemani ngobrol diatas adalah mbak Siri si Iphone. hehehhe

Ini namanya postingan tak terduga, yang muncul seketika dan meledak-ledak, sedangkan postingan yang terstruktur dan disusun rapih dengan naluri perfeksionis masih nyangkut tuh di draft. Mungkin lebih banyak dari jumlah yang telah di publish. Salah saya? 😀

Ini lirik lanjutan lagunya si Alphaville

[quote]…Forever young, i want to be forever young
Do you really want to live forever
Forever young

Some are like water, some are like the heat
Some are a melody and some are the beat
Sooner or later they all will be gone
Why don’t they stay young
It’s so hard to get old without a cause
I don’t want to perish like a fading horse
Youth is like diamonds in the sun
And diamonds are forever
So many adventures couldn’t happen today
So many songs we forgot to play
So many dreams are swinging out of the blue
We let them come true[/quote]

Terlepas dari apa yang saya impikan yang hendak saya gapai…saya tetap teringat bahwa…

[quote]

Usia semakin senja, raga telah memberi tanda, mengingatkan jiwa untuk bersiap.
Usia berbisik hendak berpamit…Hanya saja…Aku tak tahu, kapan waktuku tiba?

Demi malaikat yang mencabut nyawa dengan keras,

Demi malaikat yang mencabut nyawa dengan lembut.

Persiapkan jiwa menghadap Rabb-Nya…

Allahu al-Mumiitu : Allah yang Maha mematikan (An-Naaziat : 1-2)

[/quote]

 

Belajar Tak Mengenal Tempat

Saya awali dengan sebuah quote menarik dari deretan timeline di facebook “Some people look for  beautiful place, others make a place beautiful” by Hazrat Inayat Khan. Quote ini mengingatkan saya tentang masa-masa dimana saya pernah galau akan kepasrahan berada didaerah yang tidak etis, jika saya bandingkan dengan kota besar. Kemauan melanjutkan pendidikan yang lebih baik tapi fasilitas itu minim.

Akhirnya saya melupakan ambisi yang sia-sia itu, nampaknya membuang-buang waktu. Sampai suatu ketika saya berpikir bahwa apalah arti ilmu yang tinggi jika tidak bermanfaat bagi sesama, bukankah belajar tidak selalu melalui jenjang formal?…walau kadang disaat tertentu menjadi sebuah keharusan.

Ternyata doa galau ini terjawab. Sebelum saya mempublikasikan tulisan ini, saya telah mencobanya beberapa bulan lalu. Saya ingin merasakan sensasinya dahulu baru kemudian menceritakannya. Beberapa universitas ternama di dunia membuka kesempatan belajar dengan konsep memanfaatkan ranah maya namun kualitas pengajaran terasa berada dikelas para professor tersebut. Siapa tahu suatu saat bisa benar-benar berada didalam kelas mereka *ngarep.com* hehehehe.

Konsep kolaborasi ini sebenarnya pertama kali didengungkan dan dikembangkan oleh Harvard University, MIT (Massachusetts Institute of Technology) dan Berkeley Uni melalui www.edxonline.org tapi agak tertinggal oleh kelincahan para tim kolaborasi dari Umich (Univ of Michigan), Stanford, Princenton, UPenn, Columbia, John Hopkins , dll akhirnya menggelar sebuah kuliah secara online dengan beragam topic melalui web www.coursera.org

Nah, ini yang juga menarik bagi saya. Sebagian mengganggap bidang CME adalah yang bidang agak tertinggal dibandingkan IP. Jangan berkecil hati, karena ilmu CME itu luas, dan perusahaan sekelas Schneider Electric yang telah mengakuisisi Merlin Gerin perusahaan dibidang energy power juga membuka kesempatan belajar melalui Energy University dan Data Centre University http://www2.schneider-electric.com/corporate/en/products-services/training/energy-university/energy-university.page

Yang saya paparkan diatas tidak berjalan secara formal a.k.a. free online learning. Bagaimana kalau  ternyata saya ingin belajar namun juga mendapat “pengakuan”. Saya merekomendasikan mengikuti pendidikan sarjana di University of People http://www.uopeople.org/ dibawah pengawasan NYU (Newyork University), dan jika Anda bertanya, ada gak sih yang berbahasa Indonesia. Silahkan bergabung di www.ut.ac.id PTN dengan akreditasi B.

Bagaimana dengan saya? saya telah memilih opsi terakhir.  Agak membuat jenuh jika anda tidak senang membaca berlembar-lembar modul tebal untuk setiap mata kuliah, namun via www.coursera.org anda bisa mendapatkan bantuan pemahaman lainnya.

 So, what are you waiting for? Join with us as international student community 🙂

Rumah disuatu masa…

Gubuk di jalan menuju Pantai Koka, Paga – Kab. Sikka, Flores NTT

Sediakanlah kami rumah di Surga dan di Dunia dari sisi-Mu ya Rabb…
Rumah di Surga yang indah dan megah tempat keluarga kami berkumpul kembali,
Dan rumah di Dunia yang sederhana nan damai…yang setiap pagi dan petang kami mendengar burung berkicau menyebut asma-Mu…

Dan apabila engkau melihat keadaan disana (surga), niscaya engkau akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar (Al-Insan : 20)

Allahu Malikul Mulki : Allah yang memiliki kerajaan

[IM-HAN] Surat untuk Anak Indonesia

[quote]Tulisan ini telah memenangkan Mini Kompetisi Indonesia Mengajar – Hari Anak Nasional[/quote]

[highlight]Yang saya banggakan[/highlight],

[highlight]Anak-anak Indonesia di Bumi Nusantara[/highlight]

Hai, anak-anak yang bersemangat dan berprestasi dimanapun kalian berada di Negeri Indonesia yang tercinta ini. Bagaimana kabarmu disana? Saya berharap kamu baik-baik saja dan tetap bersemangat meraih cita-cita mu. Perkenalkan, saya Ilham Himawan lahir, di Kota Makassar dan kini menetap di Kota Ende, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jika kamu membuka peta, Pulau Flores berada di wilayah tengah Indonesia, posisinya tepat dibawah Pulau Sulawesi. Kata “Flores” berasal dari bahasa Portugis yang berarti “Flower” atau Bunga. Mungkin dinamakan seperti ini karena keindahan alamnya ibarat bunga.

Saya dahulu ke sekolah berjalan kaki, jika banjir saya menenteng sepatu melalui pematang sawah, dan melewati gang-gang. Sepulang sekolah bersama teman-teman saya biasanya menyempatkan singgah di pasar khusus binatang. Ada burung nuri yang bulunya indah, ada kelinci, ada bunglon yang warna kulitnya bisa berubah-ubah, ada juga ular yang menyeramkan.

Anak-anak di Flores berangkat sekolah dengan menumpang truk

Tahukah kamu, dulu saya anak yang pemalu. Malu untuk banyak berbicara. Malu tampil di depan kelas. Sewaktu masih kelas 2 SD, saya diantar saudara perempuan saya ke sekolah. Kakak saya memperhatikan dari pintu didepan kelas. Bu Guru mengajukan pertanyaan matematika, saya bisa menjawabnya tapi takut salah. Sesekali saya melihat ke pintu kelas, melihat kakak saya. Dia terlihat mau marah kalau saya tidak mengangkat tangan untuk menjawab soal dari Bu Guru. Saya akhirnya memberanikan diri maju ke depan kelas dan mendapat pujian dari Bu Guru. Sejak saat itu saya mulai berani. Berani ikut pertandingan mata pelajaran antar kelas, dan berani ikut lomba puisi. Saya pernah ikut lomba 17 agustus-an, saya mengikuti semua lombanya. Betapa senangnya ketika pulang ke rumah dengan hadiah yang menumpuk, ternyata isinya banyak yang sama, ada sarung, ada buku, ada Al-Quran. Saya bahagia bisa punya sarung untuk beribadah hasil dari perjuanganku.

Nah, “Akan jadi apa saya suatu saat nanti?”. Saya berbercita-cita ingin mempunyai pekerjaan yang lebih baik dari orangtua. Sejak SD saya bercita-cita ingin jadi Astronot, yaitu orang yang menjadi awak pesawat antariksa yang berangkat ke Bulan untuk menjalankan sebuah tugas. Saya membaca buku IPA tentang kehidupan di Bulan, bagaimana orang bisa kesana. Ternyata di Bulan tidak ada kehidupan. Akhirnya saya mengubah cita-cita ingin menjadi seorang Pilot yaitu orang yang mengemudi pesawat. Saya ingin terbang menembus angkasa dan bebas berkeliling dunia.

Bulan yang terlihat di langit Ende

Seiring berjalannya waktu, saya melanjutkan sekolah ke SMP. Kami diajarkan pelajaran Fisika, ilmu tentang gejala alam dan benda tidak hidup. Kami belajar bagaimana lampu bisa menyala, benda bisa bergerak, bola bisa terpental, benda-benda diruang angkasa, dan banyak lagi. Akhirnya saya mengubah mimpi saya lagi, ingin menjadi ilmuan, seseorang yang ahli di bidang ilmu Fisika.

Oh iya, Apakah kamu suka membaca? Saya senang membaca buku apa saja, asalkan bermanfaat. Orang bilang buku adalah jendela dunia. Kita bisa kemana saja hanya dengan membaca buku. Jadi, Saya pernah membongkar gudang di sekolah, ternyata disana ada banyak buku tapi sudah usang. Saya susun buku itu satu per satu, saya hilangkan debunya, dan meluangkan waktu membaca di jam istirahat. Sepulang sekolah, saya sering ke perpustakaan naik sepeda. Saya baru mau pulang kalau sudah hampir diusir oleh petugasnya karena sudah mau ditutup. Saya senang ke perpustakaan, bukunya banyak, lemarinya tinggi dan harus pakai tangga untuk bisa mengambil buku di rak paling atas. Saya senang membaca buku cerita tentang penemu pesawat terbang yaitu Wright bersaudara, kisah Alexander Graham Bell yang menciptakan telepon pertama kali dan banyak lagi. Saya berharap kalau suatu saat punya uang sendiri, saya ingin membeli buku dan membacanya. Kalau sudah punya banyak buku, saya ingin membuat perpustakaan yang bisa dibaca oleh anak-anak sekitar. Doakan yah, semoga berhasil 🙂

Saya juga suka membaca berarti saya pun suka menulis. Menulis kegiatan sekolah, pengalaman berlibur, dan menulis surat untuk sahabat pena. Dan tahukah kamu? Saya tiba-tiba ingin mengubah cita-cita lagi, saya ingin jadi pewarta berita. Orang yang menulis berita di koran dan mewawancarai nara sumber, karena saya senang berkenalan dengan orang baru dan mendengarkan cerita pengalaman mereka.

Ternyata saya punya banyak cita-cita yah…mimpiku selalu berubah-ubah. Mau kah kalian tahu, jadi apakah saya sekarang? Lihatlah saya kini, saya adalah mimpi yang dulu saya bangun. Saya sekarang bekerja di perusahaan telekomunikasi. Pekerjaan saya berhubungan dengan ilmu fisika dan teknologi. Saya suka mengutak-atik komponen listrik, bekerja menggunakan komputer dan pekerjaan saya juga berhubungan dengan teknologi Satelit. Satelit itu adalah benda buatan manusia yang diterbangkan ke angkasa untuk membantu hubungan telepon didaerah terpencil. Jadi….walau saya tidak jadi astronot ataupun pilot, pekerjaan saya tetap berhubungan dengan ilmu fisika, dan benda di angkasa. Dan satu hal lagi, karena  saya senang menulis, tulisan surat ini akhirnya bisa kamu baca.

Coba deh kalian memperhatikan burung yang beterbangan di pagi hari. Mereka terbang meninggalkan sarangnya untuk mencari makan. Mereka tidak takut tersesat. Mereka tidak takut terbang dan menabrak jendela. Mereka tidak takut diterkam kucing. Mereka mencari makan karena ingin bertahan hidup. Tapi jangan khawatir, mereka pandai, mereka tahu kemana mereka akan kembali. Mereka akan kembali ke tempat yang mereka kenali. Mereka akan kembali ke rumah mereka.

Seperti itulah ibarat mewujudkan mimpi. Kita harus berani. Berani berpetualang di dunia pengetahuan. Kita harus selalu merasa lapar, lapar akan ilmu pengetahuan, sehingga kita berani pergi mencari ilmu untuk kehidupan yang lebih baik.

Tulisan saya sangat panjang, semoga kamu senang membacanya. Sampai bertemu disalah satu dari 13.487 ribu pulau di Indonesia, atau mungkin suatu saat nanti kita akan bertemu di Negara lain dibelahan dunia lain, hanya karena mimpi.

Salam hangat dan keakraban dari saya. Kawanmu yang lebih dahulu dewasa.

Ilham Himawan

*ditulis dimalam yang hening, di Kota tempat dahulu Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno diasingkan oleh Belanda. Iya, di Kota Ende, Pulau Flores.

Berlayar menuju Tahuna – Kepulauan Sangihe

Selamat Pagi Manado, dan kami berharap keselamatan dalam perjalanan menuju ke Tahuna.  Jam 7 tepat saya dan salah rekan saya @Andist menyusuri jalan kota menuju pelabuhan. Kapal Express Bahari sudah menunggu kami, jadwal keberangkatannya masih 3 jam kemudian. Hiruk pikuk warga di Pelabuhan cukup membuat saya merasa nyaman, terlebih jika saya membandingkan pelabuhan di Makassar ataupun di Flores yang para porternya kadang tidak terkendali dan sering memaksa untuk membawa barang penumpang. Atau mungkin karena setiap kapal memiliki gerbang pembatas sendiri di Pelabuhan?, dan pelabuhan baru sedang dalam pembangunan. Menurut info, kapal Express Bahari kategori kapal cepat dengan waktu tempuh maksimal 8 jam (wow segini dibilang cepat?), lain halnya jika kita berangkat kapal yang lebih besar dimalam hari dengan waktu tempuh mencapai 12 jam.

Saya menempati ruang VIP dengan harga tiket Rp. 225.000 dengan fasilitas tempat duduk yang empuk dan nyaman. Sangat mirip berada di kabin pesawat, iya benar! model tempat duduknya bekas pesawat. Saya duduk paling depan, tepat dihadapan layar TV LCD 42 inch dilengkapi sound system yang apik dan satu lagi, AC standing floor. Suhu ruangan terlalu ekstrim untuk manusia, dinginnya seperti diruangan perangkat. Toiletnya bersih, dan sesekali saya bisa mengakses ruang kemudi untuk melihat pemandangan ke depan kapal disamping nahkoda.

Setelah 2 kali tidur siang, 1 kali makan siang, 2 kali disuguhi film namun yang satunya berbahasa Perancis yang terjemahan dan aksi pemainnya tidak nyambung jek! Alhasil, film thriller tentang Afganistan menjadi film komedi.

Sebelum mencapai Tahuna, kapal kami singgah dibeberapa dermaga disetiap pulau besar yang dilalui, Pulau Tagulandang, kemudian Pulau Siau dan rute ini berakhir di Tahuna yang merupakan bagian dari gugusan Kepulauan Sangihe/Sangir Talaud. Namun karena pemekaran daerah, Pulau Siau dan Tagulandang masuk dalam area Kabupaten SITARO (Kepulauan Siau Tagulandang Biaro).

Masih bertanya dimana itu Kepulauan Sangihe? Paling utara Indonesia dan berbatasan antara Kepulauan SITARO dan Kepulauan Mindanao – Philipina. Apakah ini Pulau paling utara Indonesia? Belum, karena masih ada pulau kecil bernama Miangas disana. Pulau yang terbentuk dari karang yang muncul dipermukaan.

Pulau Sangihe juga memiliki banyak gunung api selain yang ada dibawah laut, Anda yang biasa menggunakan mode angkutan laut pasti mengenal KM. Awu. Yah nama kapal yang diambil dari nama gunung di Sangihe.

Oke dang! Torang so tiba di Tahuna jam 5 petang *automatic switch language mode ON*, kami dijemput dengan mobil pick-up dan diantar untuk menginap disalah satu rumah dinas yang sudah tidak berpenghuni setahun terakhir, namun masih bersih rapi. Sepanjang perjalanan saya duduk dibelakang pak sopir yang sedang mengemudi, mengendarai pick-up supaya baik jalannya *loh kok nyanyi?*…

Kota Tahuna terbilang cukup bersih, typical daerah pesisir, mayoritas mata pencarian masyarakat adalah nelayan. Saya awalnya kaget, apakah saya tidak salah berlabuh disebuah pulau yang mengibarkan banyak bendera Negara Uni Eropa dimana-mana? Tidak mungkin saya hanya berlayar 8 jam namun telah telah tiba di Benua Eropa. Ternyata euphoria EUFA terasa disini, kibaran bendera besar yang warnanya masih terang mengingatkan saya apakah 17an nanti Bendara Negara kita juga berkibar semegah ini? Apakah mereka rela menyogoh kocek lebih untuk membeli bendera negera sendiri yang mungkin sudah usang, agak robek, yang jadi koleksi beberapa tahun lalu?. Saya yakin nasionalisme tidak selalu berbentuk kibaran bendera, tapi masih tertanam dilubuk hati mereka.

Tidak jauh jarak dari pelabuhan dengan rumah dinas. Menempati tempat yang baru biasanya yang pertama saya lihat adalah kamar mandi, apakah cukup baik auranya untuk membuat saya nyaman berlama-lama disana? *saya tertawa sejenak* melihat wc jongkok yang dimodifikasi. Ada penambahan tinggi permukaan tempat kaki berpijak, kebayang dong, berapa lama waktu tempuh ‘buangan’ untuk tiba dilubangnya. Selama masih ‘atos’ sih gak masalah, nah kalau lagi bermasalah?…tercecer choy!

Malam pun tiba, sama seperti beberapa kota kecil di Flores, semakin malam semakin anda sulit menemukan warung makan. Toko-toko akan cepat tutup. Untuk mencari makanan yang ‘aman’, kami diantara ke warung Malioboro di Kec. Sawang Bendar.

Nah, seperti yang saya katakan sebelumnya, ada banyak kesamaan dengan Flores disini. Hampir tidak ada perbedaan kultur antara Sangihe dan Flores. Jumlah tumpukan nasi dipiringnya juga sama banyaknya. Oh iya sebelum berangkat, teman saya @Andist membeli sarapan kue tradisional namanya cucur, saya jadi semakin tidak tahu asal muasal kue ini, ada di Manado, Makassar dan juga Flores.

Meninggalkan warung, saya banyak mendengarkan cerita rekan saya tentang perilaku masyarakat di Tahuna. Dalam berkendara, mereka terbilang tertib. Penumpang diwajibkan berhelm. Tapi kecelakaan lalu lintas masih sering terjadi, tidak lain penyebabnya sama di Flores yaitu miras. Kalau di Flores kita mengenal miras lokal dengan nama Sofi dan Moke bening hasil penyulingan dan konon katanya mudah terbakar jika disulut api, di Sangihe miras lokalnya bernama Saguer dalam bahasa Sangir atau bahasa umum disebut Sipa dengan kadarnya setara tuak biasa.