Torang so tiba di Manado, Sulawesi Utara

Itulah kenapa Manado dijuluki daerah nyiur melambai, sesaat saya sadari hamparan pohon kelapa menghiasi pemandangan dari atas pesawat yang membawaku dari Makassar disiang hari yang terik.  Puncak gunung yang menjorok ditengah lautan didekat Manado adalah Pulau Manado Tua. Walau cuaca beberapa hari sebelumnya sangat buruk, bahkan dikabarkan pelayaran dari dan ke Manado untuk sementara ditutup, kini nampak beberapa riak ombak yang terbelah dari kapal-kapal yang mulai beroperasi dan meninggalkan dermaga.

Ini kali pertama saya menginjakkan kaki di Manado, alasannya sederhana bertepatan cuti dan rencana kegiatan berbagi buku di Kabupaten Kepulauan Sangihe. Bukan pula beban bagi saya membawa sekoli buku bacaan anak sekolah dasar. Membawanya memberikan kesan bangga. Saya terlibat sebagai relawan dari kegiatan Bakti Bagi Negeri. Sejak masa sekolah, saya bercita-cita ingin membangun perpustakaan pribadi dan bisa diakses gratis anak-anak disekitar, namun tidak semudah itu kawan!. Itulah mengapa, saya harus memulainya dulu dari kegiatan nyata, menjadi relawan mulai saat ini, agar saya bisa banyak belajar.

Menjelang matahari yang segera akan meninggalkan secercah cahaya memerah dilangit, tak kala saya duduk dipinggir pantai Malalayang yang berjarak sekitar 5 Km dari pusat kota Manado. Deretan kedai penjaja gorengan, orang Manado menyebutnya pisang goreng Cpatu yang digoreng menyerupai pisang kipas ditemani sambal dabu-dabu roa. Sangat pedas untuk ukuran lidah saya.

Menuju kota, saya menyempatkan singgah sebentar di pusat perbelanjaan. Deretan kursi disetiap kafe dan resto berjumlah banyak dan tampak penuh pengunjung. Kata teman saya, masyarakat Manado lebih menyukai makan diluar kalau malam hari, bisa dipastikan memasak dirumah hanya untuk santapan siang saja.

Besok pagi saya akan meninggalkan Kota Manado dan berlayar menuju Kabupaten Kepulauan Sangihe :D.

Pertemuan hati, bulan Juni

[highlight][01.06.12][/highlight] Angin malam masih sangat dingin ukuran suhu tubuhku. Hujan memang masih sering turun di Ende belakangan ini. Langkah kakiku tidak bersemangat, raut mukaku tampak letih, bahkan potongan rambut dan kumis yang hampir sebulan tak kunjung ku rapikan. Enggan rasanya bibir ini mengucap kata jenuh, walau sesekali seperti tidak ada tenaga lagi menyentuh buku, raket, obeng, bahkan pena yang biasanya membuat ku bersemangat.

[highlight][01.06.12][/highlight] Soekarno juga pernah merenung, dibawah pohon sukun dengan segala kegalauannya tentang negerinya. Ia jauh, Ia terkurung, namun Ia memiliki mimpi besar. Soekarno 67 tahun yang lalu disini, di Ende, dibawah pohon sukun ini melahirkan ide Pancasila.

[highlight][01.06.12][/highlight] Tidak seperti Soekarno, kedatangan ku dua tahun yang lalu di kota pengasingan beliau. Kini bagi ku bukanlah tempat terasing, ‘rumah ketiga’ bagi tanah yang ku pijaki. Dua tahun lah saya disini.

[highlight][01.06.12][/highlight] Negeri yang membuat negeri bagi Soekarno terjajah, negeri yang merenggut kekayaan bangsa kita kala itu. “Negeri van Oranje”, Negerinya tanah-tanah datar, Belanda. Novel yang saya selesaikan hari ini, yang menceritakan suka dan dukanya para pemburu beasiswa. Cerita sederhana yang membawa saya berpetualang ditiap lembarnya, berjalan kaki, naik sepeda, sesekali naik pesawat.

[highlight][01.06.12][/highlight] Setiap perjalanan waktu, setiap mimpi orang-orang besar tidak akan mencatatkan kata “ada masa ada akal” dalam kamusnya. Bahkan ada banyak pengorbanan dari satu mimpi yang berhasil. Hiduplah dengan terencana.

[highlight][01.06.12][/highlight] June is named after the Roman goddess Juno who was the wife of Jupiter. Dan seorang teman saya di-facebook berkomentar tentang status ini “and Juno is the goddess of marriage…that’s why some people think June is the perfect month for marriage…”. Sobat ku ada yang menikah bulan ini, Insya Allah saya bisa menghadirinya.

Kurebahkan badan ini dikursi biru yang usang, sesekali menatap bayang-bayang burung yang berusaha membuat sarangnya dari jerami dilubang atap ruangan ini. Cuaca masih cukup indah, masih ada harapan bagi hati. Tak pantas aku letih hanya karena kelakuan yang tidak sesuai pemikiranku. Sampai suatu ketika aku menemukan hati yang kembali mencerahkan.

certainly, travel is more that the seeing of sights. It’s a change that goes on, deep, & permanent in the ideas of living” – Miriam Beard –

*ditulis sesaat sebelum packing mudik*

Oranje Out of The Box

Pemimpin mengajukan permainan sederhana dalam rapat minggu lalu. Kami ditugaskan menarik garis dan menghubungkan 9 titik tanpa terputus dalam bentuk susunan persegi ukuran 3 x 3. Jumlah tarikan garis terpendeklah yang bisa memenangkan permainan kali ini.

Permainan ini menguji kemampuan berpikir kreatif, dengan tidak membayangkan sesuatu yang biasa saja. Pemimpin tidak menyebutkan untuk melarang menarik garis keluar dari kotak, selama setiap garis itu terhubung dengan jumlah tarikan terpendek. Inilah bentuk test kemampuan berpikir diluar dari kebiasaan.

Gambar dari brosur Dutch Tourist Board

Kreatif itu bukan milik orang tertentu, kreatif muncul karena faktor lingkungan, keterbatasan hingga tekanan dan persaingan. Think out of the box adalah kata pamungkas untuk memicu. Tahu gak? Konsep “Out of the box” yang digunakan untuk analisis dan pemecahan masalah adalah suatu pendekatan yang juga dipakai pada 14 universitas riset dan 40 universitas ilmu-ilmu terapan di Belanda.

Kenapa harus Belanda? Ada banyak hal yang bisa saya pelajari dari Belanda tanpa perlu mengenang masa lalu jaman kolonialisme yang kelam. Gaya pengajaran di Belanda sangat interaktif dan berpusat pada peserta belajar itu sendiri. Memberikan perhatian dan kebebasan lebih bagi mahasiswa, untuk mengembangkan pendapat dan kreativitas dalam menerapkan ilmu yang dipelajari. Belanda juga telah menerima pengakuan internasional sehubungan dengan terobosan sistem pembelajaran problem-based learning. Sistem ini melatih siswa untuk menganalisa dan memecahkan masalah melalui penekanan pada cara belajar mandiri dan kedisiplinan.

Cubic Houses – bangunan arsitektur kreatif di Rotterdam, Netherlands

Ide Kreatif juga mudah kita temukan ketika diberada didaerah nyaman, itulah mengapa Belanda terkenal sebagai Negara yang kreatif karena terbukti, lingkungan yang tercipta sangat nyaman. Menurut studi yang dilakukan OECD pada tahun 2011, Belanda adalah negara terbaik ketiga dalam hal Work-Life Balance. Orang-orang Belanda bekerja sebanyak 1,378 jam per tahun, angka terendah menurut OECD. Aspek penting dari keseimbangan kehidupan kerja adalah jumlah waktu seseorang menghabiskan di tempat kerja. Bukti menunjukkan bahwa jam kerja yang panjang dapat merusak kesehatan pribadi, membahayakan keselamatan dan meningkatkan stres. Meluangkan waktu untuk berpikir salah satu solusi menciptakan ide Kreatif. Saya pernah membaca bahwa Google memberikan satu hari dalam seminggu kepada para teknisinya untuk mengerjakan proyek pribadi yang mungkin bisa menguntungkan perusahaan.

Nah, jika pendidikan dan kenyamanan lingkungan mendukung suasana kreatif, tidak bisa dipungkiri Belanda menciptakan iklim Negara kreatif. Negara yang membuat seluruh warganya dapat mengekspresikan bakat dan potensinya di bidang apapun dan ide baru selalu muncul saat warga bisa saling berinteraksi, bertemu dan ngobrol.

Beberapa provinsi di Belanda memiliki ciri khas yang sangat terkenal terkait kreatifiasnya. Rotterdam, kota yang terkenal sebagai kota kreatif dibidang arsitektur dan design perkotaan. Mengingatkan saya nama benteng peninggalan jaman Belanda di Makassar, Sulawesi Selatan yaitu Fort Rotterdam. Eindhoven & Delft adalah rumah bagi akademi industri design. Utrecht, heart of Holland adalah rumah bagi institusi gaming, dan Amsterdam adalah wadah bagi kreativitas dibidang komunikasi, desain interaktif dan fashion.

Saya banyak belajar tentang penciptaan ide kreativitas Belanda. Mereka tidak banyak mengeluhkan atau berkutak dengan masalah, banyak berbicara namun tidak ada aksi. Mereka menawarkan solusi mengatasi masalah. Saya bangga sebagai warga dalam pergaulan global, kedekatan Indonesia dan Belanda seperti saudara. Have fun discovering the Dutch!

Referensi :

 

‘serious games’? come to Holland

Saya serius bertanya loh…begitupun seriusnya Belanda yang menggarap industri game ‘serius’. Istilahnya adalah gamification, permainan yang ditujukan untuk pendidikan, aplikasi pekerjaan, penelitian, event organizer, pengembang perangkat lunak middleware, hingga berlatih mengemudi.

 

 

Games mengubah cara konvensional dalam menemukan ‘ruang santai’ dengan bermain games. Anies Baswedan intelektual asal Indonesia yang pernah meraih anugerah sebagai 100 Tokoh Intelektual Muda Dunia versi Majalah Foreign Policy dari Amerika Serikat, pernah melontarkan sebuah kata menarik di twitternya. Beliau mengatakan

Video Game bs melatih anak2 utk decisive. Lihat peragu? Hadiahi videogame spy rutin latihan bikin keputusan”

Bermain games memudahkan kita untuk mengambil keputusan dengan cepat dan memicu kreativitas.

Pola pikir kreatif orang Belanda selalu berkembang, Dutch design kini tidak melulu tentang architecture bahkan dunia games berkembang sama kuatnya dan memiliki reputasi internasional.

Sejak bekerja di bidang telekomunikasi, saya sering membandingkan perusahaan telekomunikasi dunia. Perkembangan teknologi telekomunikasi di dunia menciptakan inovasi hampir setiap hari, dan inovasi tercipta buah dari tidak hentinya aliran kreativitas. Kini perkembangan teknologi pita lebar memungkinkan akses data dengan kecepatan tinggi dimana saja. Disisi lain kemajuan hardware game berkembang pesat dalam memberikan dukungan grafis yang lebih baik. Keleluasaan inilah, secara global dapat diidentifikasikan penyebab perkembangan dunia games sangat pesat.

Tidak hanya di Indonesia, begitupun di Belanda yang kini terkenal sebagai pemain serius dibidang ini. Industri gaming Belanda terkenal paling cepat perkembangannya  terutama aplikasi game online paling aktif di Eropa. Industri ini direspon baik dalam sektor pendidikan, berbagai institusi pendidikan mulai menyadari potensi besar dari industri game. Mereka kemudian menghadirkan program studi yang mendukung perkembangan industri game seperti Program Sarjana Gametechnologie binnen opleiding Informatica – Universiteit Utrecht, Gametechnologie – Hogeschool Utrecht, CPS – TU-Delft Centre for Serious Gaming, dll.

 

 

Industri games di Belanda dilindungi oleh organisasi seperti Dutch Games Association (DGA) yang memiliki misi menciptakan lingkungan yang sehat dan kompetitif untuk sektor game di Belanda dengan cara mendorong kewirausahaan, membantu lobi ke pihak pemerintah secara aktif baik terhadap investor, menanggapi perkembangan dunia gaming, memfasilitasi platform pengetahuan, serta menghubungkan keterlibatan gaming dalam dunia pendidikan dan penelitian. Seperti Saganet yang juga asosiasi gaming di Belanda, yang merupakan jaringan orang yang berkecimpung dalam industry kreatif gaming untuk aplikasi permainan serius dan simulasi.

Kalau kita berbicara games, yang terpikirkan bisa saja Tetris, Mario Bross tapi permainan serius menawarkan lebih dari sekedar hiburan. Marcus Vlaar seorang Co-founder and creative director dari perusahaan games Ranj Serious Games mempresentasikan tentang konsep “Turn work into a game” dalam event TEDxRotterdam dan memaparkan bahwa permainan serius adalah bisnis yang serius.

Ranj Serious Games adalah perusahaan spesialis pengembang game serius di dunia asal Belanda yang telah menciptakan lebih dari 400 games sejak 1999. Selama bertahun-tahun Ranj telah membangun pemahaman yang mendalam untuk menerjemahkan tujuan pembelajaran menjadi sangat menarik melalui games.

Games “Embargo” hasil karya www.ranj.com

Industri game yang sedemikian pesat memunculkan kekhawatiran masyarakat tentang efek permainan digital. Padahal, sebuah permainan apapun bentuknya digital maupul konvensional bisa berperan lebih dari sekedar media hiburan. Bisa menjadi media penyebar informasi/promosi yang efektif, media edukasi yang kreatif, dan juga sebagai alat riset inovatif.

Referensi :

Buy Windows 7 Ultimate
Buy Windows 7 Ultimate
Sale Windows 7 Ultimate
Discount
Order Adobe Creative Suite 6 Master Collection
Cheap Adobe Creative Suite 6 Master Collection
Sale Adobe Creative Suite 6 Master Collection
Discount Microsoft Office 2010 Professional Plus
Sale Microsoft Office 2010 Professional Plus
Microsoft Office 2010 Professional Plus

Dutch Green Creative Industries

Ide kreatif itu paling sulit kalau dipaksakan, biarkan saja mengalir, dan tidak sedikit orang yang berhasil dari ide sederhana jika dikembangkan menjadi bisnis. Bisnis yang berbasis ide kreatif tidak akan pernah cepat ‘mati’ walau didera pesaing dan tekanan dilingkungannya. Percaya deh!

Belanda berada di peringkat dua sebagai negara terbaik untuk melakukan bisnis, menurut data Bloomberg. Kenyamanan hidup pula yang memudahkan warga sebuah negara mudah menemukan ide-ide kreatifnya. Menurut The Global Competitiveness Report 2011-2012 dari World Economic Forum, menempatkan Belanda diperingkat ke-9 dalam Indeks “Innovation & Sophistication”.

Di Belanda dikenal sebuah istilah “Dutch Design” yaitu desain produk yang mengacu pada estetika desainer Belanda yang bercirikan minimalis, eksperimental, inovatif, unik hingga lucu. Desainer yang baik adalah designer yang menciptakan sesuatu yang terlihat tidak berharga dan mengubahnya menjadi sesuatu yang bernilai.

 

Contoh design yang dipamerkan dalam Dutch Design Week 2011

Munculnya desainer handal skala internasional di Belanda dipicu pula dengan berkembangnya sistem pendidikan khusus desainer seperti  Design Academy Eindhoven. Dukungan pemerintah Belanda juga sangat berkontribusi baik, terhadap para desainer baru lulusan pendidikan tersebut. Untuk semakin merangsang semangat kreatif, setiap tahunnya di bulan Oktober diadakan event penganugerahan desainer Belanda dalam Dutch Design Week di Eindhoven.

 

Kalau saya melihat foto teman-teman saya yang pernah berkunjung ke Belanda, membuat saya terbayang seakan berada disana *upss mimpi*. Menikmati pemandangan dipinggiran kanal, meneguk segelas coklat panas sambil memandang para pengguna sepeda yang melintas diatas susunan batu-batu yang tersusun sangat apik sebagai permukaan jalan.

 

Hasil impelementasi GreenGraffiti di jalan umum

Susunan batu-batu inilah, ide kreatif Jim Bowes di tahun 2007 tercipta, terkait industri media pemasaran tanpa mengunakan kertas atau tinta. Jim menempatkan template berupa tulisan atau gambar iklan di permukaan jalan dan membersihkan kotoran yang menempel dengan air yang disemprotkan dari mesin pompa bertekanan tinggi yang disebut “Reverse Graffiti”. Teknik ini telah digunakan oleh seniman jalanan selama beberapa dekade namun Jim menciptakannya sebagai tujuan komersial ramah lingkungan bernama GreenGraffiti. Teknik lain yang digunakan dengan bantuan kapur, cat susu, media pasir, salju hingga lumut.

Contoh desain template GreenGraffiti

Proses pembuatan “Reverse Graffiti”

GreenGraffiti yang menggunakan air sebagai media bantuan, turut mengembangkan proyek sosial melalui yayasan GreenAdsBlue yang berkontribusi dalam pendanaan pengadaan air bersih untuk negara berkembang.

 

Aplikasi “Sands Graffiti”

Kampanye Earth Hour WWF dalam aplikasi reverse graffiti

Lain halnya dengan KICI, perusahaan tektil asal Belanda yang telah mengumpulkan pakaian bekas selama lebih dari 30 tahun untuk didaur ulang. Dari fakta yang ditemukan bahwa sebanyak 160 juta kilo tekstil menjadi sampah setiap tahun yang dibuang di Belanda. Kici memanfaatkan pakaian bekas yang laik pakai untuk dijual kembali dan diedarkan diluar Eropa, sedangkan pakaian tidak laik pakai akan didaur ulang.  Sebagian orang beranggapan proses daur ulang tekstil sangatlah sulit, apalagi jins. Namun melalui teknologi tinggi daur ulang, bisa menghasilkan serat benang yang memungkinkan dibuat menjadi produk baru seperti jins, selimut, dan meja. Bagi Sander Jongerius, Product Development Kici “tidak ada yang sulit jika ingin dilakukan”.

Hasil dari semua kegiatan ini, didedikasikan untuk amal. Kici juga menghimpun para pelajar di Belanda untuk mengajarkan kesadaran dini tentang tujuan utama Kici.

Pelajaran berharga yang saya dapatkan dari pengembangan industri kreatif di Belanda. Mereka menjadi bisnis dari ide kreatif sebagai alat bantu perbaikan kondisi sosial dan lingkungan, bahkan menjadikannya ladang amal. Keren yah!

 

Referensi :

Trip to Riung, Temukan Nirvana disini #3

“Ncim…ncim, siap sudah, mumpung masih panas ini” Itulah suara kegiraan Bastian yang datang dengan tergesa-gesa dari arah dapur membawa kunyit disendok yang sudah dia bakar. *Encim = adalah panggilan untuk tante kecil dalam bahasa Ende, dipopulerkan oleh orang Cina sih*

Tuteh yang tertawa terbahak-bahak bak nenek sihir yang siap membalas dendam, memegangi kaki saya yang akan dibalur kunyit panas untuk luka di jempol kuku. Menurut mereka kunyit bisa sebagai antiseptik bagi luka, entahlah…saya ikuti saja hehehehe semoga bukan aliran sesat.

Saya meringis perih bukan karena lukanya, tapi kunyit panas itu loh. Saya pun tidak bisa menghindar karena ancaman bahwa luka ini harus sembuh besok biar bisa pulang ke Ende. Crying face

Sejak malam itu, hingga beberapa malam kedepan, Tuteh bertugas membalur kunyit panas.Smile with tongue out

Selamat malam Riung, dan sebuah luka di jempol yang menemani malamku dengan kejutan cenut-cenutnya. Sebagai santapan malam ini, tuan rumah menyiapkan masakan kuah cumi sepanci. Ini bukan buatan koki handal tapi cumi nikmat ini, buah kreasi tangan laki-laki hehehehhe jago juga mereka Open-mouthed smile

Malam semakin larut, malam terakhir disini kami habiskan dengan ngobrol mulai dari cerita mistis, kejadian aneh di laut, sikap para pelancong asing, profil para selebriti yang berkunjung, hal lucu, hingga main tebak-tebakan lagu di playlist telepon selular.

Kami tidak menginap dikamar bungalow, suhunya dingin, padahal ini dipinggiran pantai loh. Kami sepakat tidur sekamar dirumah Rustam. Pria berambut gimbal dan menyenangi lagu bergenre reggae, keturunan Bugis Sinjai, Dia-lah pemilik Nirvana Bungalow yang kami tempati.

Ada satu pertanyaan saya ajukan ke Rustam. “Kenapa gak memasang foto dan tanda tangan selebriti yang pernah nginap disini?”. Jawabannya sederhana, “Saya malu dan tidak enak”. Menurut perkiraan saya dari obrolan itu, baginya tanda tangan dan foto itu akan menampakkan kesombongan saja. Kekhawatirannya ada pada ekspektasi pengunjung yang bisa saja tidak sesuai dengan pelayanan yang diberikan. Itu yang membuat dia malu.

Berapa biaya menginap disini? harganya 150 ribu per malam se kamar. Harga bisa saja berubah, lebih baik kontak langsung Rustam Effendy di twitter @Nirvanariung.

SmileSmileSmile

Pagi ini, kami harus bersiap-siap pulang kembali ke Ende. Bengkak dikaki saya sudah mulai mereda, terasa lebih nyaman, walau berjalan masih tertatih-tatih. Sepatu dan kaos kaki harus dipakai. Saya pun berlatih mengendarai motor disekitar jalan utama sambil mencoba pengereman dengan kaki. Ahhaaa Saya berhasil!!! Open-mouthed smile

Sebelum pamitan, sudah sewajarnya saya me-review suasana bungalow tempat kami menginap, ini bukan ajang promosi loh cuma ajang perkenalan *sama aja kaleee* hehehhe

Suasananya nyaman dan asri, jangan takut dengan gigitan nyamuk malaria, disini sudah disediakan kelambu kok Open-mouthed smile

Saya ingin berterimakasih untuk semua member Flobamora Community yang terlibat dalam perjalanan kali ini;

  • Buat Tuteh : Thanks yah sudah membujuk saya untuk memberanikan diri melancong dengan motor ini. Harus diulangi xixixixiix
  • Buat Rustam : Makasih banyak atas tumpangan gratisnya, sajian makanannya, dan menjadi tour guide kami selama di Pulau. Saya senang berkenalan dengan anda *tsah*
  • Buat Iros + Etchon + Bastian + Ryan + Eddie : Terimakasih sudah setia bergantian mengawal motor saya. Saya tahu kalian sebenarnya pengen banget membalap, tapi ego kalian redam untuk selalu bersama-sama mengawal motor saya yang lambat ini. Sudah makan dulu sana….hehehehhe Be right back
  • Buat Encik : Terimakasih telah melengkapi komunitas kita yang cuek ini saat jalan-jalan. Encik bersedia buatin teh, masak apapun itu didapur, walaupun tidak semua masakan itu bisa dia konsumsi. Semoga masalahnya sebera beres yah, jadi bisa ikutan jalan-jalan dan makan enak tentunya.
  • Buat Indra : siswa kelas 1 Mts yang saya kenal malam terakhir ini. Saya senang dengan senyumannya yang lebar. Ingat aktor pemeran film seri The Crow, si siluman Gagak yang senyumnya lebar namun menyeramkan, tapi Indra tidak. Saya yakin suatu saat kita bertemu lagi, dan dirimu bisa jadi orang yang sukses. Saya percaya orang yang memiliki senyum lebar, rezekinya dimudahkan.

  • dan semua aktor dan aktris yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu #eaaaa

Ada yang menegur saya karena selalu terlihat melancong. “Ingat untuk berinvestasi” katanya. Seakan saya menghamburkan uang hanya untuk mencari kesenangan. Perkiraan anda bisa saja salah. Melancong tidak melulu memerlukan dana yang besar, mulailah melancong di kota sekitar anda, temukan hal menarik yang belum pernah dijamah atau dipublikasikan orang lain. Melancong itu sangat dibutuhkan dalam hidup ini, agar bisa menyeimbangkan perjalanan hidupmu. Melancong juga perlu persiapan yang matang loh, matang fisik, mental dan dompet hehehehehe

Oh iya, satu hal yang perlu diperhatikan ketika melancong, jangan sekali-kali membawa bahasan tentang pekerjaan atau memikirkan kerjaan. Selesaikan dulu pekerjaan anda barulah melancong biar hati dan pikiran ikut tenang.

Well, jangan khawatir berpetualang. Saya bahkan merasa malu jika harus melancong ke luar negeri sedangkan belum banyak sisi negeri ini yang bisa kujelajahi.

Sampai ketemu di edisi melancong berikutnya…Open-mouthed smile

Artikel terkait :

Trip to Riung, Taman Laut 17 Pulau #2

Selamat Pagi, cuacanya sangat baik hari ini, bagaimana istirahatmu semalam?. Eh, ternyata yang bangun pertama pagi ini baru saya saja…Semalam dingin mencekam, yang tembus dari lubang kecil dari dinding kamar kami.

Pagi ini direncanakan melancong ke beberapa pulau di gugusan taman laut Riung yang jumlahnya mencapai 17 pulau diantaranya Pulau Pau, Borong, Ontoloe, Dua, Kolong, Lainjawa, Besar, Halima, Patta, Rutong, Meja, Bampa (Tampa atau Pulau Tembang), Tiga (Pulau Panjang), Tembaga, Taor, Sui dan Wire. Kesemuanya tidak berpenghuni. Jika dalam sehari saja, tidak cukup waktu kita berkunjung kesemua pulau tersebut. Ada pulau kecil yang tidak memungkinkan perahu bersandar, ada pulau dengan hutan bakau sebagai pembatasnya, ada yang berpasir putih dan ada pula rumah bagi kawanan kelelawar. Wow exciting Smile

Dilaporkan jam 6 pagi ini, member FC belum pada bangun, perlu diteriaki dari depan kamarnya nih xixixixi Be right back. Kapal motor sudah dipesan dan telah menunggu di dermaga, alat snorkeling telah siap, mari berangkat kaka… Open-mouthed smile

Khawatir matahari semakin terik tak baik berendam jika menjelang siang, tak baik bagi pencahayaan kamera, tak baik bagi kulit…hehehehe. Masing-masing membawa tentengan berupa nasi dalam bungkusan, ada yg membawa alat snorkel, air minum, dan saya bagian membawa kamera xixixixi.

Untuk menuju dermaga, kita harus menempuh kurang lebih 500 meter dengan jalan kaki dari Nirvana Bungalow. Barulah pemandangan indah pagi ini nampak jelas. Sepanjang jalan kami dikelilingi pohon kelapa dipinggir jalan, dan selepas itu pemukiman warga. Rumah panggung dari kayu, dan diujung atapnya tampak persilangan kayu seperti tanduk, sudah dipastikan penghuni sekitaran pantai ini adalah suku Bugis. Memang jarak Sulawesi Selatan terutama disisi selatan yaitu Kabupaten Selayar yang terkenal dengan taman laut Takabonerate dan Pantai utara Flores sangatlah dekat. Jadi wajarlah warga yang mendiami daerah pesisir adalah suku Bugis yang memang perantau dan pelaut yang ulung. *ngacung* Saya merasa sangat familiar dengan suasana ini, seperti pulang kampung saja Open-mouthed smile

Nah, setiba di pintu dermaga, sebagai warga negara yang baik, kudu bayar retribusi dengan harga 1.500 per orang dan 10ribu per kapal. Ini belum termasuk biaya penyewaan kapal, yang biayanya tergantung berapa jumlah pulau yang ingin anda kunjungi. Pulau yang akan kami kunjungi adalah Pulau Kelelawar, Pulau Rutong dan Pulau Tiga (Pulau Panjang). Kami membayar untuk kunjungan ketiga pulau ini sebesar 350 ribu.

Tidak lengkap rasanya jika menikmati pemandangan laut, tapi tidak menikmati lezatnya ikan segar. Setengah perjalanan, tampak seorang nelayan yang kebetulan sedang memancing ikan di sampannya sendirian menggunakan teknik pemancingan dengan hanya bermodalkan tali umpan dan kail menggunakan bantuan tangan. Maksudnya adalah memancing tanpa menggunakan tongkat pancing (joran) tetapi tetap menggunakan rol pancing dan senar atau biasa. Teknik ini biasa digunakan untuk menangkap ikan didasar laut.

Ikan segar hasil tangkapan dihargai hanya 10ribu saja. Beliau pun sudah sangat senang karena ikannnya bisa laku dengan cepat. Inilah kearifan lokal masyarakat yang menjaga kesehatan ekosistem lautnya dengan tidak menangkap ikan secara membabi buta dengan bom ataupun pukat yang bisa merusak terumbu karang. Bagi mereka, alam ini akan selalu memberikan rejeki yang melimpah jika mereka turut menjaganya.

Okay, mari melanjutkan perjalanan kesatu pulau yang dipenuhi kawanan kelelawar, namanya tetap Pulau Kelelawar. Dari kejauhan saya melihat pohon-pohon dengan daunnya yang melebar tampak mengering, semakin dekat semakin jelas dan ternyata bukanlah sebuah daun melainkan kelelawar yang bergelantungan. Pemandangan ini mengingatkan saya dengan pusat Kota Soppeng di Sulawesi Selatan yang pohon ditengah kota dipenuhi kelelawar.

Sepanjang tepi pulau ini tertutup oleh hutan mangrove atau disebut hutan bakau. Selain berfungsi menahan abrasi pantai, mengurangi dampak kerusakan akibat tsunami, bakau juga berfungsi sebagai menyaring air untuk menghasilkan air tawar loh…

Kami pun melanjutkan perjalanan ke Pulau Tiga atau biasa warga menyebutnya Pulau Panjang, yang memang bentuknya yang memanjang. Kita akan melakukan snorkeling disini. Setiba di depan Pulau, dari atas kapal kecil ini kami sudah bisa melihat terumbu karang dangkal dengan berbagai ikan dan anemon. Anemon ini mirip tumbuhan tapi sebenarnya adalah hewan. Ada satu anemon ciri khas Riung yang tidak tampak musim kali ini, yaitu mawar laut, berwarna merah didasar laut membentuk seperti bunga mawar.

Oh…oh jumlah perlengkapan snorkeling kami terbatas, tapi jangan khawatir, sambil menunggu giliran. Sebagian menikmati pemandangan dasar laut, saya memilih trekking menikmati pemandangan laut dari puncak bukit.

Tidak perlu terlalu jauh berjalan diantara ilalang, kami sudah disuguhi pemandangan indah ini. Subhanallah, indahnya… Open-mouthed smile

Nah, usai menikmati pemandangan dari puncak, saatnya snorkeling, dan sebagian kami mulai membuat arang untuk membakar ikan segar tadi….asikkk nyemplung Winking smile

Kulari ke hutan kemudian teriakku, kulari kepantai kemudian berendam..xixixixi Iya, usai trekking kembali turun ke pantai dan bergantian melanjutkan snorkeling. Wow, luar biasa pemandangan bawah lautnya. Segar diatas, segar dibawah.  Begitulah sensasi penyegaran buat mata dan hati saya kali ini…Open-mouthed smile

Rasa lapar mulai terasa, mengingatkan kami meletakkan alat snorkeling dan mencium aroma ikan bakar dibawah ini…melengkapi kegembiraanku. *speechless*

Habis dilahap tak tersisa, persediaan nasi jadi rebutan, ikan hanya menyisakan tulangnya saja, ditambah sambal buatan kami. *ngiler* asli liat foto diatas sambil nulis postingan ini membuat ngiler lagi In love

Sebelum meninggalkan pulau ini dan menuju ke pulau Rutong, saya masih menyempatkan bermain ayunan sambil merasa melayang setinggi-tingginya hehehhe. Ayunan buatan nelayan yang sering berkunjung kesini, digantung dengan seutas tali penarik kapal kecil disebuah pohon, dan dudukannya hanya sebilah bambu. Jadi teringat masa kecil yang membuat saya terbang dan terjungkal dari ayunan karena saking semangatnya bermain waktu itu.

Kunjungan terakhir adalah Pulau Rutong, tidak banyak waktu kami habiskan disini. Tampak beberapa rumah-rumahan dari bambu namun sudah tidak laik digunakan. Bukitnya lebih tinggi, kesan menarik di pulau ini adalah menikmati burung Elang beterbangan disekitar puncak bukit, namun sayang saya tidak menemukan moment yang tepat mengabadikannya.

Kami pun kembali ke dermaga, bebersih diri, dan tidur siang.

Saat tiba di bungalow kami, usah mandi, kami berencana tidur siang. Saya bermaksud membuka jendela agar cahaya lebih terang dan angin berhembus di kamar kami. Saat membuka jendela, saya kaget seekor tokek lompat mengenai bajuku dan bersembunyi disisi kamar entar dimana. Yang membuat kami dikamar lompat dari tempat tidur dan tertawa terbahak-bahak, Rolling on the floor laughing

Sore ini kami akan menuju puncak bukit disisi jalan. Saya heran ketika dua motor teman saya berhenti didepan. Dan Bastian melambaikan tangannya dan sempat berbicara sejenak ke saya yang membuat saya tidak konsentrasi dan rem dadakan tepat ditempat Tuteh semalam terpelanting. Apa yang terjadi dengan saya? saya tidak terjungkal, tapi ngerem mendadak, dan ibu jadi kaki saya menjadi tumpuan dan bergesek dengan aspal. Hiks…hiks perih, kuku ibu jari ku memar, sedikit darah dan jalan dengan terseok-seok. Ahhh kenapa aku lupa lokasi itu.

Sesampai dipuncak, saya jadi tidak mood mengabadikan gambar, cuma duduk termenung meredam rasa perih dan kembali mengingat kejadian tadi.

Satu persatu kelelawar meninggalkan sarangnya, mencari makan dikegelapan malam. Matahari enggan memancarkan cahaya terakhirnya dihadapan kami karena terhalau dinding bukit. Kejadian hari ini membuat saya mengingat bahwa hidup tidak melulu untuk sebuah kesenangan, ada rasa perih diantaranya.

Artikel terkait :

Trip to Riung, Taman Laut 17 Pulau #1

Didalam tubuh yang sehat terdapat semangat berlibur yang menggebu-gebu. #eaaaa Be right back

Alhamdulillah badai telah berlalu, cuaca membaik, panas terik khas Flores yang eksotis, dipadu dengan hari libur yang panjang selama 3 hari ini. Kemana lagi kita, kalau tidak keluar rumah menemukan tantangan baru. Riung salah satu destinasi menarik ala petualang dan pastinya tidak butuh biaya yang besar bagi kami penghuni di Flores yang berangkat bermodalkan sepeda motor.

Usai Sholat Jumat, packing lah saya. Kamera, pakaian renang, kaos, pelampung…Pelampung? bukannya saya tidak bisa berenang tapi khawatir saja nafasnya tidak kuat *ahleyshan*, tidak lupa membawa pakaian dalam yang saya ganti penyebutannya menjadi “ompret” onderdil kampret. *baca terus, ada alasannya kok* Confused smile

Sebaiknya tidak melupakan pengecekan dan pemeliharaan kondisi motor di bengkel terlebih dahulu deh Smile

How to get there?

Perjalanan menuju Riung, destinasi taman laut 17 pulau di Kab. Ngada, Flores NTT dimulai. Ada 5 motor dalam rombongan kami yang kesemuanya member Flobamora Community ( Etchon, Iros, Ryan, Tuteh, Encik, Eddie, Bastian, saya), dan kami meninggalkan kota Ende tepat pukul 3 sore.

Motor saya yang paling lambat dalam konvoi, masih menyesuaikan dengan ala jalan berkelok. Inilah pengalaman pertama saya keluar kota dengan motor. Menegangkan, butuh konsentrasi maksimal, dan kehati-hatian ekstra jika dibandingkan mengemudi dengan mobil.

Jarak antara Kota Ende dan pertigaan yang memisahkan jalur menuju Kab, Nagekeo dan Kab. Ngada, bisa ditempuh selama kurang lebih dua jam perjalanan dengan jarak 57 Km dari Ende. Sebagian ruas jalan lintas Flores ini masih proses perbaikan, jadi jalan rusak itu harus dilalui.

Riung berada dalam area Kab. Ngada namun untuk menempuh jalur yang lebih cepat, nyaman, dan pemandangannya indah. Kita harus melalui Kab. Nagekeo dengan melalui Kota Mbay. Setelah melalui badai debu yang beterbatangan efek perbaikan jalan, kini saatnya perhatikan palang penunjukan yang memisahkan jalur menuju Bajawa dan Mbay ketika anda sudah berada di Aegela. Ciri-cirinya kalau anda sudah berada di Aegela adalah anda berada dipertigaan jalan, yang ramai pedagang warung kecil-kecilan jualan jagung rebus, mie instan, kopi, jeruk, dll. Oh iya disini juga ada bekas terminal, dan jangan tanya dimana toilet, lah warga sekitar situ aja baru mulai menggali lubang nya kok…perasaan dari tahun lalu digalinyaThinking smile

Jalur Mbay jalannya rapih, anda akan disuguhi pemandangan ala bukit teletubbies, padang rumput hijau, sawah yang hampir menguning dan langit biru, paduan yang sempurna, dan menyaksikan garis horison yang memisahkan laut dan darat.

Ibukota Kab. Nagekeo adalah Mbay, yang berada disisi pantai utara Pulau Flores. Merupakan kabupaten baru hasil pemekaran yang sedang berbenah. Saking barunya…saya baru lihat sebuah rumah dengan perpaduan warna dinding yang sangat tidak nyaman dipandang mata. Warna biru, hijau, merah, coklat dipadu dengan sangat tidak apik. Tampak jika anda beristirahat sejenak di SPBU Mbay.

SPBU lah tempat beristirahat yang nyaman bagi pelancong seperti kami, toilet bersih pastinya gratis. Sebentar lagi adzan maghrib berkumandang, saya sempat buang air kecil di bukit tadi tapi tidak punya air untuk membasuh. Saya ke kamar mandi, dan disinilah saya menyadari kalau ternyata si ompret tidak ikutan. *doh* Kebiasaan buruk saya, sudah memasukkan barang didalam tas, pasti akan mengeluarkannya lagi kalau tampak membesar atau berat, alhasil ada yang terlupakan.

Menjelang magrib kami beristirahat sejenak sambil menikmati teh dan kopi disebuah kedai kecil mirik keluarga Ryan. Namun saya masih galau belum menemukan pengganti si ompret. Saya ngacir mencari penggantinya. Tipikal toko daerah kecil seperti ini, pakaian, kebutuhan pangan hingga bangunan biasanya dijual dalam satu toko. Saya menemukan toko dekat SPBU yang menggantung pakaian disamping karung beras.

“Om, ada pakaian dalam?”

“Sebentar eeee…” sambil sebuah lemari yang dominan ditempati produk kosmetik dan mainan anak-anak

“Oh ada ini” beliau pun mengambil sekotak dan mengerluarkannya satu persatu.

Biasanya pakaian dalam dijual dalam satu kotak berisi tiga lembar, namun ini dijual per satuan dengan harga 15 ribu. Wow, mahal sekali. Modelnya pun tidak kuperhatikan lagi.

Beliau pun mengeluarkan satu buah yang warnanya paduan orange dan hitam, sangat tidak eye-catching, dengan merek ternama Polo Raphl Lauren. Berharap karetnya gak melar sekali pakai dan bikin iritasi kulit. Disappointed smile

“Ukurannya om, hanya ada M kah?” saya semakin tidak yakin dengan standar ukurannya yang nampak sangat kecil dari ukuran M biasanya. Terpaksa saya beli satu buah daripada tidak sholat dan kembali ngacir pinjam toilet di rumah keluarga Ryan untuk segera berubah wujud

OMG! prediksi saya benar, ketat bin menyiksa. Tidak perlu berpikir panjang, adzan sudah usai dikumandangkan, dan saya harus bergegas lari ke masjid pakai sarung. Eh bukan masjid tapi mushollah, karena ukurannya yang kecil. Didepan halamannya ada sumur yang tidak terpakai lagi, karena warga wudhu melalui keran air disisi belakang. Bangunan mushollah ini tampak perlu perawatan, anehnya ketika saya ingin bersedekah, dompetku terlupakan, kadang sudah bawa dompet eh kotak amalnya tidak tersedia.

Usai sholat Maghrib, kami bergegas pamitan, ke bengkel mengganti ban dan singgah makan malam diwarung yang menyediakan menu ala kadarnya. Mbay memang penghasil beras, tapi tidak begini-begini juga kaleee sampai nasinya penuh membumbung tinggi di tengah piring. Nasi soto kambing, nasi ikan, bakso, gorengan, dan Encik hanya ingin makan nasi saja, katanya dia sensitif terhadap makanan tertentu, mungkin sejenis alergi.

Tepat jam 8 malam, kami meninggalkan kota Mbay dan memasuki area menuju Riung melalui jalanan aspal yang rusak selama 45 menit dengan kecepatan 20 km/jam. Perut kiri saya perih, efek kebanyakan makan merasakan guncangan diatas motor dan ditambah ketatnya si ompret yang saya beli tadi. Hufufufuu.

Setelah itu kita melalui jalan yang lurus dan panjang, karena malam gelap tanpa penerangan jalan saya tidak begitu tahu pemandangan apa disisi jalan ini, apakah padang rumput, pegunungan, jurang atau mungkin tepian pantai. Lupakan saja mari terus berjalan….

Menjelang memasuki kampung Riung, tepat disisi hutan bakau terdapat tikungan tajam dan berpasir yang membuat Tuteh harus terjungkal dan bermanuver 180 derajat dengan motornya. Anehnya, orang yang mengalami kecelakaan harusnya meringis, ini malah tertawa terbahak-bajak dikeheningan malam. Dia merasa lucu proses jatuhnya. Memang benar lucu, saya yang kebetulan berada dibelakangnya melihat atraksinya yang luar biasa itu. Syukurlah tidak sampai terluka, dan helm-nya terbang ke semak-semak. Rolling on the floor laughing Dicatat yah, lokasi ini sering merenggut korban yang berjatuhan, tipikal jalan tikungan berpasir. Waspadalah…waspadalah…

Akhirnya jam 10 malam, kami disambut hangat Rustam pemilik Nirvana Bungalow yang dengan senang hati mau menampung kami beberapa hari secara gratis. Cuma bebersih sejenak, dan kami pun beranjak menuju bungalow yang dibagikan. Saya sekamar dengan Etchon dan Iros, walaupun tengah malam entah Iros melanglang buana ke kamar mana…Di dinginnya malam, kami harus istirahat karena esok butuh energi menjelajah pulau yang eksotis itu. ?????? Konban wa minna san – Selamat Malam semuanya –

Artikel terkait :

Seberkas Kinanti

“Assalaamu Alaikum”

“Waalaikum salam” balas sapaan seorang Ibu tua

“Pak Djoko, ada?”

“Bapak belum pulang, ada perlu apa?”

“Saya hanya mau mengembalikan ini”

SmileSmileSmile

Secangkir teh hangat, roti sisa jualan emak menemani lamunanku, di beranda rumah kayu yang atapnya sebagian bocor.

Selepas menjalani pendidikan diperantauan, terus terang saya malu kembali ke kampung, apalagi belum mendapatkan pekerjaan.

“Nak, pegang dan baca surat ini” Abah menghampiriku.

Terdiam, pikiranku melayang, berusaha mengerti maksud beliau memberikan surat ini.

Masih terdiam.

“Maaf Bah, buat saya?, dari siapa?”

Beliau pun tersenyum.

“Baca dulu suratmu, nak”

Yth. Danu,

Kamu bercita-cita menyelesaikan pendidikan kuliah dengan beasiswa dan mahir berbahasa Inggris agar bisa melanjutkan pendidikan ke luar negeri

 15 Maret 2005

Saya mulai mengingat, surat lusuh dalam sebuah amplop coklat. Waktu yang sangat jauh kebelakang untuk mengingat kembali isinya. Surat yang saya tulis sendiri, untuk diriku tujuh tahun yang lalu dan ku titipkan ke Abah.

“Nak, jangan putus asa yah dengan masa depanmu, walau Abah hanya seorang tukang becak”

“Ini ada surat titipan dari kenalan Abah”

“Pemilik sekolah bahasa di Kota, katanya sebagai ucapan terimakasih karena telah mengembalikan dompetnya yang tertinggal dibecak”

Saya membuka surat kedua. Surat beasiswa belajar bahasa Inggris.

“Bah, ini kan tempat kursus yang bagus, namanya TBI Depok”

Beliau mengajarkanku mengukir mimpi dari secarik kertas, tulisan tentang diri pribadi, kesan teman terdekat, hingga mimpiku tujuh tahun kedepan.

Abah mengajarkanku untuk tidak putus asa mengejar mimpi dari keterbatasan. Satu mimpi tercapai, memaksakan saya kembali menuliskan mimpi lainnya dalam sebuah surat untuk kinanti. Sebuah mimpi masa kini dan nanti.

Disertakan pada lomba Blog Entry bertema Inspiring and Empowering through TBI, kerja sama Blogfam dan http://www.tbi.co.id

Grass roots understanding of the experience

Mendapatkan pengalaman berharga itu, ternyata tidak mudah kawan!. Sama seperti ketika jaman sekolah dahulu, kita belajar dengan sekuat energi namun belum tahu akan dibawa kemana ilmu tersebut. Sampai suatu ketika, kita terhalang oleh tembok besar namun kaki ini ingin terus melangkah. Hanya bisa melangkah jikalau kita melewati tembok tersebut. Sekuat tenaga dan pikiran dikumpulkan untuk menemukan jalan keluar.

Ada satu cara melaluinya. Cara tersebut ternyata sesuatu yang belum pernah saya temukan sebelumnya. Inilah mungkin yang disebut inovasi oleh banyak orang. Inovasi tidak selalu bersifat ilmiah, ‘makanan’ khas orang-orang yang bergelut di bidang eksakta. Inovasi adalah hal yang memudahkan hidup.Ninja

Setelah saya berjalan semakin jauh, saya memutuskan untuk berisitirahat sejenak dan berbalik pandangan ke arah belakang. Tanpa saya sadari, jejak langkah yang hanya berupa noktah kecil yang terbentuk tidak beraturan, kini tampak samar seperti suatu jalan panjang walau berkelok.

Itulah gambaran yang terekam dalam ingatan saya, membandingkan masa kini dan masa yang akan datang. Anak kecil juga tahu, saya tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi dimasa depan. Namun saya yakin bisa menghadapi masa depan, dengan belajar dari pengalaman masa lampau, dan dari ucapan orang yang lebih tua.

Saya sadari, saya dulu pernah membantah apa yang dikatakan orang yang lebih tua bahwa perkataan mereka belum tentu benar adanya, sebelum saya betul-betul merasakan dan membandingkannya. Itulah mengapa manusia diciptakan dengan dua telinga dan satu mulut, agar kita mau lebih banyak mendengarkan dahulu, kemudian mengerti, dan barulah kita bisa berucap.

Pagi ini, saya pun menuliskan tweet yang satu ini :

setelah hampir dua tahun disini, akhirnya saya mengerti apa yang terjadi dan dirasakan orang lain, lima tahun yang lalu – linimasa ke 1993, 19 Mar 2012-

Saya mengingat kelakuan saya disuatu tempat kepada oranglain, kadang menganggapnya mereka tidak mampu melakukan suatu hal dengan baik walau sederhana. Akibat fatal-nya adalah saya pun merasa diri lebih hebat. Harap maklum, mungkin efek adrenalin masa muda.

Hingga saya pun berada di tempat dan posisi sama rata dengan orang lain tersebut. Benar, bahwa mereka bukannya tidak mampu, namun kurang motivasi dari tempat lain, kurang komunikasi, kurang dukungan, kurang didengarkan dan akhirnya masa memaksanya tampak jenuh dan cuek.

Menghadapi hal semacam ini mengajarkan saya belajar menempatkan diri sebagai objek dan mau mengerti kondisi orang lain, istilah kerennya grass root understanding.

Setelah saya merasakan sebagian suasana masa lalu dan masa kini, barulah bisa saya menyimpulkan seperti apa yang orang lain rasakan. Saya belajar untuk tidak mengeluh. Kata orang hebat, inilah bentuk pembelajaran tentang kepemimpinan yang dapat dipelajari dari pengalaman hidup. Kepemimpinan bagi diri saya sendiri.

Love story of seven years in Flores

Waktu cepat berlalu yah, masih teringat banget pertama kali menginjakkan kaki di Flores tepatnya di Kota Maumere. Berangkat lebih pagi ke Bandara Hasanuddin Makassar, bertemu rekan seperjuangan, meninggalkan orangtua di pintu depan terminal dan kami terbang menuju Bali. Transit sehari dan kembali melanjutkan penerbangan ke Maumere. Saya tidak bermodal peta atau informasi destinasi yang ada di Flores. Informasi itu sangat minim, kebanyakan ulasan media tentang gempa dan tsunami yang melanda Flores tahun 1992. Oh iya, tepat hari ini saya telah tujuh tahun bepetualang di Flores 😀

IMG_0115

Jejak langkah kesuatu impian…

Perubahan disini sangat signifikan, saya masih teringat dulu marak orang mabuk dijalan, setiap pagi menuju kantor saya tidak heran lagi melihat pecahan botol berserakan dijalan. Kini, orang mabuk dijalan tidak lagi bisa ditemukan, mereka hanya boleh mabuk diarea rumahnya saja. Kenapa masyarakat disini mudah mabuk? jawabannya sederhana, minuman khas Flores yang sebagian daerah mengenal dengan Moke atau ada juga yang menyebutnya Sofi. Miras hasil penyulingan tuak.

Telinga saya sudah familiar mendengarkan keluhan para pendatang yang ternyata jalan hidupnya membawa mereka harus merantau ke NTT. Tidak sekali dua kali, tapi sering. Saya duduk di ruang tunggu Bandara Ngurah Rai, dan pernah mendengarkan obrolan seorang laki-laki masih terlihat muda 30an tahun mungkin.

“Yah, mau bagaimana lagi…terpaksa deh…, mana disana tidak ada hiburan, bisa gila gw nih. Gw sih cuma berharap semoga ditempatkan di NTT tidak lama, paling lama dua tahun deh…Oke bro, salam yah sama teman-teman” Obrolannya di telp dengan wajah tampak tidak bahagia.

Dengar obrolan seperti itu sudah basi, udah gak jaman, begitupun ketika di lapangan tenis. ckckckck dunia anda terlalu sempit choy…mencari kebahagiaan itu bukan dilihat dari tempatnya, fasilitasnya tapi ciptakan dunia indahmu dimanapun kamu berada.

Disinilah saya banyak belajar untuk survive, saya lebih berani berpetualang ke daerah terpencil, mendaki gunung, trekking, mengemudi sendirian ditengah hutan dimalam hari, menginap di puncak pengunungan di dinginnya musim, berlayar dengan perahu kecil, merasakan serangan tiba-tiba penyakit malaria pas lagi sendirian mengemudi ditengah hutan Sad smile, mendatangi tempat yang tidak biasa, punya banyak teman, dan tingginya tingkat toleransi antar umat beragama.

Yang paling tidak bisa terbayarkan adalah rasa syukur yang saya dapatkan, menghargai hidup, pentingnya pertemanan, dan jalinan komunikasi dengan keluarga.

IMG_0122 edit

Apakah saya pernah merasa sendiri? Alhamdulilah tidak…awalnya mungkin iya karena proses adaptasi. Herannya, kemanapun saya berpindah tempat tinggal, selalu saja ada oranglain yang menganggap saya adalah bagian dari keluarga mereka. Itu yang membuat hati ini betah di NTT.

Mau sampai kapan disini? Saya tidak butuh waktu lama untuk berpikir mau pindah kemana. Pulang ke kampung halaman itu impian tapi tidak harus, tapi ketika ditantang untuk merantau ke daerah lain, Insya Allah masih siap. Tujuh tahun di NTT dengan segala keterbatasan saja, saya masih bisa hidup aman, bahagia dan tentram. Open-mouthed smile

Masih betah di NTT? Alhamdulilah sejak pertama saya kesini, kata-kata yang tidak pernah terucap sekalipun kalau ada yang bertanya demikian yaitu “Tidak”…Saya betah dimanapun saya berpijak.

Kamu tidak takut gempa, kejahatan, disana kan rawan? Kenali dirimu, kenali lingkunganmu. Bertemanlah dengan siapa saja, entah mereka preman, pemabuk, pejabat, nelayan, tua-muda, siap saja…Merekalah yang akan mengubah persepsimu tentang kehidupan, mengajarkan pengalaman dan Insya Allah jika kamu baik, oranglain akan lebih baik. Typical orang NTT yang saya kenali dan berkesan adalah kejujuran mereka. Simpanlah barang bawaanmu dipinggir jalan, cukup tutupi dengan daun pisang diatasnya dan berikan batu sebagian penahan, Insya Allah tidak akan ada yang berani mengambilnya.

Gimana dengan gempa? Setiap getaran dari gempa membuat saya sensitif, NTT adalah daerah rawan gempa dengan rangkaian gugusan gunung api. Saya bahkan sering terbangun tengah malam karena gempa, tempat tidur saya atau jendela bergetar dan sontak lompat dari tempat tidur dan keluar dari kamar. Takut? Tidak, gempa itu ibarat pengingat bahwa kematian bisa datang kapan saja dan dimana saja. Ingatlah selalu kepada Sang Pencipta dimanapun kamu berada.

Alhamdulillah akan jalan hidup yang saya tempuh selama tujuh tahun di Flores. Terimakasih buat seluruh keluarga, sobat kental bahkan kerabat terbaik saya…Saya cinta kalian Open-mouthed smile  Liburan kemana lagi kita? xixixixiix Open-mouthed smile

Fabiayyi alai rabbikuma tukaththiban

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?…QS. Ar-Rahmaan

Serpihan karang, Pantai Enabara

Masih mau mengisi weekend hanya tidurannnn seharian dikamar? atau bebersih kamar, nyuci baju mungkin…atau yang lebih tidak direkomendasikan, bekerja disaat oranglain menikmati liburan hehhehehe…Tinggalkan sejenak rutinitas, ayo liburan…lagi dan lagi…

blog1

Pantai yang bertabur serpihan karang patut jadi destinasi menarik kali ini. Berada di Kec. Maurole masih di kawasan Kabupaten Ende, jalur pantai utara menuju Maumere, Kab. Sikka. Saya menempuh perjalanan ini selama 3 jam dengan kecepatan 20 Km perjam. Parah gak tuh? bukan karena infrastruktur jalan yang rusak berlebihan tapi pengikut saya yang mabuk darat Laughing out loud. Cukup kasihan juga sih, perjalanan yang harus memberikan kesan senang, bahagia, dan senyum sumringah harus diselingi dengan kejadian tak tertuga seperti mabuk.

Lagi-lagi perjalanan liburan tidak asik jika sendirian, berangkatlah bersama teman-teman blogger Flobamora. Ada Iros, Sony, Fauwzya, Shinta, Yano, Tuteh, Armando, dan Cici.

blog6

Lupakan kata mabuk dan kita ganti dengan kata “Coklat” Winking smile…Ini tiba-tiba saja kepikiran pas mengemudi, abis pembicaraan teman-teman diperjalanan yah topik mabuk darat ini…ckckck padahal semua faktor pikiran saja, berpikiran bakalan mabuk sebelum jalan saja, itu dah bikin mual sebenarnya…coba deh ganti pemikiranmu ke hal yang positif, nikmati perjalanan, lupakan mabuknya. Kebayang gak klo saya bilang…”Roti isi Coklat”….*hoek* Sick smile Rolling on the floor laughing Kenapa harus roti, karena Armando mabuk bukan karena perjalanan tapi bau roti xixixixiix.

Waktu selama 3 jam tadi sebenarnya bisa ditempuh hanya dengan 2 jam dengan kecepatan rata-rata 60 Km/jam. Berangkat dari Ende menuju Kec. Detosoko selama tiga puluh menit dengan kecepatan 60 Km/jam sejauh 30 Km. Memasuki Detosoko akan menempuh jalur yang naik dan menurun. Detosoko salah satunya terkenal dengan tujuan wisata permandian air panas. Oke jadi jarak dari Detosoko ke Maurole itu bisa ditempuh 1.5 jam saja normalnya yah. Perjalanan yang selama itu tidak terasa dengan serunya obrolan sepanjang jalan tidak berhenti.

Kami merencanakan berangkat lebih pagi pukul 6, namun masih tidak bisa ditepati, ditambah dengan waktu tempuh yang lebih lama, alhasil menikmati moment indah pengambilan gambar sebelum jam 10 pagi tidak tercapai kali ini…cuaca menjadi sangat terik dan mata pun merasakan silau jika tidak menggunakan sunglasses.

Sepanjang perjalanan dari Detosoko ke Maurole, mata anda akan dimanjakan dengan pemandangan sawah, hutan, sungai, sapi, kampung adat, dan tentunya pantai. Saya aja tidak berhenti berkata “wow…kerennya”

Yang menarik dari Pantai Anabara adalah pemandangan indah dengan atol. Atol adalah suatu kumpulan koral yang mengelilingi sebuah laguna sebagian atau seluruhnya. Jangan heran pantai pasir putih ditutupi oleh dominasi serpihan karang, cukup baik buat pijakan refleksi disini. Open-mouthed smile

blog2

blog3

blog4

blog5

Masih ada bagian pantai ini yang tidak sempat saya nikmati di kunjungan perdana ini, yaitu laguna yang saya lihat dari puncak bukit. Laguna adalah sekumpulan air asin yang terpisah laut oleh penghalang berupa pasir, batu karang atau semacamnya. Jadi, air yang tertutup di belakang gugusan karang  atau di dalam atol disebut laguna.

blog7

sekali lagi…NTT itu indah kawan, dan siapkan ‘amunisimu’ karena Insya Allah diberikan kita akan kesini lagi deh dan menjelajahi sudut lain NTT. Laughing out loud